Tujuh Tipe Ambiguitas William Empson

BENAR belaka. Karya sastra yang baik melahirkan kritik yang baik, melahirkan kritikus, bahkan melahirkan teori kritik itu sendiri.

Di Indonesia, situasi itu bisa kita lihat bagaimana Chairil Anwar dengan puisi-puisinya melahirkan sosok kritikus HB Jassin. Hal  ini juga pernah disinyalir oleh Sapardi Djoko Damono tentang lingkaran setan: karya sastra yang buruk melahirkan kritik yang buruk. Kritik yang buruk melahirkan karya sastra yang buruk.

Tapi tulisan ini ingin bicara soal lain.  Tentang lahirnya sebuah teori kritik.

Setelah membaca dengan teliti dan menganalisa dengan dalam, masuk jauh ke dalam teks puisi, antara lain dengan menyelami puisi-puisi Shakespeare, penyair dan kritikus William Empson (1906-1984) menuliskan teorinya yang kemudian terkenal: Tujuh Tipe Ambiugitas (terbit pertamakali pada 1930). Teorinya kelak menjadi dasar The New Criticism.

Tujuan Empson dengan alat analisanya itu bukan menemukan makna yang “benar” dari sebuah teks puisi, tapi menjelajah kemungkinan meluaskan dan menemukan makna alternatif (alternate), makna ganda (multiple), dan makna yang berkelanjutan  beriringan” (simultaneous).

Apakah ambiguitas itu? Ambiguitas Empson adalah: sebuah pengertian yang meluas yang merujuk pada nuansa verbal apapun, setipis apapun itu, tetapi memberi ruang untuk tanggapan alternatif pada sebuah satuan bahasa yang sama.

Tujuh tipe ambiguitas itu adalah:

Pertama, metafora, yang hadir ketika sebuah kata atau konstruksi gramatikal efektif bekerja dalam beberapa jalur pemaknaan dalam sekali jalan.

Kedua, terjadi ketika dua atau tiga makna bergerak menuju pada satu makna yang sama. Empson menjelaskan hal ini terjadi pada teks puisi yang menggunakan dua metafora yang berbeda dalam satu pengucapan.

Ketiga, dua ide yang dihubungkan lewat sebuah konteks, dibangun lewat sebuah kata yang digunakan secara simultan. Ambiguitas jenis ini terbangun ketika dua makna yang tak berhubungan, seperti dalam permainan kata, yang memperluas makna, atau seperti dalam alegori, di mana rujukan diciptakan untuk lebih dari satu “tataran semesta wacana” (‘universe of discourse’).

Keempat, ambiguitas yang terjadi ketika dua atau lebih makna yang saling bertentangan tapi tetap dihadirkan bersamaan untuk menyatakan kerumitan pemikiran sang pengarang.

Kelima, ambiguitas yang tampak ketika pengarang menemukan ide di tengah proses menulis, misalnya simile yang tiba-tiba ada di antara dua pernyataan yang ditulis pengarang.

Keenam, ambiguitas yang terjadi ketika sebuah pernyatan itu sendiri tak punya makna apa-apa atau mengandung makna yang saling bertentangan yang akhirnya memaksa pembaca memberikan interpretasinya sendiri.

Ketujuh, ambiguitas yang menandai adanya wilayah yang secara fundamental sangat berbeda hadir dalam pikiran penulis. Misalnya terbaca ketika ada dua kata yang dihadirkan penulis yang konteknya berlawanan. (Diterjemahkan dari berbagai sumber)

 

Catatan: koreksi pada kata yang dicoret berasal dari  kawan saya, seorang narablog tanah air yang istikomah: Wawan Eko Yulianto,  pengampu blog TIMBALANING.

Iklan

5 pemikiran pada “Tujuh Tipe Ambiguitas William Empson

  1. Terima kasih undangannya ke sini. Saya sendiri tidak ingat pernah membaca soal ini. Waktu baca “New Criticism,” kayaknya perhatian saya dulu lebih terfokus ke yg lain-lain, seperti Brooks, Wimsatt, atau Beardsley. 🙂 Jadi, terima kasih lagi.

    Soal isinya, saya ingin memastikan soal dua makna yang alternate (menggantikan), multiple (berganda) dan simultaneous (yg mestinya “beriringan”). Apa dari contoh2nya di situ yg dimaksud “berkelanjutan” atau “beriringan”?

    Soal “universe of discourse,” mungkin lebih tepat lagi kalau diberi padanan “semesta.” Di sini “universe of discourse” maksudnya satu wilayah dengan batas-batasannya (kayak penggunaan istilah “wacana” oleh Foucault atau Edward Said. Jadi, kalau masih dalam satu semesta wacana, dua hal yg seolah-olah berbeda masih bisa dimaknai hubungannya. Istilah “tataran wacana” (yg seringkali negatif) kan biasanya dipakai untuk tujuan membandingkannya dengan “tataran praktis” (contohnya di kata “ah, itu kan di tataran wacana”). Istilah “tataran wacana” ini ada kritiknya tersendiri, tapi tidak perlu kita bahas di sini :D.

    Trims!

    Suka

    1. Terima kasih, Bung Wawan Asli… Inilah faedahnya punya kawan dosen… hehe.. Jadi saya berutang sebuah pertemuan yang asoi, sebagai hadiah pertemanan kita yang sekian tahun dari blog ke blog…

      Masukan saya pakai sebagai bahan koreksi…

      Suka

      1. Kapan ya kita bisa ketemu di mana? Tapi, yang namanya jodoh, tak ketemu pun diskusi juga. 🙂

        Sejujurnya, profesi kayaknya tidak terlalu berpengaruh urusan puisi atau kritik puisi. Saya yakin nggak sedikit dosen maha raksasa yg gentar juga gentar lihat militansi Bang Jurubaca ini. Dengan catatan mereka sempat baca postingan-postingan ini.

        Salaam!

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s