Aku, Lidahku, dan Kamus Besarku (3)

KAMUS besarku adalah tempat sampah yang memungut dan menampung kata-kataku, kata-kata yang tak ingin kuucapkan. Sejak menjadi warga negara bahasaku sendiri aku terus belajar untuk bisa diam. Tapi diam ternyata juga perlu kata-kata. Diam juga perlu menguasai bahasa.

Kamus besarku adalah tempat sampah di pojok pikiran, kata-kataku di sana membusuk, melapuk, dan di situ diamku lalu tumbuh menjadi pohon aneh yang mulut-mulut di daunnya berebut berbicara, aku tak bisa menangkap apa-apa dari keributan itu – kecuali “kecuali”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s