Apa Agamamu, Jakarta?

JIKA sampai sesat
di pos imigrasi negeri yang lain itu pun
kota ini tidak akan dihadang pemeriksaan dengan pertanyaan:
apa agamamu, Jakarta?

Mungkin, Jakarta tetap akan mencoba
mengingat-ingat, nama-nama pahlawan dan jalan
peta jalur trem, dan rumah-rumah dengan trotoar dan taman
juga spanduk besar pengajian, dengan gambar ustadz, habib, dan imam

Mungkin, Jakarta tetap akan mencoba
mengingat-ingat, sungai yang dangkal dan seseorang berkata,
“bagaimana kau bisa berkaca di permukaan kotor itu?”

Padahal, kata Jakarta, itulah wajahmu dan wajahku, wajah kita itu

Lihatlah itu, ada sejuta fotokopi KTP dibuang di sana,
hanyut ke muara, ke teluk kota, ke Pulau Seribu
lalu seorang nelayan pemelihara kerapu terjun ke laut
mencoba mencari foto dan namanya
dan menemukan sepotong ayat
yang indah dan
sederhana

Maka, pada suatu pagi yang disiarkan semua televisi
Jakarta menjadi seseorang yang berjalan
ke tempat pemungutan suara dan petugas di sana bertanya,
“Namamu Jakarta? Di daftar pemilih namamu tak ada…”

Jakarta kembali ke Jakarta

Melewati Monas dan Gambir, Merdeka Selatan
dan Teuku Umar, tak menghindar dari
siapa saja yang mungkin akan bertanya,
“apa agamamu, Jakarta?”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s