Ini Dia Ghazal Itu

AKU bertemu dengan jejak ghazal. Bentuk syair yang banyak ditulis di Persia, India, Pakistan. Biasanya dalam bahasa Arab dan Urdu, serta Parsi.

Ghazal sendiri adalah kosakata Arabia yang berarti berbincang dengan atau tentang wanita. Dulu, memang Ghazal semacam syair rayuan tampaknya. Tapi kini, tema apapun bisa ditulis dalam bentuk itu.

Ghazal bukan bentuk puisi bebas. Ada aturan-aturan yang ketat tapi sepertinya asyik juga dicoba untuk memperkaya khazanah perpuisian kita.

Definisi klasik dari bentuk Ghazal adalah: 1.  kumpulan sher (kuplet yang masing-masing berdiri sendiri), 2. masing-masing baris dalam kuplet itu disebut misra, 3. yang patuh pada aturan beher (metrum atau ukuran panjang dari dua bait dalam satu sher, yang harus sama panjangnya), 4.  matla (dua misra dalam sher pertama dalam setiap ghazal  harus berakhir dengan kata yang sama dengan radif), 5.  dan pada maqta (sher terakhir) harus ada 6. thakalus, nama alias si penulis yang disebut di dalam maqta, (Jalaluddin menyebut diri Rumi dalam ghazalnya, Mirzha Ashaluddin Khan menyebut dirinya Ghalib), 7.  kafiya (rima kata sebelum radif) dan 8. radif (satu kata yang sama pada akhir kalimat dalam misra ke dua dalam tiap sher).

Di buku Pena sudah Diangkat, Kertas sudah Mengering, ada saya sebuh ghazal. Silakan lacak unsur-unsur ghazal pada sajak saya di bawah ini. Saya gagal mengupayakan kafiya, tapi semua unsur ghazal ada di sajak  ini:

Relikui

 APA yang tak mengenangkan aku padamu? Segala seperti relikui
Layangan putus, menyerahkan ujung benang, menyentak relikui
Jalan-jalan mengatur simpang, menembus rimba, menebas rambu
Aku mencari, pada sebongkah batu, nama kita merenik merelikui 

Di mana dulu kusandarkan sepeda? Lalu kucari engkau di bukit itu?
Kau membuat isyarat di koyak kulit kayu, kubaca kini tanda relikui

Aku memetik bunga yang tak bercerita padaku kelas taksonominya
Aku kelak malu sebab kau berbunda bunga itu: mengekalkan relikui

Bila aku temukan sembunyianmu, ketika itu aku kehilangan engkau
Benang lepas pegang, Jiwaku, di tangan, yang sisa: segulung relikui

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s