Ini, Itu, Pengaruh, dan Warisan Chairil

 

Oleh Hasan Aspahani

poster UI            SEHARI sesudah Chairil Anwar dijemput maut pada 28 April 1949,  surat kabar Merdeka (Nomor 1020, Thn V, 29 April 1949) menulis sebuah berita berjudul “Pudjangga Chairil Anwar Meninggal Dunia” dengan subjudul “Karena Penyakit Usus”. Ada banyak, atau mungkin nyaris semua koran, bahkan sampai koran di Medan, kota kelahirannya pun, memberitakan soal kematian Chairil.  Dalam pembahasan soal penyair kita ini, saya hanya ingin memakai bahan berita Merdeka yang – memang hanya satu kolom –  diletakkan di halaman satu, dan bersambung ke halaman dua. Sebuah berita pendek, tujuh paragraf. Saya mengutip tiga paragraf saja.

            Petikan pertama dari paragraf ke-6:

Kepada penjair angkatan muda banjak sekali pengaruhnja dalam dunia persadjakan dan pemakaian bahasa. Perkataan penundjuk “itu” dan “ini”  dipakai dihadapan nama benda dalam persadjakan, dimulai oleh Chairil dan mendjadi mode bagi angkatan muda. Orang jang dapat merasakan bahasa Indonesia jang membatja dengan perhatian sadjak2 Ch. dimana ia mempergunakan “ini” dan “itu” setjara demikian, akan insjaf bahwa hal itu suatu keuntungan jang memberikan lebih banjak kemungkinan dan kelemasan kepada bahasa Indonesia.

Petikan kedua dari paragraf ke-5:

….ia selamanya menolak keinginan dan concept tjap Djepang dalam hal kesenian. Sebab itu Ch. mendjadi “sahabat” dari Kenpei. Sjairnja jg terkenal “AKU” lebih terkenal sebagai “Aku Ini Binatang Djalang” tidak pernah dimasa itu mendapat kesempatan untuk diumumkan. Tapi walaupun begitu, semua kawan dan orang jg senang kepada sadjak, menjalin sadjak itu dan ia dibaca dari tangan ke tangan. Di masa pendudukan Inggeris sadjak itu diterdjemahkan kedalam bahasa Inggris dan dibawakan oleh Nugroho dihadapan segerombolan orang2 Inggeris jang mengagumi dia.

 

Petikan ketiga dari paragraf ke-7:

….Ibu Indonesia kehilangan puteranja, kehilangan pedjuang jang hingga achirnja bertahan untuk kepentingan Tanah Airnja. Bukan karena ia pada pertama kalinja seorang nasionalis, tapi karena perdjuangan untuk Indonesia itu baginja sendiri adalah suatu riak jang tak terpisah dari Kemanusiaan djua adanya.

 

Memberikan Banyak Kemungkinan Pada Bahasa

Terkait dengan petikan pertama, pertanyaan kita adalah pada sajak yang manakah Chairil menulis  dengan penempatan kata “ini” dan “itu” di depan kata? Saya melacak dan menemukan dalam beberapa bait:

  1. Ini barisan tak bergenderang berpalu (Diponegoro, 1943)
  2. Bersepeda sama gandengan / Kita jalani ini jalan (Ajakan, 1943)
  3. Ini batu baru tercampung dalam gelita (Pelarian, 1943)
  4. Ngeri ini luka-terbuka sekali lagi terpandang (Kupu Malam dan Biniku, 1943)
  5. Ini dunia enggan disapa, ambil perduli (Kesabaran, 1943)
  6. Ini sepi terus ada. Dan menanti (Hampa, 1943)
  7. Ini renggang terus merapat (Cerita, 1943)
  8. Ini ruang / Gelanggang kami berperang (Di Mesjid, 1943)
  9. Ini muka penuh luka / Siapa punya? (Selamat Tinggal, 1943)
  10. Ini malam purnama akan menembus awan (Kita Guyah Lemah, 1943)
  11. Itu Tubuh / mengucu darah / mengucur darah (Isa, 1943)
  12. Heran! Ini badan yang selama berjaga (Lagu Siul, 1945)
  13. Ini kali tidak ada yang mencari cinta (Senja di Pelabuhan Kecil, 1946)
  14. Ini tempat terikat pada Ida dan ini ruangan “pas bebas” (Selama Bulan Menyinari Dadanya, 1948)

