Menemukan Lagi Seorang Sapardi*

 Catatan Kuratorial untuk Pameran Manuskrip Puisi Sapardi Djoko Damono (1958-1968) di Rumata Art Space, Makassar, 16-23 Mei 2017.

Oleh Hasan Aspahani

manuskripSDDSAPARDI Djoko Damono seakan tak pernah berhenti mengejutkan kita, para pembacanya. Setelah menerbitkan serentak enam buku puisi dan satu buku prosa (bagian kedua dari sebuah trilogi) tahun ini (kabarnya semuanya sudah cetak ulang), ia membuat kita terperangah dengan membuka ke publik setumpuk arsip lama: sajak-sajak yang ia tulis sebelum buku “DukaMu Abadi”(1996), apa yang telah ia simpan cermat dan rapi, hampir enam puluh tahun.

Sajak-sajak itu ditulis tangan pada buku tulis sekolah bersampul khas biru tua itu, ditulis dengan pensil dan sebagian besar pena. Secara fisik kualitas kertasnya masih sangat baik. Semuanya nyaris bisa terbaca dengan mudah, dengan ejaan yang menyesuaikan peraturan yang berlaku.

Kita mengenal Sapardi umumnya lewat kumpulan sajaknya yang pertama “DukaMu Abadi”. Memang lewat lewat buku itulah Sapardi menancapkan tonggak kepenyairan yang kokoh, yang kemudian menjadi semacam kilometer nol baginya untuk mengukur perjalanan dan pencapaian puisinya yang lebih kemudian, juga bagi penyair lain sezaman dan sesudahnya.

Jika Sapardi sudah menulis sajak sejak 1958, pertanyaannya adalah kenapa yang dipilih dan dimuat olehnya di buku puisi pertamanya itu hanya sajak-sajak yang ia tulis pada 1967-1968? Jika kita berangkat dari pertanyaan itu, maka ‘harta karun’ manuskrip puisi-puisinya ini menjadi sangat penting dan amat menarik.

sdd
Foto: Pijar News

“Saya tidak pernah menjadi penyair remaja,” kata Sapardi dalam suatu perbincangan, meskipun ia sudah menulis sejak kelas dua SMA. Kenapa begitu? Karena sajak yang ia tulis pada tahun 1958 sudah dimuat di lembar Seni dan Kebudayaan majalah Mimbar Indonesia. Itu halaman dipegang oleh the one and only H.B. Jassin. Ya, Jassin memang pernah memegang kuasa di delapan media yang berbeda sepanjang hidupnya. Di Mimbar Indonesia ada halaman untuk penulis remaja, Fajar Menyingsing namanya. Tak begitu jelas siapa editor yang menyebut diri Kak Mimbar. Mungkin juga Jassin. Sapardi yang anak kelas dua SMA itu, dengan percaya diri mengirim sajak untuk Seni dan Kebudayaan, dan ia sadar ia bersaing dengan nama-nama penyair yang sudah berkibar saat itu – M. Junus Melalatoa, H.G. Sudarmin, Gerson Gubertus Poyk, M. Poppy Donggo Huta Galung, M. Zyrodah, Abraham I.M., Bedjo Kr., Muh. Dipalaga, J.E. Siahaan, Abdul Aziz, Asmar Tatang Amara, Djadjak M.D, dan Purwanto Yapung.

Dan Jassin memuatnya!

“Wah, saya gulung koming saya. Senang banget dimuat di sana,” kata Sapardi ditengah-tengah kerja kami memilih manuskrip sajak-sajak yang akan dipamerkan ini. Dua sajaknya yang dimuat itu adalah “Ulang Tahun” dan “Liburan”. Dua sajak itu ditulis pada Agustus 1958, dan dimuat pada November. Apa yang terasa sudah “Sapardi” pada sajak itu, juga sajak-sajak lain di tahun awal itu? Ia sudah mulai membangun semacam pondasi sajak liris yang kuat. Sajak “Ulang Tahun” itu misalnya. Hei, kenapa sejauh itu pikiran seorang remaja SMA memberi arti para momentum remeh bernama “ulang tahun”? Anak SMA itu bilang: biarlah malam ini tjuma kita melandjutkan hidup sederhana. Atau bait lain: ulang tahun ini kupeluk tiada terbit tepuk tangan. Seluruh bait-baitnya matang dan utuh dan saling mengutuhkan, kualitas yang sama ada pasa sajak “Liburan”. Mungkin kala itu Jassin terperangah: siapa anak ini? Seterperangah ketika ia pertama membaca sajak Chairil Anwar, belasan tahun sebelumnya. Mungkin… tapi pasti inilah momentum ketika Jassin menemukan seorang Sapardi Djoko Damono.
Pemuatan sajak itu benar-benar membakar semangat Sapardi. Tahun itu, di bulan berikutnya Sapardi makin banyak menulis. Kami memilih tiga belas sajak pendek yang ia tulis dalam semalam, juga sajak “Surakarta”, kota yang “aku paling kenal karena lahir di sana”.

