Mark Yakich: 20 Strategi Membaca Puisi

Oleh Mark Yakich

KETIKA sekali dua kali berhadapan dengan sebuah puisi, kebanyakan orang bingung.  Ketika membaca puisi, secara intelektual atau emosional, seringkali kita dibikin lumpuh dan angkat tangan, padahal sesungguhnya puisi juga bisa menggerakkan kita.

mark
Mark Yakich

Puisi memang tak jago memasarkan dirinya sendiri, kecuali ketika dipatronkan oleh para pesohor, digubah menjadi musik, diperkaya dengan visual, atau kita membacanya karena anak kita sendiri yang menuliskannya.

Semua gambaran kacau-balau itu membuat puisi tampak seolah-olah hanya diperlakukan sebagai karya seni yang senyap. Seperti seni murni: kita seperti diperingatkan, okelah, dengarkan saja puisi itu, tapi jangan terlalu dekat, dan jangan coba-coba menentuhnya. Jangan masuki wilayah angker itu!

Nah, bagaimana jika ternyata keangkeran puisi itu sesungguhnya tidak angker-angker amat? Bagaimana jika kerikuhan kita sebagai pembaca di hadapan teks puisi sebenarnya adalah benih niat baik dari sebuah maksud baik kita tapi kita tak menemukan cara yang tepat untuk membacanya?

Nah, inilah 20 usulan sederhana sebagai bahan memikirkan kembali tindakan membaca sebuah puisi.

1. Buang pikiran bahwa membaca puisi akan mengubah hidup kita secara dramatis. Nyatanya, hidup kita terus berubah. Sebagian besar dari kita tak sempat memperhatikan perubahan itu. Dan puisi meminta kita untuk memperhatikan perubahan itu. Itu saja!

2. Saat Anda membaca sebuah puisi, terutama puisi yang tidak ditulis untuk dilisankan, bacalah dengan nyaring. Atau setidaknya hingga kita bisa mendengar suara kita sendiri. Kenapa? Karena telinga kita akan menyerap lebih banyak dari yang diperkenankan oleh pikiran kita. Artinya, dari apa yang ia dengar, telinga kita akan memberi tahu otak tentang apa yang harus dipikirkan.

3. Cobalah untuk memasuki dunia sebuah puisi yang jauh dari dunia pribdi kita. Jika kita harus “terhubung” lebih dahulu dengan sebuah puisi untuk memahaminya, berarti kita belum cukup dekat membacanya. Dengan kata lain, jangan mencoba memasukkan puisi itu ke dalam hidup kita. Cobalah untuk melihat apa yang semesta seperti apa yang melingkupi puisi itu. Nah, jika kita beruntung, maka dunia puisi itu akan membantu Anda melihat dunia kita sendiri.

4. Sadar atau tidak, kita selalu mencari alasan untuk berhenti membaca puisi dan beralih ke puisi lain atau melakukan sesuatu yang lain sama sekali. Tahan dorongan ini sebisa mungkin. Anggap saja saat membaca sebuh puisi, kita adalah Buddha yang diganggu nyamuk sialan. Nyamuk, seperti sajak, mungkin menjengkelkan, tapi tidak akan membunuh kita kok, kalau kita berani untuk bertahan sedikit lebih lama lagi.

5. Orang akan mengatakan kepada kita bahwa ada dua jenis puisi: “puisi yang mudah diakses” yang maksud dan maknanya mudah untuk diapresiasi, dan “puisi yang tidak jelas” yang maksud dan maknanya sulit untuk diapresiasi. Terserah kita, mau yang mana? Tergantung pada seberapa keras kita ingin “bekerja”.

6. Jika dalam puisi ada satu kata yang kita tahu maknanya, bukalah kamus, kalau malas mencarinya, ya sudah, pergi ke kuburan saja.

7. Puisi tidak dapat diparafrasekan. Sebenarnya, potensi terbesar puisi terletak pada kebalikan dari parafrase: ambiguitas. Ambiguitas adalah pusat dari apa yang menjadi nilai-nilai kemanusiaan. Kita benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi dari waktu ke waktu, tapi kita harus bertindak seolah-olah kita tahu.

8. Sebuah puisi tidak memiliki arti tersembunyi, hanya “makna” yang belum Anda sadari ada tepat di depan kita. Membedakan seluk-beluk itu membutuhkan latihan. Membaca puisi adalah sebuah konvensi seperti yang lainnya. Dan kita harus mempelajari peraturannya, seperti hal lainnya – misalnya, meyetgir mobil atau bikin kue.

9. Sesulit kedengarannya, pisahkan penyair dari sang pembicara di dalam sebuah puisi. Seorang penyair selalu mengenakan topeng (persona) meski dia tidak mencoba memakai topeng, sehingga jika kita menyamakan penyair dan pembicara itu artinya kita mengasingkan puisi itu kekuatan imajinatif yang hadir di luar kehidupannya yang dihidupkannya.

