Anak Kampus Rakyat

AKU pernah dengan bangga, menyebut diri sebagai anak kampus rakyat karena hanya itu alamat yang kupunya di kota yang suka menghapus jejakku dengan hujan-hujannya yang sangat rajin, yang tak jelas musimnya ini.

Di kota ini aku punya seorang teman baik, yang selalu menyediakan payung untukku. Dia kesal, karena payungnya kupinjamkan pada seorang bocah yang mengaku tidak lagi sekolah, dan bocah itu meminjami aku hujan, serta sedikit batuk dan masuk angin. Teman baikku itu, lalu memberi aku payung yang lain.

Kampus rakyat adalah rumahku. Jalan-jalannya adalah halamanku. Ruang senat, atau sekretariat himpunan mahasiswa adalah kamarku. Ke alamat inilah tertuju wesel (yang selalu terlambat) dan surat (yang isinya selalu sama: maaf, hanya ini dan baru sekarang Bapak bisa mengirim uang. Kelapa kita semakin tua).

Ya, aku pernah menjadi anak kampus rakyat, alamat yang tak ingin lekas kutinggalkan, tapi aku harus secepatnya pergi dari sana. Kata dosen pembimbing akademikku: jangan lama-lama jadi beban negara, SPP yang kau bayar tak cukup, dan itu harus ditutupi dengan subsidi anggaran, cepatlah lulus, jadilah pegawai yang baik di kantor besar bernama Indonesia, dan jangan mengeluhkan gaji yang tak merata.

Aku lulus, akhirnya, dengan IP dua koma, dan menemukan alamatku ada di mana-mana, di tempat aku bertemu rakyat, yang marah, yang kecewa, yang hanya boleh bicara ketika suara mereka ingin dibeli oleh para tengkulak, atas nama negara.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s