Ketemu Sapardi di Soal Ujian Nasional

img_0748

 

Banyak jalan menuju sajak Sapardi.

            Hanya tiga bulan berselang sejak meluncurkan buku novel  Hujan Bulan Juni, September 2015, Sapardi meluncurkan buku barunya, lagi, Melipat Jarak. Keduanya diterbitkan oleh Gramedia. Keduanya diluncurkan dengan meriah. Buku berisi 75 sajak pilihan Sapardi dari buku-bukunya yang terbit antara 1998-2015, dipilih bersama Hasif Amini dan Sapardi sendiri.

“Saya memilih 75, Hasif memilih 75 sajak… Kurang lebih ya pilihannya sama. Mungkin pada 50 sajak pilihan kami sama. Yang 25 sajak lagi, kami pilih lagi bersama-sama. Tidak susah, Hasif itu orang yang sangat mengerti puisi,” kata Sapardi. Angka 75 dipilih untuk menandai usianya yang tahun ini mencapai bilangan itu.  Hasif Amini adalah redaktur puisi di surat kabar Kompas.

Peluncuran buku di Jakarta Convention Center itu dirancang hanya untuk dihadiri sedikit orang. Tak banyak kursi yang disediakan. Penerbit hanya menyediakan 200 eksemplar buku yang dijual pada saat itu, karena resminya nanti pada akhir bulan baru tersedia di toko-toko buku.  Nyatanya, pengunjung melebihi kapasitas kursi. Ramai sekali. 200 buku ludes. Antrean panjang terjadi pada sesi penandatanganan buku.

Yang membahagiakan penyair adalah ketika menemukan dan menemui pembaca-pembacanya. Itulah yang terjadi pada peluncuran buku itu. Seorang gadis, baru tamat SMP, berebut mikropon meskipun sesi tanya jawab sudah ditutup oleh penanya terakhir. Pembawa acara membiarkannya bicara.

“Saya membaca sajak Pak Sapardi di soal ujian nasional! Saya mau nangis, tersentuh, tapi takut dikira kesurupan,” kata gadis itu. Sapardi menunduk, tersenyum lebar dan geleng-geleng kepala. Hadirin tertawa. Gadis itu lalu mencari siapa Sapardi Djoko Damono di mesin pencari.  Ia sejak saat itu menjadi pembaca sajak-sajak Sapardi, dan menunggu saat bertemu Sapardi di peluncuran buku itu dengan tak sabar.

Pembaca puisi Sapardi lainnya bertemu sajak-sajaknya di sebuah novel. Dari petikan sajak itu dia pun lalu mencari dan menemukan Sapardi dan terkejut karena ia mengira si penyair sudah lama almarhum.  “Maaf, Pak Sapardi, maaf banget, waktu pertama baca sajak Bapak saya mengira Bapak itu sudah meninggal. Saya kira Bapak itu penyair lamaaaa itu,” ujarnya.

“Pak, kenapa sih menulis sajak Hujan Bulan Juni?”

“Kalau hujan bulan Desember kan sudah biasa?”

“Ya, Juni kan tidak ada hujan? Juni kan musim kemarau?”

“Makanya, saya menulis hujannya itu sabar, tabah. Dia menunggu. Hujan itu kan di atas, jauh ke bawah. Pohon di bawah. Ini kok hujannya nggak turun-turun. Di atas terus, menunggu dengan sabar… Ya, gitu aja…”

“Pak Sapardi ini harusnya menjadi peramal cuaca. Sekarang terbukti, Juni itu hujan. Jadi sebagai penyair beliau sudah meramalkan perubahan iklim..”

Sapardi geleng-geleng kepala dengan jenaka.

Sesi penandatanganan buku seusai diskusi buku tadi menciptakan antrean panjang. 200 buku edisi peluncuran habis. Jika antrean itu mewakili siapa pembaca sajak-sajak Sapardi maka mereka datang dari semua kalangan: anak-anak muda, lelaki dan perempuan, mereka yang menggandeng anak-anak, gadis-gadis berhijab, juga para pesohor, dan penulis. Bukan hanya buku baru, buku-buku Sapardi yang mereka koleksi pun dibawa untuk ditandatangani. Ada yang sampai menyodorkan enam buku.

“Wah, banyak banget..”

“Buat teman-teman saya, Pak. Kami penggemar Bapak,” kata seorang gadis sambil menyodorkan daftar nama-nama temannya yang harus ditulis Sapardi pada buku-buku itu.

Seorang pemuda lain, menyodorkan dua buku. Juga dengan nama seseorang perempuan. “Ini siapa?”

“Kawan saya, Pak. Dia baru wisuda S2 di Malang. Dia minta hadiah buku Pak Sapardi dan harus ada tanda tangan bapak buat dia…” Kekuatan sajak-sajak Sapardi yang lembut itu telah merangkul pembaca yang luas sekali.

Dulu, selalu dikeluhkan oleh penyair, dan dibenarkan oleh penerbit, bahwa menerbitkan buku puisi itu adalah proyek rugi. Umumnya memang susah sekali menjual buku puisi. Apalagi berharap menjadi buku best seller: terjual seribu eksemplar dalam sebulan. Jika pada hari pertama saja Sapardi bisa menjual 200 buku, sepertinya angka seribu bukan hal yang sulit untuk dicapai. Jika penjualan buku-buku puisi sejak tahun lalu ada tren meningkat, mungkin Sapardi harus disebut sebagai penyair yang berjasa mendorong kecenderungan itu.  Gramedia, sebagai penerbit besar, akhir-akhir ini menerbitkan buku-buku puisi dan penjualannya bagus. Buku “Melihat Api Bekerja” karya penyair dari Makassar M Aan Mansyur juga telah dicetak ulang. Buku puisi Mario F Lawi juga bagus penjualannya. Pada buku “Melihat Api Bekerja”, Sapardi memberi kata pengantar.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s