10. Bila kita menemukan sesuatu yang tampak “ironis,” pastikan itu bukan sekadar sarkasme pembicara atau ketidakpercayaan kita sendiri.

11. “Membaca untuk kesenangan” menyiratkan ada “membaca untuk ketidaksenangan” atau “membaca untuk rasa sakit.” Semua pembacaan harus menyenangkan: Seperti seks, itu menyenangkan pada tingkat yang lebih besar atau lebih rendah, namun pada akhirnya kesenangan bukanlah satu-satunya tujuan.

12. Sebuah puisi bisa terasa seperti brankas yang terkunci, dan tentu saja ada kombinasi tersembunyi untuk membukanya. Artinya, tidak apa-apa jika kita tidak mengerti sebuah puisi. Terkadang dibutuhkan puluhan pembacaan untuk sampai pada pemahaman sekecil apa pun. Dan terkadang pemahaman tidak pernah datang. Sama halnya dengan hidup: keajaiban dan kebingungan datang silih berganti.

13. Tulis marginalia. Bikin catatan pinggir. Membaca buku tanpa membuat catatan di ruang kosong di pinggirnya seperti berjalan tanpa menggerakkan lengan. Bisa dan kita pasti akan mencapai tujuan kita, tapi kit akan merasa kehilangan sesuatu yang penting dari aktivitas ini.

14. Tidak ada yang benar-benar hilang jika kita membaca sebuah puisi. Ya, jika kita tidak mengerti puisi itu, kita akan kehilangan sedikit waktu atau energi. Sebaliknya, ada banyak keuntungan – sebuah pemikiran baru, pikiran lama jadi terlihat baru, atau ada sensasi ketika kita sesaat terpisah dari semua momen terstruktur lainnya yang melintas waktu kita. Cobalah untuk melihat apa yang tercipta dari dunia puisi itu. Jika itu kita lakukan maka, jika kita beruntung, dunia puisi itu akan membantu kita melihat dunia kita sendiri.

15. Puisi tergantung pada pola dan variasi – bahkan puisi non-linear, non-naratif, anti-puitis sekalipun. Dengan memahami pola dan variasi pada pola-pola itu, otak kita akan berusaha membuat ketertiban dari kekacauan yang nyata. Cobalah, “gamelan”, “kecebong” dan “keadilan”, apa ada hubungannya? Tidak ada hubungannya satu sama lain, namun jika itu ada dalam satu puisi, maka otak kita segera mencoba untuk menyusun satu makna, karena kata-kata itu ada di sana untuk dipahami.

16. Seiring meningkatnya kemampuan kita membaca puisi, kemampuan kita untuk membaca berita, novel, surat kabar, iklan, dll, juga berkembang. Sebuah poster Starbucks beberapa tahun yang lalu berbunyi: Teman seperti kepingan salju … masing-masing unik. Betapa benarnya. Tapi bukankah salju juga dingin dan fana? Mari berharaplah teman kita tidak seperti salju itu.

17. Membaca puisi bukan cuma soal membaca puisi. Dugaan stilisasi hermetis pada sintaksis dan diksi, puisi memperkaya kepedulian kita akan dunia, bahkan untuk hal-hal yang tidak berhubungan langsung dengan kata-kata. Gaun, bangunan, langit malam – semuanya melibatkan sistem pengenalan pola dan ekstrapolasi.

18. Saat terbaik membaca puisi mungkin ketika masih muda, cerdas, dan mungkins saat sedikit mabuk. Tidak diragukan lagi, bahwa membaca puisi di usia tua bisa membangkitakan perasaan harusnya dulu kita membaca lebih banyak puisi di masa muda.

19. Suatu hari, ketika semua harta benda kita tampaknya telah melepaskan utilitas mereka dan hanya menjadi hambatan ketika kita pergi ke toilet, puisi juga akan tetap bermakna. Mereka adalah kamar yang menempati semacam kamar kecil. Sebuah puisi kita hafal, atau satu-dua larik, menjadi bagian perhiasan internal dan sebagian keterampilan menyelamatkan kehidupan, seperti mengetahui bagaimana memasang borgol di tangan perampok atau cara terbaik untuk memotong mangga tanpa mengiris tangan kita.

20. Membaca puisi yang baik tidak memberi kita sesuatu untuk dibicarakan. Justru itu membuat kita terdiam bungkam. Membaca puisi besar mendorong kita lebih jauh lagi, dia mempersiapkan kita untuk kesunyian yang menggentarkan kita semua: kematian.


Sumber: Mark Yakich, Reading a Poem: 20 Strategies, The Atlantic, 2 November 2014.

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

3 pemikiran pada “Mark Yakich: 20 Strategi Membaca Puisi

  1. Strategi yang patut dibaca, khususnya untuk diri saya, sebagai orang yang baru belajar membaca puisi.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s