Delapan Catatan atas “Ritus Khayali” Buku Sajak Astrajingga Asmasubrata*

14610963_1789108608027096_5251073441913856140_n
Foto dari blog bukunyamput.

LEBIH dari menulis puisi, menyair adalah serangkai tindak dari mengamati, menangkap sebuah fenomena, lalu menghayati, merasakan, memikirkan, dan mewujudkannya dalam satu bangunan bahasa yang unik bentuk dan maknanya.

Fenomena apa yang diamati dan ditangkap itu? Fenomena apa saja yang terjadi di dalam dan di luar diri si penyair, yaitu orang yang menulis puisi atau yang menyair itu. Fenomena yang bagaimana? Tentu saja yang menarik perhatiannya, jika tidak cukup menarik maka tidak akan cukup alasan dan tenaga bagi si penyair tergerakkan untuk menghayati, merasakan, dan memikirkannya. Dan, ia tak akan pernah sampai mewujudkannya menjadi puisi, atau hanya sampai menghasilkan puisi yang buruk.

Fenomena puitik itu mungkin bisa disebut momen puitik, yaitu momen ketika si penyair terpercik api dan tergerak hati, pikiran, dan tangannya untuk menyair. Fenomena itu tidak harus peristiwa besar. Ia bisa saja peristiwa yang sangat remeh. Momen puitik itu memang sangat personal. Penyair yang baik justru bisa diuji di situ: apakah momen puitiknya yang personal dan remeh yang ia wujudkan dalam puisi itu bisa menyadarkan sebanyak-banyaknya pembaca tentang hal-hal kecil yang mudah terabaikan.

Saya akan melandasi pembicaraan saya tentang puisi di buku “Ritus Khayali” ini dengan pemikiran di atas dan nanti mencoba menautkan – sedikit saja – dengan teori enam fungsi bahasa Roman Jacobson. Saya mencatat beberapa hal menarik setelah membaca buku ini:
Pertama, umumnya sajak pada buku ini diucapkan dengan pronomina orang pertama tunggal. Ada beberapa posisi “aku” dalam sajak-sajak di buku ini: (1) “Aku” bicara kepada orang kedua (“kamu”), dan (2) “aku” bicara pada orang ketiga (“dia”).

(1) Aku telah menjadi udara saat mendengar semua desau yang bergetar dalam embus napasmu. (Sebuah Desau yang Menjelma Aku)
(2) Bahkan aku mengira dia menyapa meski tanpa kata-kata: “Silakan duduk, ayo kita main catur sampai mengantuk (Kisah Soe Harrri, 1)
Beberapa sajak bicara lewat “kita”.
(3) Namun seperti yang telah kita ketahui selalu ada kelokan dan arah baru (Seperti Kita Ketahui)

Di antara sajak dengan sudut pandang orang pertama tunggal atau jamak seperti itu, maka bagi saya sebagai pembaca amat menyenangkan ketika menemukan sajak yang berbeda, seperti “Mes”. Sajak ini bicara tentang seorang “kau”: kapstok di balik pintu bersipergok dengan rak sepatu menanti kaugantungkan baju sepulang kerjamu. Kenapa menyenangkan? Karena saya yakin “kau” di sajak ini adalah si penyair sendiri. Di dalam sajak, penyair boleh menjadi “aku”, “dia”, atau “kau”, atau menjadi ketiga-tiganya sekaligus. Mengoranglainkan diri sendiri adalah salah satu cara penyair mengambil jarak dengan fonemena yang ingin ia sajakkan sehingga ada cukup ruang baginya untuk bermain-main, dan dengan jarak itu ia memberi peluang pembaca untuk ikut dalam permainannya.

Kedua, Hampir seluruh sajak pada buku ini hadir dalam bahasa prismatik yang wajar, bahkan cenderung diafan, bahasa yang transparan. Metafora dan similenya wajar, karena itu hampir seluruh sajak di buku ini berhasil dibangun dengan menjaga keutuhan seraya menawarkan cukup banyak kepelikan yang membaut sajaknya menarik untuk dimasuki. Contoh terbaik dari pencapaian ini ada pada sajak “Kamar Tidur Paling Asin”: Kamar tidur menyaru laut bergejolak, bantal menjadi kapal, namun kantuk tetaplah nelayan yang sulit diatur…. Tapi para penyair memilih bikin rakit dari puisi… di ranjang, ribuan rakit berderet tak pernah pergi. Di sinilah pentingnya, tahapan menghayati dalam rangkaian proses menyair sebagaimana disebutkan di awal pembahasan ini, sebelum penghayatan itu diwujudkan dalam bahasa puisi.

