Office Boy di Kantor yang Bertetangga dengan Neraka

Catatan untuk Buku “Sujud Sebelas Bintang” Karya Khalish Abniswarin

SETIAP puisi, sebaiknya, ditulis dengan niat sebagai sebuah tawaran dialog. Teks puisi bukan sabda, bukan khotbah, bukan fatwa, juga bukan semacam juknis atau juklak untuk menyelenggarakan sesuatu.

puisi
Khalish Abniswarin (foto: BNB News)

Penyair, dengan puisinya, membuka dan menawarkan diri untuk sebuah percakapan. Jika tawarannya menarik, maka pembaca akan dengan suka rela melibatkan diri dengan percakapan itu.

Jika apa yang dia tawarkan sedemikian luas cakupannya, maka pembaca dengan senang hati memungut itu menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya sendiri. Puisi dengan demikian bisa menjadi solusi atas suatu persoalan, tapi bukan itu tujuan penyair menuliskan puisinya.

Dalam puisi, oleh penyair yang menuliskannya, dimuatkan makna baru pada hal-hal yang selama ini tertatih menanggung beban yang rutin, atau mengingatkan pada hal terlupakan.

Puisi adalah bahan dialog, ia juga hasil dialog sang penyair dengan dirinya sendirinya, dengan nilai-nilai yang dianutnya, dengan hal-ihwal yang mencuri perhatiannya, dengan masa lalu yang dikenangnya, masa kini yang diperhitungkannya, dan masa depan yang dicemaskannya.

Itulah hal-hal yang ingin saya rangkum setelah membaca serangkaian sajak penyair Khalish Abniswarin dalam buku sulungnya “Sujud Sebelas Bintang” (Lokomoteks, 2016).

Sebagai seorang pembaca saya senang menyambut ajakan dialog sajak-sajak penyair dari Handil Baru, Kecamatan Samboja, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur ini.  Saya setuju pada banyak makna baru yang ia usulkan. Saya suka dengan cara dia mengucapkan hal-hal lama dengan caranya, cara yang tampaknya sederhana dan tak selalu baru, tapi senantiasa terasa menyegarkan.

Sajak ini misalnya:

Aku ingin mengubah sekolah kita menjadi kebun binatang
Dan berpura-pura menjadi gorilla
Karena cintaku memang tak pernah monyet padamu

Sejak putih abu-abu
Aku tak pernah berhasil menyuap seorang guru
Untuk mencari kata yang baru
Sebagai pengganti kata yang kerap gagap
dan gagal ucap itu

(Pertanyaan Konyol Tentang Masa Lalu, hal. 111)

Ini sajak sederhana tentang cinta monyet ketika SMA.  Sebagian besar rakyat di negeri ini bisa dipastikan pernah dilanda perasaan itu.  Bahan remeh dan receh itu, oleh Khalish ternyata bisa diolah menjadi sesuatu yang menarik.  Cinta monyet, adalah idiom jamak, mungkin sebuah metafora mati, yang akan jadi klise yang membosankan jika dipungut begitu saja.  Sebagai penyair Khalish lantas mengolah idiom itu, membongkar dan menghidupkannya, tidak perlu dengan cara yang rumit dan sok canggih. Ia dengan jeli hanya menempuh sedikit jalan memutar lalu menemukan cara ucap dan pengucapan yang baru. Begitulah seharusnya seorang penyair bekerja.  Ia jeli mengamati perasaannya sendiri, lalu cermat menggali dan mengolah kemungkinan yang laten yang dikandung oleh bahasa.  Ia bekerja dengan imajinasi yang lincah, yang bergerak ke hulu masa lalu, dan dalam hidup yang bercabang banyak ini ternyata, oh, juga bergerak untuk kemudian sampai ke banyak sekali muara.

Ini muara lain dari sajak Khalish:

Temanku itu masih belia. Dia tak terlalu menguasai banyak
teori. Ijazahnya juga belum sempat terlalu tinggi. Dia ha-
nya mengerti jika ada yang terlanjur kotor maka tugasnya
membuat semua bersih kembali.
Temanku itu tidak terlalu faham ayat suci. Kitab fikih yang
selalu diawali dengan pasal bersuci.
Tapi dia mahir sekali membaca isyarat debu di kusam kaca.
Dengan fasih ia mengilapkannya seperti bayi tanpa dosa.
Temanku itu office boy di sebuah kantor yang kata orang
bertetangga dengan neraka.

