Sajak yang Ihsan

Banyak sahabat yang menulis puisi untuk saya. Tapi, sajak ini beda. Bersama penyairnya kami berkongsi masa lalu, kenangan yang sama, dan tempat-tempat yang sama, di masa lalu. Nun, di kampung kami dulu…

Khalish Abniswarin

hasan-aspahani1-fyusuf-bw: untuk Hasan Aspahani

Awalnya adalah kata yang tunduk pada kaidah. Lalu ia hinggapkan sayap
Menyerap madu yang memberi makna lebih dari sekedar ludah.
Ia penyumbang dengung kepada fakir lembah. Gumam indah, idgham bigunnah.

Ia adalah kata yang menumpang sayap lebah. Mengungsi ke kota yang jauh dari kampungnya untuk menerjemahkan kata yang paling ia cintai.
Sajak yang kelak ia sujudkan ke bibirmu.

Ia adalah kata-kata yang tak hendak tua
Di lanjung yang membebani pundak seorang abah
Meski ia rindu, tetap menjadi bunga untuk bisa layu
Di rahim dari seorang yang tak sekedar perempuan.

Ia sajak yang gugup menahan gempa. Kata yang rindu rendah hati ketika ia dipaksa berdiri
Gegap dan gempar mimbar-mimbar tinggi.

Ia mengamanahkan padaku dua buku puisi.
Ia titipkan pesan. Tak usah menjadi Hasan.
Jadilah kau sajak yang ihsan.

Lihat pos aslinya

Iklan

2 pemikiran pada “Sajak yang Ihsan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s