Ketiga, umumnya sajak di buku ini adalah sajak bernada liris, bahkan ketika mengajukan protes, protes itu disampaikan dengan halus: Derak ladang garam mengungsikan bau amis ke pusat perbelanjaan napas pembangunan zona strategis memberangus berhektar-hektar hutan bakau (“Pantai Kejawanan”), balada yang orang kecil yang malang: Kopral Jamal kembali membaca surat pensiunnya…..bayonet mencucuk kerongkongannya yang lengket (“Breaking News: Catatan Sesudah Perang”) atau dalam bentuk pamflet pun nada pengucapannya rendah dan dengan satir yang pedih dan jenaka: aku yang terpana menyaksikan menganggap politik adalah kartu gaple dibanting dengan sungguh-sungguh pada alas bekas poster seorang caleg (“Pamflet – (Hahaha)”).

Setiap penyair berangkat dan akan kembali ke sajak lirik. Saya kira penyair kita ini, dengan sajak-sajaknya di buku ini, akan menempuh jalan yang sama. Ada satu sajak yang paling matang, yang menunjukkan pencapaian sejauh ini dan menjanjikan prospek masa depan kepenyairannya. Sajak itu adalah “Siklus”.

Tak ada yang istimewa dari malam
selain bulan sabit menampak di kejauhan
seperti selengkung senyum yang gagal ditafsirkan

Tak ada yang menarik dari pagi
bulan sabit sisa semalam terlihat pasi
seperti sendu wajah setelah air mata membasahi

Tak ada yang samar dari siang
selain bayangan pohon jambu mete di tepi jalan
seperti lambaian tangan dari bangku peron stasiun tua

Tak ada yang temaram dari sore
cuma ruyup teja di balik pohon jambu mete
dan deram kereta yang terdengar seperti requiem

Penyair hanya mencatat dengan cermat apa yang ia lihat atau yang ia bayangkan dari apa yang ia amati. Dia tak hadir di sajak itu. Ia sepenuhnya menghilang. Kita sebagai pembaca dihadapkan langsung pada imaji-imaji yang ia bangun.

Keempat, penyair kita adalah pembaca sajak dengan referensi yang luas: Afrizal, Aslan Abidin, Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Damono, Octavio Paz, Rendra Kriapur. Ada beberapa sajak yang dipersembahkan atau disebutkan di dalam sajak. Ada pula yang dipermainkan sajaknya, yaitu sajak “Suatu Pagi dan Ikan Mas yang Mendadak Mati”. Ini adalah semacam parodi dari sajak “Lirisme Buah Apel yang Jatuh ke Bumi” karya Aslan Abidin. Sejauh ini dimaksudkan sebagai parodi saya masih bisa menerima sajak ini sebagai sebuah “pencurian” yang dibenarkan dalam konteks “penyair yang lemah hanya akan menjadi peniru, penyair yang kuat berani menjadi pencuri”

Kelima, dari 92 sajak di buku ini 37 sajak ditulis di Maja, 1 sajak di Bandung, 1 sajak di Depok, 1 sajak tak bertanda tempat, selebihnya (52 sajak) di Pondokbambu. Tempat yang dengan sadar ia catat di mana ia sedang berada ketika menulis sajak-sajaknya tampaknya menjadi sesuatu yang penting bagi penyair kita ini. Ini saya lihat berkaitan dengan fakta pertama yang saya sebutkan di catatan ini, yaitu dominasi kehadiran penyair sebagai “aku”. Cantuman soal tempat itu seakan-akan berada di luar sajak, yang oleh pembaca tidak perlu diikutsertakan dalam proses memaknai sajak. Saya mencoba mencari jangan-jangan ada pola-pola tema yang membedakan sajak-sajak Pondokbambu dan Maja, tapi rasanya saya tak menemukan apa-apa. Karena itu bagi saya, seandainya keterangan tempat (dan tahun penulisan) itu dihapus (atau disimpan saja hanya sebagai catatan pembukuan bagi si penyair) maka sajak-sajaknya akan sedikit “terlepas” dari satu beban kecil. Puisi itu adalah ikhtiar untuk mengabadikan yang fana, kefaaan itu – karenanya ia boleh dilepaskan saja – bisa berupa keterikatannya pada tempat dan waktu.