 

            Jika saya tak terlewat, maka inilah empat belas barang bukti yang saya temukan berkaitan dengan apa yang disebutkan oleh si penulis berita yang kita ada di petikan pertama.  Dengan model pengucapan seperti itu, Chairil membalikkan hukum DM dalam ketentuan pembentukan kata gabungan dalam Bahasa Indonesia. Seharusnya dengan hukum DM maka frasa yang benar adalah barisan ini, jalan ini, batu ini.  Barisan, jalan dan batu adalah apa yang diterangkan oleh kata tunjuk ini, yang berarti barisan, jalan, batu yang itu, barisan, jalan dan batu yang lain. Tentu saja Chairil ada  memakai kata tunjuk “ini” dan “itu” sesuai dengan ketentuan DM.

Benarkah Chairil adalah penyair pertama yang memperkenalkan penulisan sungsang seperti itu tetapi kemudian diterima sebagai sesuatu yang keren dan bahkan menjadi mode bagi penulis sesudahnya sebagaimana disebutkan dalam berita yang disiarkan Merdeka? Benarkah itu dimulai oleh Chairil dan mendjadi mode bagi angkatan muda?  Sayangnya tak ada nama siapa yang menulis berita di Merdeka koran milik BM Diah itu. Jika kita mengetahui siapa yang menulis kita mungkin bisa menilai seberapa luaskah pengetahuan dan perhatiannya pada sastra dan bahasa pada masa itu, sehingga kita bisa menguji seberapa cermat dan akurat kesimpulan yang ia buat dalam beritanya. Kesimpulan yang kuat tentang hal itu bisa juga didapat dan diuji dengan meneliti sajak-sajak sebelum dan sesudah Chairil, juga pemakaian bahasa tulis selain puisi.

Untuk makalah yang sederhana ini saya mencukupkan diri dengan bahan guntingan berita kematian Chairil ini saja, dengan begitu dan dari situ maka kita bisa melihat satu pengaruh Chairil dalam bahasa. Yaitu kita berutang dan memakai hasil eksperimen gramatikal Chairil tanpa kita menyadarinya, seolah itu suatu yang lazim belaka . Dan mendapatkan “…suatu keuntungan jang memberikan lebih banjak kemungkinan dan kelemasan kepada bahasa Indonesia”.

             

 Sajak Viral Pertama Jauh Sebelum ada Social Mesenger

            Dari petikan kedua kalau mau kita bisa mewarisi satu hal: sebagai penyair kau harus punya sikap. Sikap Chairil jelas yaitu ia menolak ikut mengembangkan konsepsi kebudayaan sesuai dengan maunya Jepang. Risikonya juga jelas, ia kesulitan menyiarkan sajak-sajaknya, karena semua media dikuasai Jepang.  Risiko lainnya, …Ch. mendjadi “sahabat” dari Kenpei. Maksudnya adalah ia keluar-masuk penjara Jepang,  ditangkap dan dihajar Kenpei, sebutan untuk Kenpeitai, polisi militer Jepang yang terkenal tak kenal ampun itu. Kasusnya tidak selalu berkaitan dengan puisi, kadang memang ia melakukan kriminal kecil-kecilan, mencuri sepeda, seprei, atau jas.  Beberapa kali ia ditangkap dan diinterogasi karena dicurigai ikut jaringan atau jadi mata-mata gerakan anti-Jepang.

Dari paragraf ini juga kita bisa simpulkan: sensor tak bisa menghalangi sajak hebat untuk sampai kepada pembacanya.  Sajak “Aku” dibacakan Chairil di depan majelis diskusi bulanan di Keimin Bunka Sidosho, Pusat Kebudayaan Jepang yang ia tentang itu. Ya, dia menentang, tapi caranya menentang bukan dengan menjauhi tapi dengan datang membawa karya yang “melawan” apa yang hendak digariskan oleh kawan-kawannya yang tergabung di sana, yang kerap ia ejek dengan sebutan “anjing-anjing Jepang”.   Dan yang terjadi adalah: …semua kawan dan orang jg senang kepada sadjak, menjalin sadjak itu dan ia dibaca dari tangan ke tangan. Barangkali inilah sajak viral pertama, beredar dari tangan ke tangan, jauh sebelum teknologi telepon bergerak ada, apatah lagi aplikasi social messenger.

