Aku, Lidahku, dan Kamus Besarku (1)

MULUTKU tak cukup besar untuk menelan seluruh kamus-besarku

Para penyusun kamus-besarku tidak selapar lidahku yang liar
Aku makan kata-kata yang mentah, yang busuk, yang mati, yang
pernah hilang, yang tak disukai, dan yang tak baik dan tak benar.

Kamus-besarku disiapkan oleh para juru masak yang pintar
Mereka berdiam di ruang yang sejuk, dan berdebat dengan baik
dan benar, dengan bahasa buku baku di lidah yang penuh gelar.

Kamus-besarku semakin lama semakin besar, mulutku semakin bego
Aku tak pernah diajari untuk mengunyah kata dengan baik dan benar

Lidahku lidah ular, yang fasih mendesis dan mengendus, tapi tak
dilatih untuk mengucapkan kata-kata serapan, dari bahasa asing,
bahasa yang hidup di kepalaku, di jalan-jalan kotaku, di televisiku,
di mana saja dan mereka terus-menerus memusuhiku.

Aku tersesat di kamus-besarku dari kejaran bahasaku yang lapar
Jalan-jalan di kamus-besarku melingkar, mengikat kaki-lidahku

Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, aku sedang ada di mana?

Kenapa tak ada aku, tak bisa kuucap diriku, dengan kamus-besarku?

Iklan

Satu pemikiran pada “Aku, Lidahku, dan Kamus Besarku (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s