Geometri Kenangan Jalan Pajajaran

: bersama D

KITA berdiri saja di luar pagar kampus tua
dengan lalu-lalang nostalgia yang ragu lebih dahulu hendak menyapa siapa
: nostos, jaket biru yang masih juga basah, atau
pada sesak algos dalam ransel parasut yang hilang itu?

Mana payung heksagon dulu itu?
Engkau bertanya padaku dan gerimis yang selamba
menjawab dengan tawa yang makin lebat

Awan itu, kumulonimbus, mungkin dia masih ingat
pada apa yang dulu kutanyakan padanya,
berapa derajat kemiringan arsiran hujan orografisnya itu,
kenapa dinginnya begitu tebal di telapak tanganku dan punggung tanganmu?

*

Kita berdiam saja memandangi temaram kampus tua
garis tegak-lurus kusen besi tempa, jendela kaca,
sudut lingkar tangga, bangku kayu seperti teater terbuka,
dan kuliah konservasi tanah yang berakhir pada diskusi filosofi,
jerit jazz, dan dangdut yang lewah.

*

Kita berjalan saja, bergandengan dengan bayangan tangan kampus tua
dan jajaran pepohonan Jalan Pajajaran

Mungkin, kataku, apabila engkau bertanya
masih adakah ruang untuk cemas padaku, cemas oleh jadwal ujian,
kuis sebelum dan sesudah praktikum, juga laporan percobaan lapangan?

Mungkin juga tidak, karena selalu ada engkau
yang dengan cemas bertanya tentang kecemasanku pada apa saja
sesudah dan selain itu.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s