Kutulis Sajak yang Tak Pernah Ingin Kutuliskan

AKU tulis sajak ini,
sajak yang sebenarnya tak pernah ingin kutuliskan

Sebab sajak tak bisa menyelesaikan persoalan
kecuali hanya mempersoalkannya

Dan penyair tak punya apa-apa
kecuali kata yang itu-itu saja

Aku hanya memandang dari kejauhan
dan berteriak dari pinggiran

Setiap kali aku mendekat ke pusat pusaran permasalahan
Aku terlempar ke dalam diriku sendiri

Dan mataku ragu, inikah negeri kita sekarang?

Negeri dengan hukum yang menyala remang-remang
dan cahaya keadilan yang kelap-kelip dihembus angin kepentingan

Dan para pemimpin, mereka memimpin dengan pikiran yang gagap

Kita adalah rakyat yang huruf dan angka
Kita memilih mereka karena berharap dan percaya
bahwa mereka pasti telah pandai membaca
dan mahir menghitung nasib baik kita yang tak seberapa baik ini
dengan aritmatika kekuasaan biasa

Tapi mereka terlalu serakah dengan perkalian yang ganjil
dengan angka-angka yang menakjubkan di rekening pribadi dan partai

Dan hatiku cemas, inikah negeri kita sekarang?

Kita masih percaya pada niat baik perubahan
Kita masih makmum di belakang imam yang membaca ayat-ayat kebaikan
Kita masih mengucap amin untuk doa-doa yang akan selalu kami aminkan

Tetapi apakah yang mereka niatkan sama dengan yang semula kita niatkan?
Apakah ayat yang sedang dibacakan itu bisa sama dan bisa bersama kita tafsirkan?
Dan doa yang dipanjatkan itu apakah juga doa kami yang sederhana?

Sajak memang tak bisa menjawab pertanyaan
kecuali mempertanyakannya

Dan penyair tak bisa apa-apa
kecuali menulis sajak yang itu-itu saja

Itu sebabnya aku menulis sajak ini
sajak yang sebenarnya tak pernah ingin kutuliskan

Baca juga
34 Sajak Celanadalam untuk Pesta Kartun Akhir Tahun 2017
34 Sajak Celanadalam untuk Pesta Kartun Akhir Tahun 2017

  SAJAK-SAJAK berikut ini akan saya bacakan dalam pembukaan pameran kartun di Galeri Cipta 3, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 8-18 Baca

Serial puisi dari pentas Perempuan-Perempuan Chairil (3)
Serial puisi dari pentas Perempuan-Perempuan Chairil (3)

Reza Rahadian, Happy Salma, dan Agus Noor. (Foto: Awan Kelana untuk Titimangsa Foundation, 2017) Kecemasan-Kecemasan yang Baca

Apa yang Kuingat tentang Kau dan Benda-benda Pos
Apa yang Kuingat tentang Kau dan Benda-benda Pos

KARTU POS. Kau selalu mengirimkan kartu pos kosong saja. Begitulah kita sepakati, dan aku hanya tahu bahwa itu kau yang Baca

Gerimis, Kodok, Dia, dan Kamu
Gerimis, Kodok, Dia, dan Kamu

GERIMIS itu    mengajarinya      melintasi        jalan di        depan rumahmu          tanpa mening-          galkan          je-          Baca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap