Matahari Itu, Bung

: untuk Ane Matahari (1971-2016)
                                                 
KARENA bumi dan kami sudah kau tinggalkan, maka matahari selalu seperti pagi di stasiun besar itu. Kau tak akan bosan di ruang tunggu yang tenang dan lengang itu, karena langit rendah, terang,dan jernih. Seperti cermin dengan bingkai lampu-lampu. Kau tak lagi perlu berkaca tapi matahari yang selalu pagi itu seperti wajahmu: hangat dan cahayanya gondrong, tebal, dan lebat.    

Karena waktu dan kami sudah kau dahului, maka jam fana yang selalu terburu-buru menyejajari langkah hari itu, kini bisa duduk tenang di sampingmu, menebak dengan riang isi kantong jaket kulit dan tas selempangmu. Ia bayangkan doa-doa dan pahala dari tiap alfatihah yang kami kirimkan menjelma jadi gitar dan kau memainkan itu: melengkapi kesunyian lirik puisimu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s