Puisi adalah Sebuah Eksperimen

SETIAP karya sastra, termasuk puisi, adalah hasil sebuah eksperimen. Bahan puisi, yaitu pengalaman puitik, bisa jadi apa saja, bahkan juga bisa tidak jadi apa-apa. Melalui proses eksperimen yang tekun, ia bisa jadi puisi yang segar. Atau tanpa itu, ia bisa tetap jadi puisi, tapi hasilnya adalah sebuah puisi yang formulaik, yang dihasilkan dari satu tuangan yang berulang-ulang, bahan apapun yang disajakkan akan sama saja hasilnya.

“Penyair adalah orang yang berusaha menghayati dan memahami kehidupan ini, untuk kemudian menciptakan tanggapan dan penilaian terhadapnya dalam bentuk puisi,” ujar Sapardi dalam sebuah artikel mengulas kepenyairan Taufiq Ismail “Menjelang Tirani dan Benteng, Telaah Ringkas Awal Kepenyairan Taufiq Ismail” dalam “Sihir Rendra: Permainan Makna” (Pustaka Firdaus, 1999).

Kata kunci dari ucapan Sapardi adalah: penghayatan, pemahaman, kehidupan, tanggapan, penilaian.

Dari kehidupan penyair mengumpulkan bahan puisinya dalam bentuk pengalaman puitik. Satu peristiwa yang sama bisa jadi bahan puisi bagi seorang penyair tapi tidak bagi yang lain tergantung pada kemampuan dan cara masing-masing dalam menghayati dan memahaminya. Pengalaman atau peristiwa yang sama jika sama-sama menjadi bahan puisi bisa menjadi puisi yang berbeda-beda tergantung bagaimana cara menanggapi dan menilai oleh masing-masing penyair.

Maka, dari situ Sapardi kemudian mengingatkan satu implikasi logis. Puisi, ujarnya, dengan demikian bukan sekedar tiruan melainkan eksperimen yang hasilnya merupakan semacam alternatif bagi kehidupan yang ditanggapi dan dinilai oleh si penyair, yang tentu saja menuntut piranti pengungkapan yang eksperimental pula.

“Ditinjau dari perspektif lain, dalam proses kreatif penyair, puisi adalah eksperimen bahasa yang bertujuan menghasilkan suatu dunia alternatif,” kata Sapardi. Dunia alternatif itu, ditegaskan oleh Sapardi, adalah istilah lain untuk eksperimen moral. Eksperimen bahasa dengan piranti pengucapan yang eksperimental menghasilkan eksperimen moral atau dunia alternarif.

Pada tahun 1946, Chairil Anwar pun sudah menyebutkan hal yang senada. Dengan kalimat yang lebih berani penyair ini mengatakan: sebuah sajak yang menjadi adalah sebuah dunia.

“Dunia yang dijadikan, diciptakan kembali oleh penyair,” kata Chairil. Yang segera bertaut antara rumusan Sapardi dan ucapan Chairil adalah “diciptakan kembali”. Jadi jelas puisi bukan sekedar tiruan!

Proses penciptaan kembali Chairil adalah eksperimen Sapardi. Chairil menguraikan bahan-bahan penciptaan itu adalah benda (materi) dan rohani, keadaan alam dan penghidupan sekelilingnya, juga bahan dari hasil kesenian lain yang berarti bagi si penyair, yang berhubungan jiwa dengannya, juga dari pikiran-pikiran dan pendapat orang lain, segala yang masuk dalam bayangannya.

“Unsur-unsur yang sudah ada dijadikannya, dihubungkannya satu sama lain, dikawinkannya menjadi suatu kesatuan yang penuh (indah serta mengharukan) dan baru, suatu dunia baru, dunia kepunyaan penyair itu sendiri,” papar Chairil dalam Pidato Radio 1946 dalam “Chairil Anwar, Pelopor Angkatan 45” (Gunung Agung; Jakarta; Cet. 7; 1985).

 


Bacaan: 1. Sapardi Djoko Damono, Sihir Rendra: Permainan Makna (Pustaka Firdaus, Jakarta, 1999);  2. H.B. Jassin; Chairil Anwar, Pelopor Angkatan 45 (Gunung Agung; Jakarta, Cet. 7; 1985). Gambar:  Peter Gric dari Golden Scarab Gallery.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s