Kita Bukan Lagi Petani yang Sabar

POHON besar yang angker itu
telah kita tebang dalam sebuah kerusuhan

Dari tunas-tunas baru yang tumbuh
pada tunggul pohon besar itu
kita berharap berkembang tanaman lain

dan kita kecewa

Kita tidak menanam apa-apa,
lalu kini kita sangat pandai saling menyalahkan.

Ada yang bilang, dulu kita nyaman sekali berteduh
di bawah lindungan pohon tua itu.

Saling menyapa dengan senyum yang palsu dan menipu.

Kita kini bukan lagi petani yang sabar.
Kita penebang serakah, dengan gergaji mesin, dan kapak besar.

Kita tidak menanam apa-apa,
tapi saling intai dan menunggu: apa yang tumbuh di tanah kita
dan siapa yang lebih dahulu menebangnya.

Iklan

6 pemikiran pada “Kita Bukan Lagi Petani yang Sabar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s