Kecenderungan menggarap sajak pendek itu ia lanjutkan di awal 1959. Dari sajak-sajak itu kita bisa belajar bagaimana seorang Sapardi melatih diri membuat pengucapan yang padat dengan bahan-bahan untuk membangun imaji yang ia comot dari lingkungan yang akrab, lingkungan seorang pelajar: aku belajar sedang dimedja mimpi tersebar / adakah begini bagi anak muda hal wadjar / pelan – pelan kuangkah hidupku kian berdebu / tapi paling kutjinta, sebab setia atas pundakku.

Kenangan masa kanak, apa yang menjadi bahan penting sajaknya di tahun-tahun kemudian, pada 1959 ini mulai ia garap. Setidaknya model ucapan yang kemudian banyak ia kembangkan sudah ia temukan di tahun ini, lewat “Tangan Waktu” (1959), petikannya: selalu terulur ia lewat jendela / yang panjang dan menakutkan / selagi kau bekerja , atau mimpipun / tanpa berkata suatu apa // bila kau tanya; mau apa / berarti terlalu djauh kau sudah terbawa / sebelum sungguh mendjadi sadar / bahwa sudah terlandjur terlantar / .... Sajak ini kelak, di tahun 2001 baru muncul sebagai sajak pertama di buku “Mata Jendela”.

Menulis sajak liris, kata Sapardi dalam satu ulasan, adalah kecermatan mengamati perasaan dan kejelian menangkap imaji alam kemudian menyatukannya. Sajak-sajaknya sejak semula mempraktikkan jurus itu. Di tahun 1960 terasa makin mahir ia melakukannya. Sajak “Buat DZI” misalnya: adalah geludug jang terdengar diluar / mimpiku tampak semakin samar / kalau kukata engkaulah di sana, nona / djangan bangkit marahmu padaku ja… Kecengengan cinta remaja ia purifikasi lewat kemampuannya mengendalikan perasaannya, dan kedalaman permenungan tapi tetap terasa wajar, apa yang lebih terasa pada bait berikutnya: dunia yang bergoyang antara gelisah / menetes kesunjian / atas duabelah mripatku jg letih / berlinang dendam jg djernih.
Mungkin, semua sajak Sapardi adalah teks yang biografis. Sajak-sajak lamanya bisa dikaitkan dengan suatu peristiwa yang ia alami. Tapi, bukan gayutan pada yang nyata itu yang jadi sumber utama pemaknaan sajak, meskipun itu bisa membantu dan memperkaya kita memaknai sajak. Di bulan Januari tahun 1961, ada sajak Sapardi berjudul “TBC”. Ketika membaca manuskripnya pertanyaan pertama yang muncul dengan wajar adalah, “kenapa Sapardi menulis sajak ini?” Sudah ditawarkan padaku / hari datang jang gagal / atau mungkin bahkan tidak sama sekali / terputus: kemudian sunji. // nampak duabelah tanganku sendiri / kurus dan pandjang / mengeras sesuatu / merah kadang biru, tanpa tentu / ….

“Kenapa? Ya, karena saya pernah kena TBC,” kata Sapardi. Bahkan, ketika disiksa sakit pun Sapardi masih bisa menulis dengan tenang dan lagi-lagi bukan mengumbar ratapan dan keluhan, meskipun terasa ada kepasrahan pada maut (aduh, semuda itu?): sudah didjandjikan padaku / hari depan jang murung / atau memutus sadja tanpa harap tiba-tiba / putih: tak ada jg bernjanji.