Keenam, konon kematangan penyair terlihat atau teraih ketika ia bisa mengenali atau berupaya mengenal sajak dan perangkat-perangkat puitikanya sebagai medium ekspresinya. Wujudnya adalah sajak-sajak yang metapuisi, puisi yang bicara tentang puisi (penyair kita ini mencoba melakukannya lewat sajak “Kepada Puisi”, “Sajak-Sajakku”) atau menjadikan puisi sebagai jalan untuk mengucapkan sesuatu (“Versi Lain”, “Erang tak Kelihatan”). Ini sebenarnya pilihan yang agak berisiko. Jika kematangan tak teraih maka yang tampak adalah semacam kegenitan. Untungnya, penyair kita – meski nyaris saja terjatuh – terselamatkan dari kegenitan itu. Tindak menghayati, merasakan, memikirkan dalam proses menyair adalah laku yang harus terus-menerus dipermahir.

Ketujuh, penyair kita ini punya kesadaran akan bentuk sajak yang kaya. Ia menulis dalam bentuk sajak dengan bait-bait dua baris (kuplet) yang tertib, stanza tiga baris (terzet), bait-bait dengan empat baris (kwatrin), lima baris (kuintet), dan enam baris (sestet), bahkan soneta. Dan, tentu juga sajak bebas. Kesadaran dan pilihan atas bentuk formal ini penting. Bentuk-bentuk formal itu adalah konvensi yang membatasi. Keberhasilan mengatasi atau menaklukkan konvensi ini adalah juga pembuktian dan pencapaian bagi seorang penyair.

Delapan, ada beberapa sajak serial di buku ini. Kisah Soe Hari (1 dan 2), Sajak Putih (1 & 2), Sum (1 – 3), Usia dan Kata yang Dicetak Miring (1 & 2), Dada (1-3), Makam (1 & 2). Buat saya sajak-sajak serial semacam itu adalah bukti dari sebuah intensitas pengamatan dan ketekukan menggarap sajak. Sebuah fenomena bisa selesai dituliskan dalam satu sajak. Kenapa harus ada sajak kedua dan ketiga? Karena penyair merasa ada yang tak tuntas dan masih berharga untuk diucapkan.

Roman Jacobson (dalam Benny H. Hoed “Semiotik & Dinamika Sosial Budaya”, Komunitas Bambu, 2106) seorang pemikir linguistik yang mengembangkan teori Karl Bühler menjelaskan ada enam fungsi bahasa, salah satunya adalah fungsi puitik. Fungsi puitik bahasa terjadi ketika bahasa digunakan untuk menonjolkan pesan, sehingga bentuknya menjadi bebas dan khusus.

Jacobson tak melihat lagi struktur bahasa sebagai sesuatu yang penting, karena bahasa dalam teori menjadi aksi sosial (penghubung antara pengirim dan penerima), menjadi alat komunikasi (penyampai pesan). Penyair kita tetap berada dalam kerangkan linguistik tersebut, dia adalah penyampai yang ingin menyampaikan pesan lewat bahasa puisinya, dan memberdayakan seluruh fungsi bahasa – tak hanya fungsi puitik yang tentu menjadi yang utama di buku ini – tetap juga fungsi emotif, konatif, referensial, fatik, dan metabahasa (dalam hal ini metapuisi). Delapan catatan di atas adalah penjelasan bagaimana penyair kita dengan baik menjalankan fungsi ke-6 yaitu fungsi puitik, di dalam bahasa puisi-puisinya.

Pembicaraan ini bisa dilanjutkan – dan mungkin akan menjadi diskusi yang lebih menarik lagi – jika kita mencoba masuk ke proses semiosis, pemberian atau mencoba mencari makna dari sajak-sajak yang sedang kita bicarakan ini. Mungkin di lain kesempatan, tapi ini perlu saya sebutkan untuk menutup pembahasan ini dengan kalimat: bahwa sajak-sajak penyair kita Astrajingga Asmasubrata adalah teks yang menjanjikan kenikmatan semiotika jika kita mau menelusurinya.

Jakarta, 14 Desember 2016

* Pos ini adalah bahan untuk diskusi buku “Ritus Khayali” karya Astrajingga Asmasubrata yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, 14 Desember 2016. 
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s