Catatan Kecil Sapardi Soal “Menerjemahkan Puisi”

Catatan: Catatan ini disalin dari majalah Horison No.3 tahun IV, Maret 1969. Pada tahun-tahun itu, majalah ini kerap memuat terjemahan sajak-sajak asing, dan Sapardi Djoko Damono salah satu yang sering melakukan penerjemahan tersebut.

             1. Mari berpikir begini: sebuah sajak Jepang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris; kemudian sajak terjemahan itu diterjemahkan ke dalam Bahasa Belanda; dan dari Bahasa Belanda sajak itu kita terjemahkan ke dalam bahasa aslinya, Bahasa Jepang. Saya yakin bahwa sajak yang “baru” dalam Bahasa Jepang itu akan lain dengan sajak aslinya. Ini sekadar membuktikan bahwa dalam kerja menerjemahkan sajak ada sebagian dari sajak itu yang hilang atau mungkin juga bertambah. Hal ini pulalah yang menyebabkan kita kadang bertanya-tanya kenapa sebagaian dari “Puisi Dunia”-nya Taslim Ali terasa “lemah”, padahal ditulis oleh penyair-penyair yang lebih-kurang terkuat. Atau: bahwa sajak John Conford yang berjudul “Poem” terasa lebih “buruk” kalau kita bandingkan dengan terjemahan Chairil Anwar atasnya.

2. “Poetry is untranslatable”, itu seru kamu ekstrimis akhirnya. Kita setuju pendapat itu apabila dengan kerja menerjemahkan dimaksudkan: mengalihkan puisi ke bahasa lain lengkap dengan seluruh nilai yang ada pada puisi itu: ritmenya, simbol-simbolnya, bunyi bahasanya, temanya, dlsb. Pokoknya tak ada yang boleh tercecer atau ditambah-tambah. Untunglah menerjemahkan tak menuntut seberat itu. Ia memang ke sana arahnya, tetapi bagi saya cukuplah apabila sebagian terbesar dari “sesuatu” yang ada pada puisi itu tertangkap dan teralihkan.

3. Kerja menerjemahkan menjadi sulit kalau sebagian besar nilai puisi dipertaruhkan pada “permainan” bunyi bahasa Lebih baik kita mundur daripada mencincang puisi itu. Saya ambil contoh sebuah puisi G.M. Hopkins “Pied Beauty”, yang beberapa barisnya begini:

What is fickle, freckled (who knows how?)
With swift, slow; sweet, sour; dazzle, dim;
He fathers-forth whose beauty is past change:
           Praise him

             Bunyi-bunyi frikatif dan desis, yang merupakan kontribusi langsung kepada nilaisajak itu, sulit untuk ditundukkan. Dan kitapun terpaksa mengakui bahwa memang tak semua puisi bisa diterjemahkan, apalagi setelah menghadapi judul sajak yang sudah menolak terjemahan mili E.E. Cummings ini:

         “What If a Much of a Which of a Wind”.

             4. Pada dasarnya menerjemahkan puisi adalah “menyusun” puisi baru, malahan dengan batasan-batasan. Dan iapun harus melalui suatu proses kreatif, tanpa mana hasilnya hanyalah puisi-palsu. Oleh karena itu sampailah kita pada pendapat: sebaiknya penerjemah puisi itu penyair; atau lebih keras lagi: seharusnya penyair. Ini untuk menghindari hasil yang merupakan susunan kata-kata atau kalimat yang “menyerupai” puisi.
Di beberapa negara kerja ini begitu dihargai, sehingga kadang-kadang kita lihat di perlbagai majalah nama penerjemah dicetak dengan huruf-huruf besar, sedang nama penyair aslinya kecil saja di sudut.

5. Perkenalan dengan puisi-asing sangat bermanfaat bagi perkembangan puisi kita sendiri. Ia banyak menolong kita untuk mengerti beragam gaya dan bentuk yang ada pada dunia perpuisian masa kini, toh maslaah “modern” dalam puisi tak bisa kita pisahkan dari kepeka-rasaan kita terhadap gaya serta bentuk itu sendiri. Penampilan puisi asing bisa berarti memberi semangat atau pembuka jalan; kita harus mengakui bahwa banyak bibit-bibit dalam perpuisian kita perlu kadang-kadang menjenguk ke luar, padahal tertahan oleh kesulitan bahasa.

6. Dan di sini kita patut mengingat nama-nama beberapa penyair dan sastrawan yang masih punya sedikit waktu untuk memperkaya sastra kita dengan terjemahan-terjemahan: Amir Hamzah, Chairil Anwar, Trisno Sumardjo, Ramadhan K.H., Hartojo Andangdjaja, Goenawan Mohamad, Taufiq Ismail…… ***

Solo, 20 Juli 1968

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s