Subagio Sastrowardoyo: Sajak Diafan, Sajak Prismatik

subagio
Subagio Sastrowardoyo

SETELAH enam edisi, pada bulan Februari 1967, majalah sastra Horison menyelenggarakan sebuah diskusi membahas cerpen dan puisi yang terbit di majalah itu. Fuad Hassan tampil membahas cerpen, dan Subagio Sastowardoyo kebagian mengulas puisi. Hasil diskusi dilaporkan oleh Goenawan Mohamad pada Horison Maret 1967.

Subagio baru kembali dari Amerika. Di sana ia belajar sastra di Yale University. Dan kemudian mendalami lagi ilmu sastra untuk gelar doktor. Harapan besar ada padanya sebagai kritikus.

Pada enam edisi pertamanya Horison memuat 40 sajak. Sajak-sajak itu ditulis oleh: Junus Mukri Adi, Hartojo Andangdjaja, Supra Djajanto, Indonesia O Galelano, Abdulhadi W.M (yang memakai nama Abdul Hady W), Chairun Harun, SK. Insan Kamil, Herman KS, Goenawan Mohamad, A. Mudjahid, Daelan Muhamad, A Munjahid, Arifin C. Noer, Bertha Pantouw, C. Horo Rambadeta, A. Wahid Situmeang, Arifin Soemardjan, Trisno Sumardjo, Surachman R.M, Sandy Tyas, dan M. Wahjono.

Itulah yang jadi bahan analisa Subagio. Ia mulai dengan mencari azas sajak. “Menurut penglihatan saya  azas itu harus dicari pada tendensi sajak untuk mencapai intisari dan esensi dari pengertian, perasaan, suasana dan nada, pengucapan dan penulisan, yang dimungkinkan oleh bahasa,” ujar Subagio.

Disamping itu, papar Subagio, pengalaman intelektuil, emosionil dan fisis hendak dituju sajak pada intisarinya.

“Segi dan kejadian aksidentil yang tidak terpusat pada pokok pengalaman tidaklah menjadi perhatian sajak,” ujarnya.

Berangkat dari azas seperti itu, Subagio membagi sajak-sajak Horison yang ia bahas kedalam dua golongan. Pertama, sajak-sajak yang bergaya diafan, yaitu sajak yang langsung bicara tanpa banyak mempergunakan perbandingan berupa simbolik dan metafora.  Sajak diafan lebih bersifat serebral. Keuatannya pada kandungan pikirannya. Tema-tema sajak-sajak ini menyangkut psersoalan sosial dan duniawi.

Kedua, sajak-sajak prismatis. Sajak-sajak kelompok ini lebih menuju kepada kesubtilan emosi, rasa dan kesadaran yang hanya dapat digamit oleh kata-kata melalui ketaklangsungan simbolik dan metafora. Sajak-sajak ini bertemakan rasa kehidupan serta kesadaran spiritual.

“Sebagian besar sajak-sajak Horison termasuk kategori yang pertama,” ujar Subagio. Dan dia menolak sajak-sajak diafan, sajak yang kebetulan merujuk pada sajak Arifin C. Noer yang dibantainya, yang diterbitkan Horisin dari manuskrti Arifin: “Sajak yang Kehilangan Sajak”. Dari laporan Goenawan, kita bisa bayangkan sebuah diskusi yang seru. Asrul kasih tanggapan. Boen S Oemarjati juga. Taufiq Ismail angkat bicara.

Goenawan tampaknya juga berseberangan dengan analisa Subagio. Kira-kira bantahan Goenawan adalah: jika Subagio menolak sajak diafan, kenapa dia banyak sekali bicara dan menuntut logika dalam sajak?  Bukankah justru  sajak yang prismatik itu yang mempermainkan logika? Goenawan dalam diskusi mencoba mencari jawaban kenapa sajak-sajak diafan meraja pada tahun-tahun itu. Ada semacam trauma dari persajakan 1950-an, puisi yang seperti teka-teki, yang seperti berprinsip “makin sukar makin baik”. Sajak-sajak seperti itu banyak mengisi majalah Kisah. 

“Ini justru suatu perkembangan. Karena sajak-sajak sulit itu telah menimbulkan semacam krisis kepercayaan kepada puisi,” kata Goenawan.

Selain soal dominasi sajak diafan, Subagio juga  membaca sinyal kurangnya individualias puisi. Untuk hal ini Goenawan berdiri di pihak Subagio. Ia menulis: …puisi yang kurang kadar individualitasnya sama sekali belum menunjukkan satu perkembangan yang positif.

“Puisi adalah – dalam bentuknya yang sekarang – suatu kegiatan modern, ‘urban’ – suatu fset dari proses medornisasi masyarakat kita,” ujar Goenawan.

Puisi adalah pernyataan individualitas. Karena itu Goenawan menyayangkan kenapa belum lagi ada, hingga diskusi itu, penyair yang “kurangajar” seperti Chairil Anwar – seorang “penyair terkutuk” – yang menggoncangkan sastra Indonesia dari kantuk pastoralnya.

Puisi adalah jalan bagi penyair untuk menemukan dan menawarkan kebaruan dalam medium bahasa. Dan bahasa memungkinkan itu, seperti kata Subagio. Kemungkinan itulah yang membuka jalan bagi penyair untuk tampil, hadir, menyeruak dengan keberbedaan. Saya kira bahan-bahan diskusi nyaris setengah abad yang lalu itu, masih relevan untuk dipakai membicarakan dan menganalisa sajak-sajak kita hari-hari ini.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s