Cinema Paradiso

PERGILAH, Salvatore, pergilah!

Sebelum sesuatu yang lain terbakar,
dan kau jadi buta.

Aku ingin, dengan matamu, kau melihat
kota-kota lain, untukku, tidak lewat proyektor tua
dan ruang pemutar yang semakin sempit ini.

Pergilah, karena perang sudah reda.

Kami tak lagi harus berdusta
tentang ayahmu, misalnya, kau tak harus mencari
di medan tempur mana ia ditembus peluru
dan tak ada dokumentasi yang pantas untuk pemakamannya.

Kota ini, Salvatore, aku tahu
menciptakan banyak kenangan untukmu, seperti
adegan yang putus oleh keleneng lonceng pastor,
aku tak membuangnya, Salvatore, aku menyimpannya, untukmu.

Tapi kenangan itu, Salvatore, mengandung suatu bahan
yang juga mudah terbakar dan membakar, karena itu
pergilah. Pergilah, Salvatore.

Sebab aku tidak bisa lepas dari kenangan itu,
dan kau pergilah.

Pergilah, Salvatore, karena akan terlalu lama kau tersiksa,
oleh siksa yang mungkin bisa kau hindari.

Pergilah, Salvatore, dan jangan pulang
kecuali oleh sebuah telepon tentang kematianku,
dan kenangan akan surga sinema yang runtuh
di alun-alun kota kita yang kalah.

Saat itu, kau mungkin sudah bisa tahan menahan, dan
mampu memandang masa lalumu – dan masa lalu kota ini-
dengan senyum yang pedih: penuh dan sedih.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s