Ada bulan panjang yang kosong di tahun itu, setelah sajak “TBC”, sebelum akhirnya Sapardi menulis kembali sajak yang dari segi pilihan tema terasa sebagai lompatan jauh, ia keluar lagi dari dirinya, menulis sajak-sajak panjang (selalu terbagi atas 3 atau 6 bagian, pokoknya kelipatan tiga, angka mistis yang ia percayai bagus buatnya) tentang hakim, badut, tentang kemarau yang panjang, dan yang paling unik adalah “Keterangan untuk Petugas Sensus”. Dalam hal memilih bahan dan tema, sajak ini membuktikan kejelian Sapardi menangkap hal unik itu sudah ia punya sejak mulai menyair. Kita simak: Saja adalah seorang warganegara jg baik / meski bertubuh kotor, dengan pakaian tjabik-tjabik / kalau tuan saksikan kerut merut diwadjah saja / itu bukan karena sudah tua renta // tiap pagi saja berangkat djalan kaki ke pabrik / kerja sehari, mendengar suara mesin mesin jg risik / kadang ingin djuga mendjadi pegawai tinggi / sajang, saja hanja mendapat idjasah rakjat negeri //... Tema sosial, sajak tentang orang-orang kecil semakin intens digarap Sapardi di tahun 1962 dan 1963, di mana ia menulis dengan penuh simpati tentang tukang sepatu, tukang jahit, dan tukang besi, atau menulis tentang kesenjangan sosial dengan apik lewat “Buka Pintu”: buka pintu, hai engkau jang berada di dalam / kudengar djelas seseorang berulang kali mendehem; / Sudah pajah aku mengigil berdiri di sini / Terhadap dingin dibawah hudjan sepandjang hari. // … adakah jang lebih menjakitkan hati bagi seorang lapar / daripada mentjium bau daging jg dibakar / demi bumi bulan serta segenap isi langit jg lain / buka pintu.

Sejauh ini kita melihat kegigihan dan keligatan Sapardi menjajal berbagai cara ucap, dan keluar masuk berbagai tema. Dari kacamata seorang pembaca hari ini, pencariannya itu sekali lagi amat menarik. Lalu kemudian kita bisa melihat bagaimana penyair kita ini lebih “nyaman” – dan karena itu lebih banyak mengolah – sajak liris. Di genre itu ia jenius. Semoga saya tidak berlebihan memilih kata itu, tapi coba lihat sajak yang entah bagaimana telah sampai pada kematangan seperti ini; hudjan adalah selaksa rahasia jang diturunkan / dari langit ke bumi; / kaupun selalu mendengarnja / berulang dan berulang kali / tanpa mengerti. / hudjan adalah wahju wahju jang diturunkan / tanpa lewat para nabi ; (Hudjan, 1963).

Jika mulai tahun 1960-an sajak Sapardi mulai meluas dan melebar, itu mungkin bisa kita mengerti karena sejak tahun itu ia sudah kuliah di Yogyakarta. Ia sudah meninggalkan periode Solo, yang dengan sedikit pengamatan yang lebih cermat bisa kita rasakan bedanya dengan sajak-sajak yang ia tulis pada periode Yogya. Salah satunya adalah pilihan tema yang meluas dan tentu saja makin dalam. Empat sajak dari tahun 1964 ini bisa untuk mewakili sinyalemen itu: “Pada Penguburan” dan “Pada Kelahiran”, juga sajak “Lambang” dan “Djakarta”. Kecenderungan yang terus ia lanjutkan pada tahun 1965. Puncaknya, bisa kita lihat pada “Sadjak bagi Lumumba”, yang ia tulis untuk pemimpin perjuangan kemerdekaan Kongo Patrice Lumumba. Saya ingin menautkan sajak ini pada sajak-sajak sosial dalam buku “Ayat-Ayat Api” (2000) yang antara lain menulis tentang tokoh pejuang buruh Marsinah. Sajak-sajak lain di tahun yang sama menguatkan pertautan itu: “Impian Seorang Kere”, dan “Sadjak untuk Tanah Air dari Mereka jg Tekun Bekerdja”.

Dalam urusan membela puisi, Sapardi bisa menjadi penyair yang heroik. Ada sebuah sajak di tahun 1966 yang ia tulis sebagai semacam advokasi untuk puisi. Sapardi menulis: Tak apalah barangkali saudara (sebelumnya “kau pun”) tak menjukai puisi / Pada suatu hari nanti, kalau saudara kebetulan membatjanya / dengan atjuh tak atjuh, akan menemui diri saudara sendiri / jg sudah lama lenjap dalam timbunan benda-benda sehari-hari / jg selama ini sia-sia saudara tjari. (“Keterangan buat Saudara D”). Menurut Sapardi ia menulis itu untuk seorang kawan, dosen, yang tak menyukai puisi. Mereka sempat tinggal sekamar di sebuah hotel, di tahun-tahun awal tugas mengajar.
Pada tahun yang sama di sajak lain Sapardi menulis sajak untuk penyair lain (yang tentu saja sama-sama mencintai puisi), “Untuk Goenawan”: entah di Belgia, entah di Swedia, apabila saldju turun, seseorang merasa asing dan terpentjil, tertegun, / sunji adalah gambar abstrak, sunji adalah udjung senjata, / ah, tak ada burung bernjanji waktu pagi membukakan djendela. Perhatikan bagaimana Sapardi merumuskan sunyi sebagai: gambar abstrak dan ujung senjata! Dia semakin matang!

