Hocus Pocus

KOTAKU tidak pernah punya klub sepakbola
yang berlaga di kompetisi liga nasional,
jadi kuabaikan saja siaran langsung
di televisi di kafe itu. Aku tak tahu itu
pertandingan putaran ke berapa, tandang
atau kandang siapa, lagi pula aku sudah
lama buta warna, kostum mereka sama
saja, gol di gawang sini, dan penalti di
gawang sana, bagi penonton sepertiku
apa bedanya. Aku tak ikut kesal, tak
perlu kecewa oleh keputusan wasit yang
salah, dan nanti di situs berita yang
mengabarkan skor akhir permainan
aku tak tahu mana pertandingan yang
tadi ditayangkan, langsung atau tunda.

Ada seorang asing yang mengajakku
mengadu-untung dengan minuman energi
yang belum kuhabiskan, yang iklannya
ditayangkan di sela-sela jeda siaran.
“Siapa yang lebih alien di antara kita?”
Itulah bahan yang hendak dia pertaruhkan.
Di kota ini, semua orang ingin tetap menjadi
asing, rupanya. Mungkin memang lebih baik
begitu. Semacam makhluk alien yang legal,
orang-orang bertopeng akun medsos palsu,
sepanjang hari berkicau soal pemilihan
gubernur putaran kedua, mengomentari foto
tempat ibadah yang tak mau menyalatkan
jenazah, tertawa untuk adegan dalam video
yang viral: tanya jawab presiden dan santri yang
gagal menyebut lima nama ikan, meskipun tetap
boleh  ambil hadiah sepeda, buatan China.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s