Perihal Membaca Puisi (2): Bersiap Berangkat


Catatan: Sajak Wallace Stevens dan Walt Whitman tidak dicantumkan dalam tulisan aslinya. Untuk terjemahan ini saya menambahkannya, agar pembaca langsung bisa menangkap konteks pengutipan oleh penulis. 


Oleh Edward Hirsch

MEMBACA puisi adalah beranjak dari yang sudah tak asing lagi, lalu berangkat pergi tanpa apa-apa, meninggalkan-meniadakan seluruh harapan.

Pembaca puisi adalah semacam peziarah yang berangkat, memulai perjalanan. Pembaca adalah apa yang oleh Wallace Stevens disebut dalam sajaknya The Auroras of Autumn” – bagian ke-6, bait ke-7 dan ke-8, sebagai “cendekia dengan sebatang lilin”

Ini bukan apa-apa hingga pada seorang terkandung,
tidak ada apa-apa hingga yang bernama hilang nama
dan hancur. Dan dia membuka pintu rumahnya

Dalam nyala. Cendekia dengan sebatang lilin melihat
kilau Arktik yang berkobaran di atas bingkai
segala sesuatu tentangnya. Dan dia dicekam takut.

Membaca puisi adalah sebuah petualangan mencari pembaharuan, tindak kreatif, awal yang kelak kekal, sebuah keajaiban yang lahir kembali.

“Permulaan bukan hanya sejenis tindakan,” tulis Edward Said dalam “Beginning”, “itu juga berarti kerangka pemikiran, semacam kerja, sikap, kesadaran.”

Saya menyukai itu: kerangka berpikir, kerja yang menyenangkan, pekerjaan yang penuh kesenangan, sebentuk kesadaran – penerawangan sepenuh perhatian – yang datang dari tindak membaca puisi.

Membaca adalah titik tolak, sebuah pengukuhan, sebuah inisiasi. Coba buka Deathbed Edition of Leaves of Grass (1891-1892) dan Anda segera menemukan serangkaian “Prasasti,” dua puluh enam puisi yang ditulis Walt Whitman selama tiga dekade penulisan awalnya, puisi yang mengenalkan dan kemudian memahatkan karya utamanya, satu (hanya satu) buku yang ia tulis – dan ia tulis ulang –  sepanjang hidupnya.

Ketika memulai menulis buku saya ini, buku tentang risiko dan tantangan, pesona khusus, dari membaca puisi, saya terus-menerus memikirkan Beginning My Studies”, puisi enam baris Whitman itu:

MEMULAI penulisanku, langkah mula, senangkan senang senangnya
Segala nyata, sesadar ada – bentuk dan rupa  – gerak tenaga,
Sedikit serangga atau satwa – sentuh segala indera;
Langkah mula, kukatakan lagi, menggirang-senangkan aku sebegitu rupa,
Aku tidak pernah pergi, dan tak pernah ingin pergi, jauh lebih dari sini,
Tapi berhentilah berkeliaran di sepanjang hidupku, mari menyanyikannya
dalam lagu-lagu  merasuk-jiwa.


Baca juga: Perihal Membaca Puisi (1): Ke Jantung Kota

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s