Tardji: Sang Ikan Paus Biru

tardji-wira-sattah
Sutardji Calzoum Bachri difoto oleh Wira Sattah Jr.
Pengantar: Pada  2000 lalu, pertama kali saya bertemu Sutardji Calzoum Bachri di Batam. Tujuh tahun kemudian, pada 2007, pada pertemuan ke sekian, saya menulis artikel ini. Membaca lagi tulisan ini, hari ini, sembilan tahun kemudian, rasanya tak ada yang berubah pada sosok beliau. Ada yang bisa dan ingin saya kembangkan dari tulisan ini, tapi sementara ini boleh dibaca lagi, apa adanya begini. Selamat membaca.

    “Penyair itu melihat ke atas kenyataan,” katanya berpetuah. “Bukan pada kenyataan itu,” katanya. “Puisi itu bukan menyalin kenyataan.  Tetapi menangkap apa yang ada di atas kenyataan itu.”

           “Saya akan membacakan ‘Tanah Air Mata” dan sajak-sajak lain, kau tulis saja sajak-sajak eksistensialis,” kata Sutardji Calzoum Bachri. Kala itu, suatu hari di tahun 2000. Ini wawancara pertama saya dengannya. Saya mewawancarai dia lewat telepon, malam hari, untuk dibuatkan berita pendek sebelum dia tampil esok malamnya. Selesai mengetik berita saya pun menyusul ke akau atau pujasera di kawasan Nagoya, Batam. Itulah pertemuan pertama saya dengan sang Presiden Penyair itu. Ia diundang untuk tampil baca puisi di sebuah helat bernama “Membaca Batam“.

            Bersama Bang Tardji – begitu kami menyapanya – malam itu sudah ada Tommy F Awuy, dan seniman lain. Sambil kami makan-minum, Tommy memanggil kelompok pengamen, dua lelaki – pemain gitar dan satu pembetot bas besar – tambah satu penyanyi perempuan. Bang Tardji meminta lagu-lagu blues. Ia sedang senang lagu-lagu blues. Kelak, esok malam, ia menyanyi lagu dalam irama  blues sambil baca puisi, diiringi Tommy pada piano. Secara serampangan saya juga minta lagu “Besame Mucho” kepada pengamen yang lumayan enak mainnya. Bang Tardji ikut menyanyi pelan pada beberapa bagian lagu itu. Akhirnya Tommy yang bayar, tiga pengamen itu tampak senang. “Saya kasih terlalu besar ya?” tanya Tommy. Tardji tertawa. Malam itu riangnya lepas sekali. Malam itu saya tak melihat ia menenggak bir. Sesuatu yang pernah sangat dan mungkin masih agak lekat dengan sosok dia di podium resitasi puisi.

***

            Panggung di Ballroom Hotel Goodway (dulu Hotel Mandarin) itu tidak besar.  Di kiri belakang ada piano. Di tengah panggung agak ke depan ke arah penonton ada tiang mikropon dan  tempat meletakkan naskah. Sejumlah pejabat naik panggung, juga pidato sekedarnya. Pertunjukan sesungguhnya sedang ditunggu.

Yaitu ketika dengan hikmat diucapkan,  “Inilah Sutardji Calzoum Bachri,” oleh Alazhar, budayawan yang bersama Hoesnizar menggagas acara yang mereka niatkan sebagai upaya “mengencingi” Batam. Pada tahun-tahun itu, Batam amat kering kegiatan budaya.

Sebelum naik panggung, Tardji duduk berdekat-dekat dengan meja saya. Shiela, putri pertama saya belum genap setahun. Dia sempat memperhatikan Shiela yang sedang tidur di pangkuan Yana, istri saya. “Kasihan, dia kedinginan. Kasih selimut,” kata Tardji. Saya lihat, Tardji gelisah. Saya gelisah melihat dia gelisah. Bukankah dia sudah terbiasa naik panggung? Kenapa dia seperti masih demam panggung juga? Tardji di mejanya ditemani penyair Tanjungpinang Lawen Legespun. Lawen yang mencari nafkah sebagai tukang ojek dan saat itu sudah menerbitkan buku “Batu Api“, kemana-mana menyandangkan tas Tardji.

