The Only Possible Non-Stop Flight

Oleh Hasan Aspahani

ISU besar dunia penerbangan pada tahun 1948 adalah pengembangan teknologi pesawat yang bisa menempuh satu jarak jauh tanpa berhenti, a non-stop flight. Serangkaian percobaan dilakukan. Sejumlah penemuan dan kemajuan baru diumumkan. Berkembanglah beberapa pesawat baru dan layanan air-to-air atau pengisian bahan bakar dari pesawat ke pesawat sambil keduanya sama-sama terbang. Penemuan dan layanan ini banyak digunakan oleh militer.  Popularitas isu itu, mungkin sekarang sama seperti keingin-tahuan kita produk baru apa yang dikeluarkan Samsung atau Apple. Itulah yang ditangkap oleh Chairil Anwar, yang kemudian pada tahun itu ia tuliskan dalam sajaknya “Buat Gadis Rasid”. Beberapa baris terakhir pada sajak itu:

.Mari kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati
Terbang
mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat
— the only possible non-stop flight
Tidak mendapat.

Gadis Rasid adalah rekan kerja Chairil. Juga kawan diskusi. Mereka sama-sama bekerja untuk Siasat, sebelum Chairil keluar dari sisipan Gelanggang di majalah mingguan itu.

Sajak ini, kata Gadis, memang ia tempah. Ia pesan. Gadis tahu Chairil suka menuliskan sajak untuk kawan-kawannya, Basuki Resobowo, Affandi, Darmawijaya, Bohang, Dien Tamaela, dan tentu gadis-gadis dan pacar-pacarnya. Suatu hari Gadis meminta Chairil menuliskan sajak untuknya. Chairil lantas menuliskan sajak “Buat Gadis Rasid”.

Saya membayangkan Gadis, Chairil, dan kawan-kawan wartawan di Siasat, kerap berdiskusi soal apa saja, termasuk isu-isu dunia. Chairil terlibat, merekam, menyimak, dan mengolah pembicaraan itu lalu menuliskan sebagai tanggapan, sikap, pendapat di dalam sajak.

Yang menarik ditandai sebenarnya adalah soal pemakaian kalimat berbahasa Inggris di dalam sajak ini: the only possible non-stop flight. Pada beberapa sajak, Chairil ada memakai istilah atau kata asing, misalnya: Ahasveros, Eros, Thermopylae, Romeo & Juliet, whisky, juga mengutip kalimat untuk dicantumkan di bawah judul: pondering, pondering on you, dear (“Puncak”, 1948).

Kenapa Chairil harus pakai bahasa Inggris pada kalimat itu? Tak cukupkah itu diucapkan dalam bahasa Indonesia, toh itu bisa dengan mudah diterjemahkan? Atau sekadar sok saja supaya orang tahu dia jago berbahasa Inggris?  Yang terakhir itu pasti tidak. Yang lainnya saya tidak tahu, tapi saya mungkin bisa menjelaskan bahwa itu dilakukan Chairil karena ia ingin menangkap dan menghadirkan secara utuh gagasan tentang penerbangan tanpa henti yang jadi buah bibir pada masanya itu, karena sajaknya memang ingin bicara tentang “bangsa muda baru menjadi, baru bisa bilang “aku”…. Dan kita, anak bangsa baru itu terapit, mengecil diri, kadang bisa mengisar setapak… dan itu tak cukup!

Chairil mengajak kita untuk bebas mencari: mari kita lepas, kita lepas jiwa mencari, jadi merpati yang terbang, meninggi, menjauh, mengenali apa saja yang tampak di bawah sana. Mungkin yang tampak adalah pemandangan tak sedap semembosankan bentangan gurun, dan dalam pencarian itu mungkin saja tak menemukan apa-apa, dan kita tak tahu harus mendarat di mana nanti… atau bahkan tak pernah mendarat sama sekali.

Jika ide itu yang ingin dia ucapkan, dan dengan kalimat bahasa Inggris itu kemudian ia mengucapkannya, maka kita satu lagi punya alasan untuk menjura pada kepiawaian Chairil, yaitu bagaimana ia memanfaatkan isu aktual pada zaman, apa yang luput dari perhatian penyair sezamannya, menjadi bahan ucapan yang khas dia, dan mengabadikannya dalam sajaknya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s