Bermain Sistem Bahasa dan Menjadi Penyair yang Unik

Oleh Hasan Aspahani 

BAHASA adalah sistem yang memadukan dunia bunyi dan dunia makna. Karena bahasa adalah sebuah sistem maka ia sistematis dan sistemis. Sistematis artinya bahasa bukanlah sejumlah unsur yang terkumpul secara kacau tidak beraturan. Unsur-unsur bahasa teratur atau diatur seperti pola-pola yang berulang sehingga apabila ada salah satu bagian yang tak ada, maka masih dapat dibayangkan keseluruhan ujarannya.

Artikel terkait: Lisensi Puitika dan Parole Penyair

Puisi menjadi mungkin karena sifat bahasa yang sistematis itu. Penyair dalam puisinya seringkali dengan sengaja mengabsenkan satu dua unsur bahasa, atau malah menambah-nambahinya, tanpa merusak sistem bahasa. Penyair bebas mengutak-atik sistem bahasa itu. Risiko dari permainan utak-atik itu adalah bahasa menjadi rusak dan kehilangan kemampuannya untuk mengantar pada makna yang telah disepakati atau makna baru yang ditawarkan oleh penyair. Kerusakan itulah yang menjadi batas kebebasan penyair. Ia tentu saja boleh patuh pada batas itu, toh setakat itu ia telah memiliki kebebasan untuk mempermaikan sistem, atau secara sadar melanggarnya, merusak sistemnya. Risiko tentu ditanggung sendiri.

Bahasa adalah sistem yang sistemis, artinya sistem itu terpaut dan saling terhubung  dengan susunan yang teratur dan terdiri atas beberapa subsistem yaitu subsistem fonologi, gramatika, dan leksikon. Ketiga subsistem itulah yang menyusun struktur sistem bahasa. Pada ketiga subsistem itulah berpadu dunia bunyi dan dunia makna.

Bayangkanlah ada dua lingkaran besar. Satu lingkaran adalah dunia bunyi, dunia “fonetik”. Lingkaran lain adalah dunia makna, dunia “semantik”. Pada irisan kedua lingkaran itulah dibangun struktur bahasa yang tersusun dari tiga subsistem tadi. Ketiga subsistem tadi tidak bisa tidak padanya terkandung aspek semantis dan fonetis.

Penyair ketika ia menyair adalah pengguna bahasa yang secara sadar tertantang untuk bermain-main dengan aspek bunyi, kalimat, dan makna. Penyair memaksimalkan apa yang bisa dicapai dalam sistem bahasa dengan ketiga subsistem itu. Di tangan penyair, puisi adalah ajang bermain: permainan bunyi, permainan kalimat dan permainan makna.

Di luar ketika subsistem tadi, linguistik menetapkan satu hal lagi. Hal yang di luar ketika subsistem, bahkan di luar dunia bunyi dan dunia makna. Bahasa selalu diungkapkan dalam konteks. Ada unsur-unsur ekstrastruktural yang menyebabkan apakah sistem bahasa itu berpadu serasi atau tidak. Batasnya tidak selalu jelas. Unsur-unsur di luar struktur itu dalam linguistik disebut “pragmatik”. Sopan-santun berbahasa, moral kata, mitos-mitos, kaidah-kaidah keimanan merupakan contoh pragmatik yang mempengaruhi perpaduan ketika subsistem bahasa tadi.

Di dalam puisi-puisinya, penyair dengan girang menciptakan konteks-konteks pemanfaatan ketiga subsistem tadi. Dengan konteks-konteks itulah kemudian dia menyerasikan perpaduan ketika subsistem tadi. Unsur pragmatik bagi penyair pun bebas untuk dengan sadar diindahkan atau dilawan. Penyair adalah pengguna sistem bahasa dan subsistem-subsistemnya yang punya otoritas tinggi. Ia boleh menyusun mitos-mitos bahasa diluar sistem tadi, untuk kepentingan persajakannya. Penyair boleh melanggar moral kata, lagi-lagi untuk kepentingan persajakannya. Semua harus dia lakukan dengan sepenuh sadar, dan dengan memperhitungkan dan siap menerima atau mengantisipasi semua risiko.