“Saya sementara jadi Ajudan Presiden Penyair,” kata Lawen berseloroh. Tas itu berisi buku puisi dan buku notes. Di buku notes itulah Tardji menuliskan urutan puisi dan selingan lagu yang hendak ia baca. Tulisan itu kelak saya curi, karena saya tak sempat menyalin, sementara tenggat halaman satu tak bisa ditawar. Di kertas itu ia menulis:

Hello Dolly
Sejak Kapan Sungai
Summer Time
Denyut
Donna (Tapi)
Tapi
Batu Mawar
Around The World
Kucing
Tommy Nyanyi: Love is A Many Splendor Thing
Sembari SCB: Perjalanan Kubur
Asal Sebab Kembali Sebab
lantas Tommy Nyanyi (Somewhere Out There)
SCB Dukaku Dukaku Duka Risau
lantas Hamparan
What A Wonderfull Word
Tanah Air Mata
Summertime
Herman

Begitulah ia mengatur pertunjukannya. Lagu diselingi dengan puisi. Ia bersajak, ia bernyanyi. Lantas Tommy main piano setelah diberi komando, “Come on Tommy, it’s show time!” Lantas lagu itu pun berkumandang dari suara yang melengking merdu Tommy, ” Looooove is a many splendor thing!” Lantas Tardji meningkahinya dengan, “….luka ngucap dalam badan / kau telah membawaku ke atas bukit ke atas karang ke atas gunung / ke bintang bintang…/

Saya terpukau. Kamera saya jepretkan berkali-kali tanpa perhitungan lagi. Satu rol film 36 bingkai nyaris habis. Tardji bertopang pada tiang mikropon. Klik! Ia menendang-nendang udara. Klik! Ia membentangkan kedua tangannya. Klik! Ia menengadahkan dadanya. Klik! Ia melebarkan jaketnya. Klik! Ia meraung. Klik! Ia menggeram. Klik! Ia menari mengiringi dentingan piano Tommy. Klik!  Ia berjingkrak-jingkrak. Klik! Ia melompat. Klik! Ia berputar-putar. Klik!

Saya lantas duduk di bawah panggung itu. Menuntaskan keterpukauan saya. Di belakang saya, para penonton yang juga dalam keterpukauan yang sama. Mungkin mereka seperti saya juga, diam, semaksimal mungkin menikmati sensasi peristiwa panggung yang tengah disuguhkan oleh Sutardji Calzoum Bachri. Di podium itu, hanya ada sebotol air mineral.

***

Dia menenggak bir. Selapis busa menyangkut pada misai yang tak rapi itu. Dia baca sajak. Lampu menyorot ke mimbar, dan hadirin terpukau. Begitulah Goenawan Mohamad menggunakan kesaksiannya menonton Bang Tardji, dalam pembuka Catatan Pinggir, 30 Januari 1982. Catatan Pinggir itu berjudul “Tuhan“.

“Sutardji Calzoum Bachri, tentu. Yang gondrong rambutnya, yang tak jelas sopan-santunnya, yang cepat cemoohnya, yang keras ketawanya — dan mengejutkan puisinya. Penyair yang kena serapah? Orang yang berantakan?….” demikian tulis Goenawan pada alinea berikutnya.

Goenawan mungkin pernah juga kena sasaran cemooh Tardji. Tapi, yang kita kutip tadi bukan sebuah cemooh balasan. Goenawan justru melihat sisi yang amat religius pada Tardji. Bait-bait pencarian, dan kerinduan pada Tuhan berulang dalam O, Amuk, Kapak (Penerit Sinar Harapan, 1981). Goenawan menemukan itu dan ia yakin Tardji tidak sedang iseng. “Seolah Tardji tengah membaca semacam zikir yang intens, untuk menemui Tuhan. Dia mencari, karena dia rindu,” tulis Goenawan.

Tapi kenapa mencari dengan puisi? Dan mabuk pula? “Itulah, saya mencari Tuhan sampai saya mabuk,” kata Tardji, seperti pernah didengar oleh Hoesnizar Hood penyair mukim di Tanjungpinang yang amat dekat dengan Tardji. Hoesnizarlah yang menggagas acara tahun 2000 itu. Jawaban itu terdengar seperti diucapkan seenaknya saja. “Bang Tardji itu orang yang pernah nyaris tidak bertuhan,” kata Hoesnizar.

Di lain waktu. Penyair Agus R Sardjono suatu ketika pernah diundang ke sebuah festival puisi di  Jerman. Ia datang bersama Goenawan Mohamad dan Sutardji. Agus jelas termuda di antara tiga penyair itu. Dan dari Agus kita bisa dapat sisi lain dari hubungan unik kedua penyair senior itu. “Pada saat diskusi Tardji tak mau ikut. Katanya, puisi itu untuk dibacakan bukan dibacakan. Pada saat baca puisi, Goenawan tak mau baca. Katanya puisi itu ditulis untuk dibaca langsung oleh pembaca bukan untuk dibacakan oleh si penyairnya,” kata Agus, tergelak mengenang kejadian itu. Panitia Jerman mungkin bingung melihat keduanya. (Bang Tardji mengkonfirmasi cerita ini tidak benar. Dia tak pernah diundang ke Jerman. Saya kira saya yang tak cermat mengutip cerita Agus R. Sardjono itu).

***

Pada tahun 1998, Sutardji Calzoum Bachri meraih Anugerah Chairil Anwar. Atas anugerah itu dua kali perhelatan untuknya digelar: di Pekanbaru dan Mei tahun itu di Tanjungpinang. Sastrawan dan masyarakat di kedua kota itu mencintai dan memiliki Tardji dengan kadar yang sama. Ia lahir Juni 1941, di Rengat, Riau daratan. Dan di Tanjungpinang, Riau Kepulauan, masa kanaknya ia lalui. Di masa kanak itulah ia menggemari komik-komik Amerika dari koran bekas seperti Flash Gordon, Donald Duck, Mickey Mouse, dan  The Lone Ranger. Di Tanjungpinang kala itu, koran-koran bekas dari pantai Barat Amerika masuk bebas lewat Singapura. Tardji kecil menyukai bunyi bahasa Inggris dalam teks komik itu ketika ia lisankan, walau belum mengerti apa artinya. Kepekaan pada bunyi bahasa itulah mungkin yang menjadi cikal bakal penggaliannya yang tunak di dunia puisi.

Jika kelak kisah hidup Sutardji hendak disusun dengan lengkap, ada seorang yang harus dimintai cerita. Dialah Hasan Junus.  Sastrawan kelahiran Pulau Penyengat yang mukim di Pekanbaru. Tommy F Awuy menyebut Hassan Junus adalah penimbang karya sastra sehebat dari H.B Jassin.  Saya kira Hasan menyimpan banyak cerita tentang “Si Ikan Paus Biru”. Begitulah Hasan Junus memberi gelar pada sahabatnya Tardji.

“Tumbuh engkau terus-menerus seperti ikan paus biru, Sutardji Calzoum Bachri, ciptakanlah karya-karyamu yang baru dan yang terus membaru, selagi hayat dikandung badan, karena kami mengharapkanmu,” tulis Hasan Junus dalam pidato sambutan atas kemenangan Tardji di Tanjungpinang.

Naskah pidato Hasan Junus itu ada diterbitkan lengkap di Majalah Sastra Suara yang terbit di dua kota pula: Pekanbaru dan Tanjungpinang. Ada banyak hal menarik tentang Tardji bisa didapat dari tulisan itu. Pada tahun 1950-an, sekolah menengah atas dijuruskan tiga. Bagian A untuk sastra dan budaya, bagian B untuk pasti alam dan C untuk ekonomi. Sutardji memilih jurusan bahasa yang lebih banyak mengajarkan bahasa asing (Inggris dan Prancis) serta sastra khususnya kesusasteraan Melayu dengan baik.

“Namun proses pematangan manusia Sutardji Calzoum Bachri sebagai penyair terjadi di Bandung,” kata Hasan Junus. Tardji mengambil kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Padjajaran. Puisi-puisi yang memberi kesan mendalam setelah ia kaji justru karya kelompok Imajis Inggris. Gerakan ini dipenghului Ezra Pound. Kelompok Imajis ini diilhami oleh sajak-sajak Cina dan haiku Jepang. Tersebab persentuhan dengan sajak Pound pula, Tardji sampai mempelajari huruf kanji. Begitulah keinginannya untuk menggali dan memahami sajak kala itu. Tidak berhenti pada sajak Imajis, Tardji pun menceburkan diri pada karya-karya penyair beraliran surealis, termasuk sajak-sajak kelompok dadaisme. Ia juga memetik pelajaran dari kemerduan bunyi sajak-sajak berbahasa Spanyol.

Maka, “Simaklah dengan seksama makna yang terlindung dan terkandung di balik rangkaian kata-kata dalam sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri, dan dengarkan dengan teliti bacaannya pada sajak-sajaknya sendiri. Coba masuk di dalam pesona bunyi yang dapat memabukkan itu. Tidakkah semua itu membenarkan ucapan orang Spanyol di masa lampau yang mengatakan bahwa seorang penyair berbicara lewat ngangaan luka? El poeta habla por la boca de su derida!” kata Hasan Junus.

Jarang diketahui, Tardji ada menulis buku anak-anak berjudul “Lumba-Lumba Ungu”. Sesungguhnya debut Tardji di gelanggang sastra dimulainya dari panggung cerita pendek. Cerita-cerita pendeknya, sepenilaian Arif B Prasetyo dalam buku “Epifenomenon”, mestinya telah menampar harga diri para pengarang cerita pendek lainnya. Dan Tardji telah memilih puisi. Pilihan yang ia pertanggungjawabkan.

“Ia lalu membuat pilihan berlapis-lapis sampai-sampai memansuhkan cukup banyak sajak-sajak awal yang meskipun orang lain berpendapat sajak-sajak itu bagus, Sutardji Calzoum Bachri tetap memusnahkannya,” kata Hasan. Dengan demikian, lanjut Hasan, ia telah melakukan otokritik yang amat keras terhadap karya-karyanya sendiri.

***

Peneliti dan pengamat sastra Indonesia paling tunak A. Teeuw ada menulis buku telaah “Tergantung pada Kata”. Itu buku berisi telaah dan kajian rinci atas sepuluh puisi karya sepuluh penyair Indonesia. Sutardji Calzoum Bachri ada dalam buku itu. Teeuw mengulas penggalan sajak “Amuk”. Saya kira Teeuw termasuk kalangan yang terpesona — atau terjebak? — dengan kredo Sutardji. Kenapa terjebak?

Kredo Sutardji ditulis pada tahun 1973, sebagai pengantar untuk sajak-sajak di buku “O” yang ia tulis sepanjang 1966-1973. “Amuk” ditulis sepanjang tahun 1973-1976. Untuk kumpulan sajak-sajak berikutnya yaitu “Kapak” (1976-1979), Tardji menulis lagi “Pengantar Kapak” (1979) yang saya pandang sebagai kredo untuk sajak-sajak “Kapak“.

Ada yang luput dalam pembacaan kita. Tengoklah, dua kredo itu ditulis di akhir masa penulisan. Kredo ditulis atau dirumuskan setelah ia menganggap ekplorasi pada suatu hal selesai. Artinya tak ada kredo khusus untuk kumpulan “Amuk“. Pilihan kita sebagai pembaca adalah menggolongkannya saja ke kumpulan “O” dengan kredo yang terkenal itu, atau melepaskannya saja mandiri tanpa kredo. Sebab, amat tidak mungkinlah kalau dimasukkan ke “Kapak“. Saya memilih membaca “Amuk” tanpa petunjuk apa-apa. Saya kira disinilah keterpesonaan atau keterjebakan Teeuw. Ia mengulas sajak Tardji dari “Amuk” itu, bahkan dari alinea pertama ulasannya, dengan mengacu pada kredo itu.

Maka tak heran kalau ulasan itu berakhir pada kesimpulan yang ragu-ragu. Teeuw menyerahkan pada waktu. Teeuw tidak membuat kesimpulan yang yakin: Hanya waktu yang akan dapat membuktikan apakah Sutardji menjadi seorang perombak dan pembaharu yang pembaharuannya akan dicernakan oleh Bahasa Indonesia — ataukah dia hilang sebagai angin lalu, memberi kesegaran untuk sebentar, barangkali malahan akan mengadakan lingkungan epigon, tetapi yang nanti tidak ada bekasnya lagi.

Sebelum sampai pada kesimpulan yang tidak simpul itu ia menawarkan dua kemungkinan: kalau puisinya ternyata mencukupi kebutuhan masyarakat Indonesia, mak konvensi akan ditelan dan dicernakan oleh Bahasa Indonesia menadi unsur bahasa itu, atau puisinya hanya akan tinggal sebuah fashion sastra, gejala pinggiran yang dengan sendirinya akan menghilang.

Setelah 27 tahun berlalu, cukupkah waktu yang dicadangkan oleh Teeuw untuk memastikan manakah ramalan yang mewujud? Saya kira ramalan Teeuw menjadi tak relevan kini. Penyair seangkatan dan setelah Tardji tidak cukup percaya diri mengikuti jejaknya, atau sebaliknya mereka sadar Tardji telah membina puncaknya sendiri. Tak guna mengejar atau mencuil-cuil kaki gunung itu. Sajak Tardji juga bukan sekadar fashion, trend mode sesaat dalam sastra. Ia memang tidak hendak menjual atau menularkan suatu gaya. Ia hanya menunjukkan jenis dan potongan pakaiannya sendiri. Ia tunjukkan bagaimana cara memakainya. Dan ia yakinkan bahwa pakaian itu pun boleh saja tidak dipakai sesekali.

Saya kira sumbangan sikap terpenting Tardji pada penyair Indonesia adalah bagaimana bersikap terhadap puisi dan kata. Tengoklah alinea kelima kredo puisinya: Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggunya seperti kamus dan penjajahan-penjajahan lain seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata tertentu dengan dianggap kotor (obscene) serta penjajahan gramatika.

Kata-kata dalam sajak Tardji ia bebaskan dari tiga hal: 1. kamus, 2. moral kata, 3. penjajahan gramatika. Jadi bukan hanya kamus. Dan yang terpenting dari upaya pembebasan itu adalah hasilnya. Apa itu? Bila kata telah dibebaskan maka kreativitas dimungkinkan. Intinya adalah ini: bagaimana penyair bersikap terhadap kata dan sikap itu kemudian memungkinkan kreativitas pesajakannya.

***

Suatu malam lain, di sebuah hotel lain di Batam. Kami berempat. Tiga penyair muda: Saya, Marhalim Zaini, dan Hang Kafrawi menemani Bang Tardji. Di depan kami gelas dan teko kopi yang sudah tiga-empat kali diisi.

“Penyair itu melihat ke atas kenyataan,” katanya berpetuah. “Bukan pada kenyataan itu,” katanya. “Puisi itu bukan menyalin kenyataan.  Tetapi menangkap apa yang ada di atas kenyataan itu.” Ia seperti berbaring di kursi. Kedua kakinya ditumpangkan ke sandaran. Malam makin larut. Saya pun melihat Tardji tidak lagi sebagai Tardji sebagai sebuah kenyataan. Ia tampak seperti ikan paus biru yang terus membesar selama ia masih mengandung hayat dalam badannya yang kecil tapi seakan menyimpan gelegak energi puisi yang tak habis-habis….

 Batam, Juli 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s