Seorang Dokter di Klinik Bahasa

: untuk Dr. Junaiyah H Matanggui

AKU bertemu dengannya di jalan Bahasa seusai menghadiri sebuah rapat yang penuh Bahasa di Badan Bahasa. Dia berjalan sendiri bersama Bahasa. Matanya ramah binar Bahasa. Senyumnya manis pesona Bahasa. Ketika dia berbicara, setiap kata-kata senang diucapkan olehnya.

Dia bergandengan tangan dengan Bahasa. Tangan bahasa memegang tangannya erat sekali. Padahal Bahasa sudah besar. Sebesar kamus besar. Sudah bisa berjalan sendiri bahkan berlari jauh menjauh darinya. Tetapi dia selalu ada di depan bahasa. Bahasa tak pernah bisa meninggalkannya. Ia tak pernah meninggalkan Bahasa.

Saya tidak membesarkan Bahasa, katanya. Saya dibesarkan bahasa. Mendengar pengakuannya, saya sangat percaya betapa besar cintanya pada Bahasa. Itu membuat saya menjadi kecil di hadapannya dan di hadapan Bahasa. Saya selama ini ternyata hanya pura-pura mengenal Bahasa.

Di tepi jalan Bahasa, tak jauh dari Badan Bahasa, ada penjual kata. Saya singgah di sana,  membeli beberapa bungkus kata. Penjualnya seorang yang tak pandai menjaga kebersihan kata.  Ia menjual kata-kata dengan harga murah. Pencernaan kata saya jadi terganggu setelah mencoba beberapa potong kata yang saya beli di sana.

Dia tiba-tiba ada di samping saya, menjewer kuping saya, dan menarik tangan saya. Dasar bandel, katanya, jangan belanja sembarang kata, jangan menelan kata-kata yang kotor. Dari kamus di dalam kepalanya ia mengambil dan memberiku beberapa kata yang sehat. Untuk obat! Habiskan, katanya, jika masih terganggu percernaan katamu, temui saya di Klinik Bahasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s