Saya tak yakin siapa yang disebut dalam berita sebagai Nugroho. Mungkin Nugroho Notosutanto, sastrawan, sejarawan yang kelak menjadi salah seorang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era Suharto. Jika perihal ini dalam berita Merdeka ini akurat, maka barangkali inilah sajak pertama dari Chairil dan juga penyair Indonesia lainnya yang diterjemahkan dan disukai oleh pembaca atau penikmat sajak berbahasa Inggris, dan mereka mengagumi Chairil.  Chairil dengan demikian turut membantu memperbaiki wajah bangsa ini di mata tentara asing, dalam hal ini orang Inggris.  Mungkin perlu dilacak di mana keberadaan terjemahan Nugroho atas sajak “Aku” tersebut. Akan menarik bagaimana orang Indonesia sendiri menerjemahkan sajak itu ke dalam bahasa Inggris lalu dibandingkan dengan terjemahan yang dilakukan oleh Burton Raffel.

Berjuang untuk Kepentingan Tanah Airnya

Di luar soal bahasa dan sajak, berita ini juga menunjukkan pada kita satu hal Chairil adalah orang yang ikut berjuang untuk memerdekakan tanah airnya. Di buku Chairil (Gagas Media, 2016) saya menulis kesaksian kawan-kawannya bagaimana dia menjadi simpul jaringan bawah tanah Sjahrir, pamannya. Informasi penting kerap disebarkan oleh Chairil setelah ia menghafalkannya. Chairil lekas menghafal, dan itu sangat bermanfaat, karena jika seorang kurir terkangkap membawa barang bukti berupa informasi tertulis, maka si kurir sudah bisa dipastikan mampir dulu ke penjara dan menyantap siksaan, bahkan hukuman mati.

Sajak Chairil “Malam” adalah sajak yang ia tulis di Marks API, Menteng 31, apa yang kini dsiebut Gedong Joang.  Beberapa kawan juga menjadi saksi kehadiran Chairil pada malam-malam perjuangan di gedung bekas hotel milik Belanda itu.  Juga sajak “Sudah Dulu Lagi” (1948), di mana dalam satu baitnya Chairil ingin bilang bahwa , “hei, sejak dulu saya sudah ikut pegang senjata…” (Jari tidak bakal teranjak dari petikan bedil), dan saya tak memikirkan atau mengharap penghormatan atau imbalan apa-apa untuk perjuangan yang saya terjuni ini (Dan jangan tanya siapa akan menyiapkan liang penghabisan / Yang akan terima pusaka: kedamaian antara runtuhan menara).”

Amir Hamzah, diusulkan menjadi pahlawan nasional dalam sebuah seminar sastra i Medan pada pada tahun 1966. Sembilan tahun kemudian setelah melewati serangkaian proses di Departeman P & K dan Departemen Sosial pada waktu itu, Amir Hamzah,  bersama Sultan Agung dan  Untung Suropati, dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Amir Hamzah adalah pahlawan di bidang budaya.

Satu berita yang saya kutip ini mungkin bukan bahan yang cukup untuk meyakinkan bahwa Chairil Anwar sesungguhnya juga pantas untuk mendapatkan gelar itu. Ada bahan lain dan telaah dan kajian sejarah yang serius harus dilakukan untuk melengkapi usulan itu jika memang ingin dilakukan. Saya pribadi berpendapat Chairil pantas mendapat gelar tersebut, dan usaha ke arah itu lagi pantas dilakukan, setelah dahulu, entah berhenti  lembaga mana, nama Chairil tampaknya tertahan dan tak pernah sampai diusulkan ke meja Presiden.

 

Jakarta, 28 April 2017

(Mengenang hari kematian Chairil Anwar)

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s