(Tahukah Engkau Pekerjaan Paling Bersih di Dunia?, hal. 45)

Sajak ini bisa mewakili banyak sajak Khalish yang lain, sajak-sajak dengan religiositas yang tak menjadi khotbah yang dogmatis. Sajak ini  dengan cara yang menyenangkan, bahkan jenaka, mengingatkan saya pada banyak hadist. Bahwa pemuda yang teguh beribadah adalah kaum yang lebih disenangi Rasulullah, bahwa amalan yang kecil saja, tapi yang terus-menerus diamalkan lebih disukai Rasulullah, bahwa untuk beribadah itu memang kita perlu ilmunya, tapi tak perlu menunggu berilmu tinggi lebih dahulu baru kemudian menjadi ahli ibadah.  Dan untuk itu semua kelak apalagi ganjarannya jika bukan surga, yang disajak ini oleh penyair kita disebut sebagai: sebuah kantor yang kata orang bertetangga dengan neraka.

Khalish akrab dengan istilah-istilah agama Islam, sebab ia menempuh pendidikan di IAIN.  Ia fasih memakai diksi: dhuha, saf,  Ibrahim, sujud, Shafa, Marwa, Zam-zam, Adam,  Hawa, Mahsyar, hingga dzikir.  Keakraban dan kefasihan itu ia manfaatkan benar – dan menjadi kekuatan dan kelainan – dalam sajak-sajaknya.

Jika memakai teori linguistik Sausure, puisi-puisi Khalis adalah parole yang berhasil dibangun olehnya, sebagai hasil tawar-menawar bolak-balik dengan langue, sistem bahasa yang sempurna itu.  Menyair, dengan demikian, adalah semacam isra-mikraj-nya penyair ke Sidratul Muntaha bahasa.

Pada dasarnya Khalish adalah seorang yang religius.  Religiositaslah yang menjadi pijakan seluruh bangunan sajaknya.  Tetapi, sebagaimana dijelaskan di atas, ia sadar bahwa sajak bukan mimbar khotbah. Ia tahu benar bahwa sajak adalah medium seni mencari cara ucap, dan itulah yang asyik ia garap.  Religiositas itulah yang menjadi magma dalam gunung berapi penyair Khalis yang ia carikan (atau ia ciptakan) retakan agar menyembur keluar.

Sajak ini bisa jadi contoh, bagaimana magma itu menemukan retakan, melava:

Kepada perempuan penjaja malam.
Lelaki hanya bisa menggelang pelan.
Memacu gegas sebelum rayu makin giur, makin ganas.

Ini surga yang lekas.
Dan dari sini neraka yang jauh
mulai mengirim panas.

(Belum Malam Di Blok M, hal. 80)

Di sajak ini Khalish tidak sedang memamerkan moral yang ia anut, meskipun sajak ini menjadi demikian terucapkannya karena salah satu yang terstrukturisasi di teks puisi itu adalah nilai-nilai hidup yang dianut oleh penyairnya.  Khalish mula-mula menangkap fakta, lalu memberi tanggapan estetis atas fakta itu.

Khalish saya kira dalam semesta sajaknya asyik memerankan dirinya sebagai Abu Nawas yang dalam salah satu syairnya – yang selalu disenandungkan usai zikir salat Jumat di masjid di kampung kami (oh  ya, kami memang sekampung): “Ya, Allah, aku tak pantas menghuni surga-Mu, tapi tak sanggup berada di neraka-Mu”.  Nada tawaduk semacam itu, misalnya kita bisa tangkap di bait yang dijadikan judul tulisan ini. Ketimbang menyebut “surga” ia mengolah frasa yang mengabunawas benar: di kantor yang bertetangga dengan neraka.

Demikianlah, jika puisi adalah sebuah tawaran dialog, maka tulisan ini – apapun namanya –  adalah ikhtiar untuk menyambut tawaran itu.  Tulisan ini dengan demikian adalah sebuah tawaran berdialog, bukan vonis yang tak memungkinkan naik banding, bukan keputusan panel juri yang menutup dengan kata akhir yang tak bisa diganggu-gugat.

Jakarta, 10 Juli 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s