Intikata, Misterikata, Namakata

Oleh Hasan Aspahani

TAK ada pilihan. Bila kita ingin menulis puisi dengan baik, kita harus sangat mengenal kata-kata dalam bahasa kita. Chairil Anwar bahkan lebih jauh lagi, dia ingin mencapai inti kata.

“Prosaku, puisiku juga, dalamnya tiap kata akan kugali-korek sedalamnya, hingga ke kernwoord, ke kernbeeld,” ujarnya dalam kartu pos, bertanggal 8 Maret 1944 yang ia kirim kepada H.B. Jassin.

Sebelum menggali, tentu kita harus mengenal dulu sebaik-baiknya apa yang hendak kita korek itu.

Mencapai inti kata berarti juga mengenali dengan baik makna kata. Dan untuk itu sedapatnya melacak asal kata. Juga mengetahui bahwa tidak hanya memiliki makna, makna kata pun berelasi. Ada relasi antarmakna kata yang bentuknya macam-macam. Hubungan antarkata dan antarmakna kata itu tentu saja bisa dimanfaatkan untuk mencapai puisi yang bermutu.

Ada relasi makna yang disebut “homonimi” yaitu bila tulisan dan lafalannya sama, tetapi maknanya berbeda. Contohnya, “bisa” yang berarti “mampu”, “dapat, atau “boleh”, dan “bisa” yang berarti “racun ular”.

“Buku” yang berarti  benda tempat menulis atau benda bermuatan tulisan berhomonimi dengan “buku” yang  buhul atau bagian antara ruas pada tumbuhan tebu atau bambu.

Bila tulisan sama tetapi lafalnya berbeda, dan tentu maknanya juga berbeda disebut “homograf”. Bila tulisannya beda tetapi dilafalkan sama dan tentu maknanya berbeda disebut “homofon”. Ada “polisemi” yaitu kata atau frasa yang memiliki beberapa makna yang berhubungan. Ada “sinonimi” yaitu dua kata yang berbeda tetapi memiliki makna yang serupa atau hampir sama, misalnya “potlot” dan “pensil”. Ada istilah “antonimi” atau “oposisi” yaitu dua kata yang berlawanan maknanya.

Ada pula hubungan dua kata yang disebut “hiponimi”, satu kata memiliki makna spesifik, makna itu diliput oleh makna kata lain yang lebih generik. Seperti hubungan antara kata “sastra” dan “puisi”. Puisi adalah bagian dari sastra. Puisi adalah salah satu genre sastra. Puisi berhiponimi dengan sastra.

Lalu bagaimana hubungan antara kata “puisi” dengan “bait”? Atau “baris”? “Bait” dan “baris” adalah bagian dari “puisi”. Tetapi keduanya bukan makna spesifik dari “puisi”, dan “puisi” bukanlah makna generik dari keduanya. Kata “baris” bisa berarti lain di luar pengertian puisi.  Relasi makna yang demikian disebut “meronimi”.

Memahami makna kata, juga berarti menyadari bahwa makna kata itu berkembang. Dia bergerak. Meski dengan gerak yang amat perlahan. Makna kata – disengaja atau tidak, dengan tujuan apapun – kadang digeser, dibungkus, disakralkan, dan bahkan diberi beban moral. Kelompok-kelompok pemakai bahasa tertentu kadang suka membuat kesepakatan bersama untuk kalangan mereka sendiri. Mereka menciptakan istilah baru, kata baru, atau cara mengucapkan kata tertentu yang khas yang mereka nikmati mula-mula untuk komunikasi di kalangan mereka sendiri. Sesekali apa yang disepakati di kalangan terbatas itu keluar, juga menjadi kesepakatan pemakai bahasa di luar kelompok mereka.

Penyair boleh ambil posisi sebagai pencipta atau pengusul kesepakatan baru itu. Penyair yang paham makna kata, seperti disarankan penyair Sutardji Calzoum Bachri, ada baiknya kalau ia bisa memanfaatkan (menciptakan) misteri kata-kata untuk menampilkan misteri kehidupan sehari-hari.

“Atau menggabungkan misteri kata-kata dengan misteri kehidupan. Dengan demikian kehidupan yang sering mengandung Puisi dengan P kapital itu bisa terasa hunjaman kedalaman maknanya lewat kata-kata puisi dari seorang penyair,” kata Sutardji dalam sebuah esainya.

Dalam puisi, kata dan gambaran mental benda atau peristiwa yang diwakilinya boleh dimainkan jaraknya. Jarak itu boleh dijauhkan, didekatkan, didekatkan ke benda lain atau diputuskan sama sekali. Tubuh, ranjang, kuburan, celana, oleh penyair Joko Pinurbo dalam puisi-puisinya bisa tampil atau terbaca tidak lagi sebagaimana tubuh, ranjang, kuburan, dan celana biasa. Penyair telah meluaskan makna kata-kata itu untuk keperluan sajak-sajaknya, dia berhasil memanfaatkan dan sekaligus menciptakan misteri kata-kata, dan hasil dari upayanya adalah berbagai pertanyaan tentang misteri hidup manusia – bukan hanya hidup si penyair sendiri – terjawab.

Jika penyair berhasil menciptakan misteri kata, maka pembaca akan tertarik dan tertantang untuk menikmati ketegangan, masuk ke dalam misteri itu, menjelajah ke dalam puisi itu dan menebak-nebak pertanyaan demi pertanyaan yang muncul dari padanya.

Tetapi, Joko Pinurbo pada saat yang bersamaan juga membuat kata-kata dalam sajaknya itu akrab bersama kita. Kata-kata itu tidak menjadi asing, tidak menjauh. Dia berhasil mengajak kata-kata yang akrab dengan kita, dia berhasil membuat kata menjadi akrab. Mungkin ini yang disebut penyair Sutardji Calzoum Bachri sebagai nama akrab kata-kata. Dia mengimbaua atau memberi semacam nasihat yang perlu dikerjakan siebagai pekerjaan rumah sebagai penyair: Carilah nama kata. Carilah nama akrab kata-kata!

Jika penyair telah menemukan nama akrab kata-kata, kita kutip lagi Sutardji, para pembacanya akan merasa mudah terpanggil untuk berada di dalam keluarga nilai-nilai akrab dan segar dari kemanusiaan yang akan membawanya meninggi dan menukik dalam pada kecerahan kehidupan.

Kepada para ahli bahasa, penyair harus berterima kasih karena lewat kajian linguistik, bahasa bisa dengan mudah diakrabi selok-beloknya dan relung-tikungnya. Penyair, atau pengguna bahasa manapun, tentu boleh memakai hasil kajian itu, teori-teori bahasa itu untuk mengakrabi bahasa, mengenal kata-kata, mengorek kata sampai ke intinya, memanfaat atau menciptakan misteri kata, dan mengenali nama kata. Dengan demikian puisi akan menjadi permainan yang terus mengasyikkan. Dengan demikian, puisi punya alasan untuk terus dituliskan. Dengan demikian, kehidupan akan terus bisa dimaknai, dirayakan, dan diberi jawaban pada pertanyaannya.

 

Bacaan:
1. Bachri, Sutardji Calzoum, 2001, “Gelak Esai dan Ombak Sajak Anno 2001”, hal 10, Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
2. Anwar, Chairil. “Aku Ini Binatang Jalang”. Hal. 95. Cetakan ke-8. 2000. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
3. Darmojuwono, Setiawati, “Semantik” Kushartanti, Untung Yuwono, Multamania RMT Lauder (Editor). 2005. “Pesona Bahasa, Langkah Awal Memahami Linguistik”. Hal. 114-122. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s