DukaMu Abadi, adalah buku sajak yang memuat sajak-sajak Sapardi pada tahun 1967-1968. Buku itu terbit pada 1969. Ini bagian paling menarik dari rangkaian manuskrip yang kami pilih. Membaca sajak dalam manuskrip asli, dan kemudian membandingkan sajak yang sama yang tercetak di buku, bagi saya seperti napak tilas, atau menyusup ke studio sang penyair, lalu melihat bagaimana ia bekerja: menulis ulang, mengolah bait, memotong, membuang, menambah, bahkan merombaknya. Intinya adalah semacam unjukaksi yang mahir dari seorang penyair dan itu menarik dan bermanfaat. Kita bisa belajar bagaimana perkakas persajakan dipilih, dipakai dengan terampil, dan dimaksimalkan pemanfaatannya. Mari kita bandingkan sajak “Stasiun Balapan, Solo” (versi manuskrip) dan sajak “Di Stasion” (versi DukaMu Abadi).

Pilar-pilar besi, orang-orang berdiri menanti,
orang-orang berdiri. Pilar-pilar besi menanti
Waktu selalu menundjuk ke satu arah:
hati.

Pilar-pilar tak berhati. Orang-orang tetap setiap menanti
kereta api yang hitam,
lampu berwarna merah dan hidjau
tergantung risau. Sedjak kapan kukenal rel ini
menanti. Orang-orang tak berhenti.
Orang-orang menurutkan hati…
Peluit kereta api. Pilar-pilar yg setia menanti.
Orang-orang membesi. Diatas rel membudjur tersia:
hati.

(“Stasiun Balapan, Solo”)

pilar-pilar besi kekal menanti
di sebelahnya: kita yang mempercayai hati
seakan putih semata, senantiasa
seakan detik lupa meloncat tiba-tiba

sepi pun lengkap ketika kereta tiba
sebelum siap kita menerima
hari di mana
hari tak ada ketika kita menyusun kata-kata

(“Di Stasion”)

Sajak kedua, ditulis ulang dari sajak pertama. Keduanya menjadi sangat berbeda , bahkan saya ingin mengatakan ini adalah dua sajak yang berbeda, meski kita tetap merasa ada yang mempertautkan keduanya. Sajak kedua lebih rapi dan utuh. Kenapa separah itu perombakannya? Saya harus mengaitkan sajak versi kedua di atas kepada konsep keseluruhan buku “DukaMu Abadi” di mana dia termuat. Sapardi ingin mendapatkan satu nada ucap yang utuh, yaitu suasana ngelangut yang ia rasakan (juga oleh siapa saja yang hidup pada masa itu) sehabis sebuah prahara besar bernama G30S – PKI. Sapardi merasakannya benar sebab ia ikut menandatangani Manifes Kebudayaan. Ia mengalami masa represif, ketika ia harus menulis dengan nama samaran dan berhenti mengajar.

Perhatikan pemakaian kata ganti “kita”, orang pertama jamak, di sajak kedua (sebagaimana kita temukan nyaris di semua sajak dalam DukaMu…) yang sama sekali absen di sajak pertama. Kita bisa menelusuri hal yang sama di sajak lain yang ditulis pada than 1967-1968 itu, baik yang dimuat maupun yang tak dimuat di DukaMu Abadi.
Catatan ini hanyalah satu rute yang bisa ditempuh ketika menapaktilasi manuskrip sajak-sajak lama Sapardi. Saya percaya rute manapun yang ditempuh, akan sama atau bahkan bisa lebih mengasyikkan dan berfaedah besar. Selamat menikmati temasa teks manuskrip penting ini!

Jakarta, 27 April 2017

*  Artikel ini adalah versi yang belum disunting oleh Pak Sapardi Djoko Damono.

* Foto utama dari M Aan Mansyur (@hurufkecil)

Iklan

8 pemikiran pada “Menemukan Lagi Seorang Sapardi*

  1. Ada 2 nama penyair yang kini dalam pengamatanku puisinya terbaik yaitu Chairil Anwar dan Sapardi Djoko Damono. Kenapa terbaik? Karena ulasan di Mata Puisi sangat membantu pengetahuan baru dalam mengenal sastra. Terimakasih mata puisi.

    Suka

  2. Saya seang membaca uraian tentang penulis puisi yang berhasil menggugah pembacanya. Dimana untuk mendapatkan semua buku kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono itu? Kesempatan juga Mata Puisi membuat buku Biogrrafinya seperti Chairil Anwar. Kapan ya bisa menghadirkan kedua penyair itu dalam buku karya Mata Puisi? Trims

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s