Penyair dalam Konteks Situasi dan Perkembangan Sastra

“PENYAIR lahir dalam konteks situasi dan perkembangan sastra,” ujar Sapardi Djoko Damono, dalam satu tulisan yang membahas kepenyairan Taufiq Ismail (Sihir Rendra: Permainan Makna; Pustaka Firdaus, 1999).

Puisi, ujarnya lagi, ditulis oleh orang yang di dalam benaknya telah terekam sejumlah besar sajak yang pernah dibacanya, baik yang berasal dari zamannya sendiri atau zaman sebelumnya.

Itulah pentingnya membaca sajak. Saya ingin mengatakan: mustahil seorang bisa menulis puisi jika sama sekali tak pernah membaca puisi sebelumnya. Saya juga ingin menegaskan: pilihlah dengan cermat sajak-sajak dari penyair yang ingin kau ambil pengaruhnya untuk membangun pondasi persajakanmu sendiri.

Saya juga ingin menambahkan, bahwa selain membaca sajak penyair terdahulu dan sezamanmu dari negeri sendiri, artinya mereka yang menulis sajak dalam bahasa yang sama dengan bahasa sajakmu, maka amat penting bagimu untuk membaca – dan sesekali cobalah menerjemahkan – sajak penyair yang menulis sajak dari bahasa lain.

Menerjemahkan, pada hakikatnya, adalah mencari kata, atau cara mengucapkan apa yang sudah diucapkan dengan bahasa lain, ke dalam bahasa kita. Pada dasarnya itulah kerja menyair: kita mencari cara ucap untuk sesuatu yang ada dalam benak kita, yang sepertinya sangat kita kenal, tapi sesungguhnya juga teramat asing.

Bacalah sajak sebanyak-banyaknya. Baca dengan sesadar-sadarnya. Baca dengan kecermatan seorang penganalisa. Baca, supaya kita tidak jadi seorang yang melihat apel jatuh, lalu merasa cerdas ketika membayangkan bahwa bumi punya gaya tarik, lantas mengatakan telah menemukan sebuah teori baru. Ketika orang bilang itu sudah lama dirumuskan oleh Newton, kita lantas bilang, “saya tak kenal dan tak peduli siapa itu Newton. Saya juga tak pernah baca teorinya. Apa salahnya kalau saya menemukan teori yang sama?”

Salahnya adalah kita tak pernah membaca! Karena itu kita tak tahu orang lain sudah melakukan apa, menemukan apa, melangkah sejauh apa. Mungkin kita memang cerdas, tapi miskinnya wawasan, sedikitnya bacaan, dan kengototan kita membuat kita tampak konyol seperti kodok di bawah tempurung.

Iklan

2 pemikiran pada “Penyair dalam Konteks Situasi dan Perkembangan Sastra

  1. Saya tidak sependapat dengan salah satu kalimat pada alinea ketiga. Saya setuju soal kita harus membaca puisi, karena itu memperluas referensi dan membentuk apa yang disebut “intuisi seni”, tapi sembrono sekali jika berpikir seseorang tidak akan bisa menulis puisi jika tak pernah membaca puisi sebelumnya. Itu sama saja seperti mengatakan kita tidak akan bisa bernyanyi jika tidak pernah mendengar lagu atau tidak akan bisa menggambar jika tidak pernah melihat gambar. Padahal orang yang buta sejak lahir pun tetap mampu menggambar, dan orang yang tuli sejak lahir tetap mampu bernyanyi–seburuk apa pun itu. Lagi pula, kalau tidak ada orang yang bisa menulis puisi tanpa pernah membaca puisi, bagaimana caranya puisi pertama kali dapat tercipta?

    Suka

    1. KITA bisa sama-sama baca bagaimana sejarah syair berkembang dalam peradaban manusia. Dari tradisi lisan hingga manusia mengenal aksara. Dari syair yang digubah untuk memuja raja atau orang-orang berjasa bagi kerajaan, hingga syair-syair rakyat.

      Tapi kalau ada penyair hari ini yang bisa menuis puisi hebat dan dia terbukti sama sekali tak pernah membaca puisi sama sekali, tak pernah mendengar sekadar pantun “kalau ada sumur di ladang….” misalnya, maka tulisan saya ini memang cuma omong kosong yang diulis oleh penulis yang ceroboh.

      Saya menunggu dan terbuka pada kemungkinan itu.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s