Komentar Seorang Teman Setelah Membaca Puisiku

KAU perancang busana. Puisimu kau ciptakan untuk para model bertubuh sempurna. Aku tak akan pernah memakai puisimu seperti para model yang melenggok di panggung estetikamu. Mereka tidak bodoh, tapi tak perlu berpikir untuk mengenakan puisimu. Puisimu penuh renda, sulam, dan pernak-pernik yang tak perlu. Kau menutup dan membiarkan terbuka bagian-bagian tubuh model-model itu dengan puisimu, menyempurnakan tubuh mereka. Orang memuja pakaianmu. Melupakan siapa model-model itu. Model-model itu memakai busana rancangan siapa saja, bukan hanya puisimu. Puisimu menanggung konsep yang kau bilang menyesuaikan dengan pergantian musim yang di negerimu tak pernah ada. Aku juga tak perlu berpikir ketika mengenakan pakaianku. Aku tak bisa memakai puisimu sebagai pakaianku. Aku tidak berjalan di panggung peragaan busana yang tak menyampaikan aku kemana-mana itu. Sekadar melenggang sebentar, berputar-putar, lalu kembali ke balik panggung. Sesekali aku memang datang ke peragaan busana, koleksi terbaru karya-karyamu. Tapi aku selalu diam-diam keluar, pergi dari ruang terang-benderang tapi tak banyak yang bisa kulihat itu. Aku berpikir apakah lebih baik jika para pemeraga puisimu itu tak memakai apa-apa. Tapi, jika memang begitu, lantas apa keterlibatanmu pada tubuh mereka?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s