Di Kedai Kopi Itu

DI KEDAI kopi itu, percakapan kita
pernah selalu dimulai dengan pertanyaan rutin,
“ada partai apa lagi hari ini?”

Lalu kita memesan mi lendir dan kopi susu.

Politik, ketika itu, seakan menjadi pintu
pada tembok yang telah lama dipuja
semacam mitos yang dibangun dengan dongeng bahwa
semakin tebal dan semakin tinggi, maka semakin baik ia
menjaga kita dari bahaya di luar sana.

Dongeng yang amat meyakinkan pada mulanya.

*

Di kedai kopi itu, tak ada lagi percakapan
kita sibuk dengan gawai berlayar lebar
menunggu mitos lain, dongeng lain
kabar yang tak peduli dari luar atau bukan dari luar,
yang viral, yang luas menyebar, meruntuhkan tembok-tembok lama.

Kita tak lagi berpenjaga, tak lagi saling menjaga.

Baca juga
Esai Personal: Pasien dan Penonton di Teater Dokter Cheng
Esai Personal: Pasien dan Penonton di Teater Dokter Cheng

Catatan: Ini tulisan saya buat pada 2011, sehabis operasi batu di saluran ureter, di rumah sakit Mahkota Medical Center (MMC) Baca

Gagal Paham
Gagal Paham

AKULAH juru bicara bagi kesunyianku yang gagal paham pada tugasku sendiri. Padamu aku bicara, selalu bicara tentang sesuatu yang tak Baca

Usia Adaline
Usia Adaline

JIKA mungkin, pada bilangan berapa kita ingin usia berhenti menambah angka tak lagi menua? Kita kenang Adaline Yang lari dan Baca

Ibu Pertiwi dan Royan Reformasi
Ibu Pertiwi dan Royan Reformasi

REFORMASI adalah bayi kurus yang lahir setelah Ibu Pertiwi sekian lama ramai-ramai kita perkosa Reformasi adalah bayi lemah yang tak Baca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap