Lisensi Puitika dan Parole Penyair

Oleh Hasan Aspahani

ILMU bahasa atau linguistik menetapkan, bahasa adalah sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri.

Bahasa yang dirumuskan seperti itulah yang juga dipakai oleh penyair sebagai bahan dan sekaligus juga sebagai alat bermain yaitu ketika ia menyusun sajak-sajaknya. Penyair ada dan hidup dalam bahasa itu, ia tidak berada di luar bahasa itu.

Definisi pada dasarnya memang sebuah batasan. Batasan itu diperlukan agar ia mudah dipahami, mudah dikaji sebagai ilmu. Ada atau tidak ada batasan itu, bahasa lebih dahulu telah digunakan. Ia telah ada lebih dahulu. Dan penyair adalah pengguna bahasa yang bertuan pada kreativitas, pada kebaruan-kebaruan. Dia tidak menghamba pada batasan. Ia mendobrak batasan. Karena itu ia harus kuat. Ia harus punya alasan untuk melakukan pendobrakan. Ia tidak boleh asal dobrak. Seorang pendobrak pertama-tama harus benar-benar mengerti apa yang hendak ia dobrak.

Penyair memang “diberi” hak untuk menjadi pendobrak, itulah yang disebut “liscensia poetarum”, lisensi putika, yaitu kebebasan yang diberikan kepada dan dipakai oleh seorang penyair, juga penulis prosa, atau seniman yang bekerja dengan medium bahasa lainnya untuk menyimpang dari aturan, bentuk konvensional, logika, atau fakta, untuk menghasilkan efek yang diinginkan.

Rumusan bahasa tadi bisa dijelaskan panjang sekali. Sebuah daftar pertanyaan panjang bisa disusun dari definisi itu. Apakah sistem? Apakah sistem tanda? Apakah sistem bunyi? Kenapa kita harus bekerja sama? Untuk apa berkomunikasi? Dan apa pula perlunya kita mengidentifikasi diri sebagai individu atau sebagai anggota kelompok masyarakat tertentu? Lantas bila jawaban atas semua pertanyaan itu bisa menjelaskan bahasa, bisakah pula bahasa dalam puisi dan puisi itu sendiri dijelaskan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama?

Baiklah kita jawab saja beberapa pertanyaan di atas. Bahasa adalah sistem tanda. Apakah sistem tanda? Tanda adalah sesuatu hal yang dibuat untuk mewakili sesuatu hal lain. Tanda harus menimbulkan tanggapan yang sama bila orang melihatnya, atau mendengarnya, yaitu orang tersebut terbawa sampai kepada hal yang diwakili oleh tanda itu. Penyair harus menguasai tanda-tanda itu. Penyair harus masuk jauh ke relung sistem tanda itu.

Bahasa adalah sistem bunyi. Jadi tanda-tanda yang diciptakan dalam bahasa adalah berupa bunyi-bunyi. Tapi sebelum membahas lebih jauh, jika bahasa adalah sistem bunyi, maka apakah itu berarti definisi atau pengertian bahasa hanya terbatas pada bahasa lisan? Melupakan bahasa tulis? Tidak dan tidak. Bahasan pokok bahasa adalah bunyi. Tulisan adalah turunan dari bunyi yang sekunder sifatnya. Manusia pada dasarnya dan pada mulanya bisa berbahasa tanpa mengenal tulisan.

Huruf tidak lain adalah lambang bunyi itu sendiri. Huruf dikenal kemudian setelah manusia berbahasa — ya tentu bahasa lisan. Sajak-sajak dalam bentuk awalnya adalah bentuk-bentuk lisan. Dari sana kita mengenal sebutan tradisi sastra lisan, sebelum masuk ke sastra yang beraksara, sastra yang tertulis. Tradisi tulis kemudian juga memberikan peran yang besar mengembangkan dan memajukan bahasa. Tetapi, tetap saja, disepakati oleh ahli-ahli linguistik bahwa bahasa adalah sistem tanda bunyi, tanpa mengurangi peran aksara, sebab ihwal aksara itu pun menjadi bahasan penting dalam kajian linguistik.

Ketika seseorang menyebut atau membunyikan “mata”, maka yang ia melepaskan sebuah tanda. Tanda yang ia maksud itu adalah “bagian tubuh manusia yang ada di wajah, yang berfungsi sebagai organ penglihatan”. Orang lain yang mendengar tanda yang disebutkan tadi akan menangkap tanda itu dan mengartikannya sama dengan yang dimaksudkan oleh si pemberi tanda, yaitu “mata” yang mata itu. Bukan “bata”, bukan “mati”. Artinya “mata” telah disepakati sebagai tanda. Dua orang tadi telah mempergunakan tanda yang telah disepakati itu.