Penyair, sastrawan dan kritikus sastra, harus mengambil manfaat dari ilmu bahasa, dari Linguistik. Sebab kesusasteraan tidak mungkin ada kalau tidak ada bahasa. Orang yang ingin masuk ke relung-relung kesusasteraan harus memaklumi sifat-sifat bahasa, kemampuan bahasa, dan batas-batas kemampuan bahasa itu. Pun demikian keharusan bagi penyair. Ia harus mengenal sistem bahasa dan struktur bahasa yang terdiri atas subsistem-subsistem tadi. Setelah mengenal dengan baik, penyair kemudian bebas bermain-main. Akhirnya, puisi tetaplah sebuah produk berbahasa, produk yang dihasilkan setelah penyair secara sadar memanfaatkan fungsi sistem bahasa. Dan puisi harus selalu bisa dikembalikan pada ketentuan-ketentuan berbahasa.

Bahasa memang sebuah sistem yang produktif. Artinya dengan unsur-unsur yang terbatas jumlahnya bisa dipakai secara tidak terbatas. Penutur atau pengguna bahasa mungkin hanya menggunakan sebagian kecil dari ketidakterbatasan itu. Penyair harus memanfaatkan produktivitas bahasa itu sebanyak-banyaknya. Bahasa Indonesia, mempunyai fonem kurang dari 30. Dengan fonem itu tercipta lebih dari 80 ribu kata. Penyair harus melihat kemungkinan menciptakan kata-kata baru dari fonem-fonem itu. Bahasa memerlukan banyak sekali kata baru. Banyak hal yang belum diberi nama, banyak hal yang belum diberi tanda bahasa, belum diciptakan kata untuk hal itu.

Bahasa Jawa misalnya punya kata khusus untuk 100 anak binatang yang tidak dikenal dalam bahasa Indonesia. Menciptakan kata baru atau mendatangkan kata baru, bagi penyair berbahasa Indonesia boleh dengan mengambil kata-kata di luar Bahasa Indonesia. “Tukik” adalah kata untuk anak penyu. “Gudel” adalah anak kerbau. Tidak harus penyair yang mengenalkan kata baru itu. Tapi penyair tentu juga tidak dilarang untuk melakukannya, ya lewat apa lagi kalau bukan lewat sajak-sajaknya. Bahasa Inggris mengenal 50 kata untuk menggambarkan pelbagai bentuk daun yang tidak dikenal dalam bahasa lain, juga dalam bahasa Indonesia. Jika memang diperlukan, penyair boleh menciptakan atau mengenalkan kata baru untuk itu, terutama dan pertama-tama untuk keperluan sajak-sajaknya.

Bahasa indonesia hanya mengenal lima tipe kalimat penuturan, yaitu pernyataan, pertanyaan, perintah, keinginan, dan seruan. Dari kata yang ada tadi atau dari kata baru yang dikenalkan atau diciptakan bisa disusun ribuan atau bahkan jutaan kalimat dengan kelima tipe itu. Penyair adalah pengguna bahasa yang amat mahir menciptakan kalimat-kalimat untuk sajak-sajaknya dengan lima tipe kalimat tadi.

Bahasa, seperti dicirikan dalam kajian linguistik, memang menawarkan kemungkinan kepada penggunanya untuk menjadi unik, berbeda dengan pengguna lain. Kemungkinan-kemungkinan untuk menjadi unik itulah yang harus digali oleh penyair secara sadar. Penyair Sutardji Calzoum Bachri pada tahun 1979 menuliskan pesannya bahwa penyair harus melakukan pencarian-pencarian, semaksimal mungkin. “Kau harus melakukan pencarian-pencarian, kau harus mencari dan menemukan bahasa. Yang tidak menemukan bahasa takkan pernah disebut penyair,” ujarnya. Dengan kata lain, penyair itu bilang, bahwa penyair harus berbahasa secara unik.

Bacaan:
1. Kridalaksana, Harimurti, “Bahasa dan Linguistik” dalam Kushartanti, Untung Yuwono, Multamania RMT Lauder (Editor). 2005. “Pesona Bahasa, Langkah Awal Memahami Linguistik”. Hal. 3-14. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

2. Bachri, Sutardji Calzoum. 1981. “O, Amuk, Kapak”. Cetakan Pertama. Hal. 104. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s