Puisi Sebagai Cermin

SETERASING apapun seorang penyair dari masyarakatnya, ia tetap anggota masyarakat di mana ia hidup. Sepersonal apapun sajak yang dihasilkan oleh penyair, maka itu adalah hasil mengambil bahan dari masyarakat, paling tidak dari dirinya sendiri yang adalah anggota masyarakat di mana ia berada.

“Sastra tidak jatuh dari langit; ia adalah ciptaan sastrawan dan merupakan tanggapan dan sekaligus penilaian terhadap segala sesuatu yang dihayatinya,” ujar Sapardi Djoko Damono dalam artikelnya tentang “Puisi di Zaman Revolusi” (dalam “Sihir Rendra: Permainan Makna”, Pustaka Firdaus, 1999).

Persoalannya, pantulan gambar seperti apakah yang bisa, boleh, dan ingin ditampilkan oleh penyair dengan cermin puisi yang ada di tangannya itu?

Apakah gambar pantul yang sama persis seperti apa yang ia lihat? Tetapi bukankah jurnalistik yang memang berdisiplin untuk mengejar pantulan sepersis-persisnya itu pun tak pernah bisa sempurna melakukan hal tersebut?

Ataukah pantulan gambar yang sudah dipilih, diolah, dipertajam, dikaburkan, dipotong, ditambah di sana-sini, diperindah, dipadatkan, ditonjolkan, sehingga yang tampil adalah gambar baru yang padanya masih bisa dilihat kenyataan awal yang hendak dipantulkan atau bisa juga berbeda atau bahkan sama sekeli terlepas dari hal semula yang hendak dicerminkan?

Saya memilih yang kedua. Dan itulah yang sudah dilakukan dan dicontohkan oleh penyair-penyair terbaik kita terdahulu. Tetapi bagi saya sebelum menjatuhkan pilihan pada yang kedua itu, seorang penyair harus membereskan hal yang pertama. Tidak, penyair tidak harus menjadi seorang jurnalis, tetapi penyair harus punya kemampuan untuk mengamati, menghayati kehidupan, mengobservasi diri sendiri sedalam-dalamnya dan mengamati fenomena di luar dirinya seluas-luasnya. Bedanya dengan penyair, ia mengolah bahan itu menjadi puisi, bukan laporan jurnalistik.

“…untuk menghasilkan tanggapan yang baik terhadap kehidupan, sastrawan memerlukan waktu untuk mengendapkan pengalaman dan penghayatannya. Agar tulisannya tidak merupakan sekedar emosi semata yang melimpah ruah, tampaknya harus ada jarak antara sastrawan dan peristiwa yang menjadi dasar pengalamannya,” ujar Sapardi.

Itulah bedanya kerja menyair dan kerja jurnalistik. Dalam puisi, penyair menyampaikan tanggapannya atau beropini terhadap kehidupan yang ia hayati. Kualitas atau keunggulan puisi antara lain bisa dinilai dari keunikan tanggapan atau opini sang penyair. Dalam jurnalistik, jurnalis harus memisahkan fakta dan opini. Dalam puisi, penyair boleh melibatkan emosinya. Itu yang membuat puisi bisa menghadirkan apa yang personal dari si penyair.

Persoalannya adalah, sebagaimana diperingatkan Sapardi dalam kutipan di atas, puisi tidak boleh jatuh menjadi sekedar emosi semata yang melimpah ruah. Emosi yang dibangkitkan oleh pengalaman yang mendasari puisi itu harus diolah. Penyair tak boleh terseret oleh emosinya sendiri. Dia yang harus mengendalikan emosinya itu. Maka, “Tidak jarang usaha untuk melepaskan diri dari keterlibatan emosional itu memerlukan waktu,” kata Sapardi.

 


Bacaan: Sapardi Djoko Damono; Sihir Rendra: Permainan Makna (Pustaka Firdaus; Jakarta; 1999). Gambar: Lukisan Marc Chagall

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s