Kita Bukan Lagi Petani yang Sabar

POHON besar yang angker itu
telah kita tebang dalam sebuah kerusuhan

Dari tunas-tunas baru yang tumbuh
pada tunggul pohon besar itu
kita berharap berkembang tanaman lain

dan kita kecewa

Kita tidak menanam apa-apa,
lalu kini kita sangat pandai saling menyalahkan.

Ada yang bilang, dulu kita nyaman sekali berteduh
di bawah lindungan pohon tua itu.

Saling menyapa dengan senyum yang palsu dan menipu.

Kita kini bukan lagi petani yang sabar.
Kita penebang serakah, dengan gergaji mesin, dan kapak besar.

Kita tidak menanam apa-apa,
tapi saling intai dan menunggu: apa yang tumbuh di tanah kita
dan siapa yang lebih dahulu menebangnya.

Baca juga
Kekuatan dan Kerajaan Kata-Kata
Kekuatan dan Kerajaan Kata-Kata

Oleh Hasan Aspahani APAKAH yang jelas dalam kehidupan kita manusia ini? Adakah yang pasti di dunia ini? Tuhan hanya mengurus Baca

Apabila Pemungutan Suara Dilakukan pada Hari Ini
Apabila Pemungutan Suara Dilakukan pada Hari Ini

MAKA aku akan tidur dan bermimpi indah tentang kota yang bersih, tanpa baliho dan suara bising, spanduk dan senyum palsu. Baca

Puisi Sebagai Cermin
  • Save

SETERASING apapun seorang penyair dari masyarakatnya, ia tetap anggota masyarakat di mana ia hidup. Sepersonal apapun sajak yang dihasilkan oleh Baca

Keramik tanpa Nama dan Kelambu Nestapa
Keramik tanpa Nama dan Kelambu Nestapa

Oleh Hasan Aspahani MANUSIA adalah makhluk yang mencari atau memberi makna pada benda-benda atau peristiwa yang ada di sekitarnya. Karena Baca

6 thoughts on “Kita Bukan Lagi Petani yang Sabar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap