Sekebat Kelebat Aforisme

/1/
AH, pohon yang tabah. Tumbuh setinggi apa yang mampu diberi oleh tanah.
/2/

YANG paling ia cintai dari rumahnya adalah Pintu, yang dengan dua kata sederhana: menutup dan menguak, bisa terbuka atau terjaga rahasia

/3/
ITU tadi seperti kuliah singkat. Filsafat cokelat. Nama-nama bumbu asing fasih diucapkan di lidah lincah. Demi juadah, dua-tiga kerat.

/4/
TELEVISI kami restoran Minggu pagi. Kami tak memesan apa-apa. Segalanya kausajikan, Farah Quin! Ah, mata, lapar itu pasti bermula dari sana.

/5/
SEPERTI bercukur dengan pisau tumpul, aku seakan dipaksa melepas topeng yang tak kupakai. Wajahku berkarat, usia tak menyembunyikan usia.

/6/
TUHAN, kukira Dia tak mencipta bahasa. Ia serahkan urusan ini pada kecerdasan manusia. Lalu Dia pakai itu untuk wahyu-Nya.

/7/
BEGITU kukira bahasa tercipta. Kita ucap saja kata, lalu riang menafsirnya. Ketika gramatika mengikat segalanya, pada puisi berharap bahasa.

/8/
DONGENG kita akan ditutup kalimat itu juga: Lalu mereka hidup bahagia selama-lamanya. Ya, kita akan bahagia. Tapi tak akan hidup selamanya.

/9/
PERLU kuberi tahu, Obama? Di negeri ini minyak dimatangkan geologi, walau pada kami tak pernah datang Nabi. Cucilah tangan, muka, dan kaki.

/10/
BERAPA lama kau di Negeri Mimpi, Alice? Selama lamaran diajukan dan penolakan kujawabkan. Tapi, tunggu, kulihat dulu arloji Si Kelinci itu.

/11/
MALAM kuning, lancang berlayar. Dia nahkoda kita yang kurang faham. Ini kapal berbendera sejengkal, tenggelam di laut tak beralamat.

/12/
KEMANA kau berjalan di waktu senja hari, Sapardi? Ah, harusnya aku tak bertanya, ya? Kenapa masih juga aku sibuk bertengkar sendiri!

/13/
AKU tertindih di dasar troli. Mencari-cari di mana label harga itu tersematkan di tubuhku. Aku harus membayar sendiri, nanti di kasir itu.

/14/
O, Coca-cola, aku pengiring kereta kuda Pemberton, ke toko farmasi itu, ke aroma gula bakar itu. O, aku tak mau jadi botolmu.

/15/
SEPERTI terbingkai di lukisanmu, Picasso. Aku kini mungkin tahu, kenapa sesekali kita perlu enggan, berbagi dengan cermin itu.

/16/
MIMPI adalah kucing yang melompat dari tidur ke tidur, memburu tikus atau jika ada sekerat ikan rebus yang tak kusebut dalam doa sebelum tidur.

/17/
KENAPA aku harus mengingatkan pada sesuatu atau seseorang, tanya Hujan, seperti dikutip dari sebuah Puisi, seperti dipetik dari Sapardi. 

/18/
KITA memang tidak menanam pohon itu. Siapa yang melempar apel ketika kita menunggu, Jobs! Ada bekas gigitan taring di daging buah itu.

/19/
PATUNG pelangi, Helvy, kolam bidadari. Itu anakmu? Anak lelaki yang memetik Puisi di ranting gaib yang tumbuh dari doamu?

/20/
KITA dua penembak berhadapan, menunggu dentang jam kota mengaba-aba, kita bertukar peluru. Tuhan, Siapa Nama-Mu?

/21/
SEPERTI selalu ada yang tertinggal di laci, di bangku sekolah yang tak berkunci. Sapardi, ya, tak perlu jatuh cinta untuk menjadi Puisi.

/22/
LANGIT yang megah di hati yang mentah. Aku juru api unggun, anggota Pramuka yang malas pulang, betah di sekitar kemah.

/23/
HUJAN lebat sekali. Seperti terbawa dari Isla Negra, dari sajak Neruda. Ada lelaki kecil berpayung besar, menyeberangkan aku ke keteduhan.

/24/
“Jam berapa ya sekarang?” tanya arloji padaku. Aku kira dia sedang mati. Ternyata, dia sedang tidak percaya pada diri sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s