Posisi penyair lebih sering atau bahkan selalu sebagai pemberi tanda. Lewat sajak-sajaknya, si penyair melepaskan tanda-tanda yang ia susun dalam puisinya, agar ditangkap oleh pembaca. Apakah pembaca harus menangkap tanda itu sesuai dengan tanda yang dimaksudkan penyair? Nah, inilah asyiknya puisi. Di sinilah kebebasan itu. Penyair bebas menentukan aturan mainnya, sekaligus bebas untuk tidak bebas, dan bebas juga untuk tidak memainkan apa-apa.

Penyair mula-mula harus tahu dan faham benar bahwa ada tanda-tanda berupa kesepakatan-kesepakatan itu. Penyair harus sadar bahwa ia adalah anggota dari masyarakat yang bersepakat itu. Di luar puisi, penyair sama saja dengan anggota masyarakat yang terikat dengan kesepakatan itu. Tetapi ketika ia memerankan diri sebagai penyair, yaitu ketika ia menggubah sajak-sajaknya ia bebas untuk “menawarkan” kesepakatan lain. Bagaimana cara si penyair menawarkan kesepakatan itulah yang menentukan nilai sajak-sajaknya. Dan pembaca tentu boleh menolak tawaran kesepakatan baru itu.

Penyair boleh mencoba kesepakatan baru dengan menciptakan “mata” lain yang bukan mata yang sudah disepakati. Penyair boleh bermain-main dengan menawarkan makna baru dari “mata hati”, “mata pisau”, “mata malam”, “mata baca”, “mata kata”, “mata dada” atau “mata apa saja”. Penyair seharusnya tidak hanya menawarkan kesepakatan baru itu, tetapi secara terbuka atau terselubung ia menjelaskan alasan-alasan agar pembaca bisa menerima bahkan menikmati kesepakatan baru itu.

Kita kembali ke definisi bahasa tadi di mana disebutkan salah satu fungsi bahasa adalah untuk mengidentifikasi diri. Artinya bahasa bisa digunakan untuk melekatkan diri pada sebuah identitas bersama atau sebaliknya juga bisa membuat identitas diri yang unik dalam sebuah kebersamaan yang seragam, maka dengan puisilah fungsi itu bisa maksimal dicapai.

Tanpa menjadi penyair, setiap orang sadar atau tidak mengungkapkan ciri pribadinya yang khas ketika ia berbahasa. Setiap orang mempunyai ciri yang berbeda dengan orang lain. Linguistik menyebutkan tiap orang mempuna “idiolek”. Idiolek, dalam teori yang dirumuskan Ferdinand de Saussure (1857-1913) – Bapak Linguistik Modern – disebut “parole”, yaitu manifestasi dan realisasi yang nyata oleh tiap pemakai bahasa. Parole menampakkan variasi-variasi berbahasa. Parole dibedakan dengan “langue”, yaitu sistem baku bahasa yang ada dalam minda pemakai bahasa suatu kelompok sosial. Langue adalah konsep bahasa yang ideal, yang sempurna. Tata bahasa, sistem ejaan dan lain-lain ada di wilayah “langue” itu.  Seorang penyair, adalah seorang pengguna bahasa yang akhirnya bisa diidenfikasi dari caranya atau gayanya berbahasa di dalam puisi-puisinya. Penyair adalah pengguna bahasa yang secara sadar memaksimalkan pencapaian dan menciptkan “parole”-nya sendiri.

Menurut saya itulah hakikat lain dari puisi yaitu penyair harus menemukan cara dan gayanya sendiri didalam menggunakan fungsi-fungsi bahasa di dalam sajak-sajak karyanya. Bakdi Soemanto, misalnya, menyimpulkan bahwa “kepenyairan” Sapardi (Djoko Damono) menempatkan “kata” sebagai taruhan utama. Ia, “kata” itu, hadir dalam karya sebagai pembawa pesan dan petunjuk benda atau sesuatu lainnya, yang oleh ahli semiotika disebut “signifier” dan, bisa juga, “kata” muncul sebagai jagat kehidupan sendiri yang seakan-akan otonom. Artinya, “kata” yang disajikan dalam karyanya merupakan keutuhannya sendiri dan tidak menuntut dihubungkan dengan benda, hal-hal lain, di luar “kata” itu. Tetapi, sekali lagi, penyair pun harus ingat, bahwa berpuisi bukanlah hal terpokok dalam berbahasa. Berpuisi hanyalah salah satu pendayagunaan fungsi bahasa.

Bacaan:

1. Kridalaksana, Harimurti. “Bahasa dan Linguistik” dalam Kushartanti, Untung Yuwono, Multamania RMT Lauder (Editor). 2005. “Pesona Bahasa, Langkah Awal Memahami Linguistik”. Hal. 3-14. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

2. Soemanto, Bakdi. “Sapardi Djoko Damono, Karya dan Dunianya”. 2006. Hal 192. Jakarta: Grasindo.

Iklan

Satu pemikiran pada “Lisensi Puitika dan Parole Penyair

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s