Tentang Buku yang Mengajarkan Cara Menulis Puisi dan Apakah E.M. Yogiswara Mencuri Isi Buku Hasta Indriyana?

buku-hasta
Sampul buku Hasta (kiri) dan Yogiswara (kanan).

 

TIDAK banyak buku tentang menulis puisi pernah terbit di negeri ini. Saya mengoleksi beberapa di antaranya: 1. “Memahami dan Menikmati Puisi” oleh Drs. M.S. Hutagalung (BPK Gunung Mulia, 1971); 2. “Seni Mengarang” oleh Aoh K. Hadimadja (Pustaka Jaya, 1972), walaupun ini tidak secara khusus mengulas bagaimana mengarang puisi; 3. “Pengkajian Puisi” oleh Rachmat Djoko Pradopo (Universitas Gajah Mada, 1987). Buku ini berisi teori analisa puisi, dan tentu bagi yang ingin memanfaatkannya sebagai pedoman menulis puisi tentu saja sangat bermafaat; 4. “Pengkajian Puisi, Analisa dan Pemahaman” oleh Kinayati Djojosuroto (Nuansa, 2006). Buku ini juga tidak secara khusus mengajarkan bagaimana menulis puisi, tetapi bagaimana memahami dan memaknai puisi.

Ada beberapa buku lain yang bagus dan disarankan oleh beberapa orang teman tapi belum bisa saya dapatkan. Salah satunya: “Puisi dan Beberapa Masalahnya” oleh Saini KM (Pustaka ITB, 1993). Isi buku dikumpulkan oleh penyair Agus R Sarjono dari tulisan beliau di rubrik “Pertemuan Kecil” di Suratkabar Pikiran Rakyat Bandung.

Saya kira inilah situasi yang dihadapi sebagian besar penyair Indonesia pada awal langkah mereka terjerumus ke dalam dunia puisi: mereka memulai dari rasa suka, lalu mereka belajar puisi secara otodidak, mengikuti naluri, membaca sajak apa saja yang bisa ditemukan di buku, majalah, surat kabar akhir pekan – untung jika ada ulasan dari redakturnya, mencoba menuliskan sajak sendiri, dan terus saja mencoba. Teori atau petunjuk bagaimana menulis puisi nanti ditemukan sambil jalan. Dan semua itu lebih banyak didapatkan di luar sekolah, artinya tidak melalui kurikulum resmi yang disusun ahli-ahli pendidikan di negara ini.

Buku-buku yang saya sebutkan di atas saya dapatkan setelah saya bertahun-tahun menulis puisi. Banyak juga hal-hal dalam buku itu yang membuat saya menemukan jawaban dari pertanyaan saya tentang puisi dan bagaimana menulis dan memahaminya. Selebihnya saya mendapatkan itu dari berselancar dari situs ke situs di Internet. Saya mencari jawaban sendiri. Saya juga belajar dari buku-buku atau artikel kritik puisi dalam buku yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Sutardji Calzoum Bachri, Rendra, H.B Jassin, dan esai-esai dan naskah pidato radio Chairil Anwar. Kesulitannya adalah pelajaran di buku-buku ini terserak-serak dan tentu saja tidak sistematis. Sebagai pembaca yang ingin belajar kita harus menyusun sistematika sendiri dari bahan-bahan bacaan itu.

Yang saya maksud dengan buku Sapardi adalah yang berjudul “Sihir Rendra Permainan Makna” (Pustaka Firdaus, 1999). Ini buku berisi kumpulan ulasan puisi Indonesia pada satu rentang masa tertentu, atau puisi seorang penyair dari satu buku. Ini buku terbaik untuk belajar puisi, lewat kritik puisi. Kita tahu benar Sapardi adalah penyair yang kuat dan kritikus yang kuat dan cermat. Di sini ia mengulas Rendra, Abdul Hadi W.M, Goenawan Mohamad, Sutardji Calzoum Bachri dan beberapa nama lain.

Buku Sutardji yang saya kira wajib dibaca oleh penyair Indonesia adalah “Isyarat” (Indonesia Tera, 2007). Ini adalah kumpulan esai Sutardji yang merupakan pembuktian lain dari penyair ini bahwa dia adalah juga seorang pengamat dan pengulas puisi yang hebat. Ulasannya kadang liar: misalnya berupa wawancara imajiner dengan Chairil Anwar. Harus ada penerbit yang mau menerbitkan ulang buku ini. Indonesia Tera – penerbitan yang dikelola oleh Dorothea Rosa Herliany – beberapa waktu lalu diakuisisi oleh satu kelompok penerbit besar dan kabarnya kini menerbitkan buku-buku pelajaran.

Dalam kondisi langkanya buku sejenis itu, saya tentu saja gembira mendapatkan dua buku ini: “Seni Menulis Puisi” oleh Hasta Indriyana (Gambang, Juni 2015) dan “Berimajinasi dengan Puisi” oleh E.M. Yogiswara (Rumah Akar, Maret 2016). Sayangnya ada tuduhan tindak plagiat oleh pengarang buku yang kedua terhadap buku karya pengarang yang pertama. Benarkah? Mari kita main detektif-detektifan untuk mencari jawabannya.

Sebelumnya harus saya katakan buku Hasta adalah buku yang riang dan asyik. Ia mengajak untuk langsung menjajal. Mencoba contoh-contoh, memahami gaya bahasa sebagai alat jurus menyajak, mencari ilham dari mana saja, dan sejumlah tips, dan tentu dengan contoh-contoh yang bisa jadi bahan perbandingan.

Buku Yogiswara lebih tertib dan sistematis. Tapi ini tak terhindarkan karena ini adalah bahan mengajar di perguruan tinggi di mana sang penulis menjadi dosen. Ia mulai dengan definisi puisi, teknik-teknik, memperkenalkan beragam jenis sajak, dan lain-lain.

Saya menelusuri kedua buku. Ada beberapa bagian di buku Yogiswara yang ketika menjelaskan hal yang sama seperti menyalin lalu sedikit memodifikasi – memperpendek, mengganti kalimat di awal paragraf – bahan dari buku Hasta. Dari situ mungkin tuduhan plagiat itu muncul. Apalagi banyak contoh-contoh sajak yang mengiringi ulasan persis sama.

Kita ambil satu contoh:

Dari buku Hastra Indriyana halaman 96-98.

2. Alusi
Aluisi adalah majas perbandingan yang merujuk secara tidak langsung seorang tokoh atau peristiwa; kilatan. Tokoh atau peristiwa yang diacu diambil secara parsial atau bahkan secara sekilas.

Hasta masih meneruskan paragraf itu lalu mengantar dalam enam paragraf lagi sebelum sampai pada contoh sajak “Dongeng Sebelum Tidur” karya Goenawan Mohamad, dan kemudian menambah lagi dengan uraian tiga paragraf.

Dari buku Yogiswara, halaman 55-56.

9. Alusi: majas perbandingan yang merujuk secara tidak langsung seorang tokoh atau peristiwa; kilatan. Tokoh atau peristiwa yang diacu diambil secara parsial, atau bahkan secara sekilas.

Begitu saja. Lalu juga dikutip sajak yang sama.

Abaikan awal kalimat dan beberapa tanda baca yang ditambahkan, selebihnya sama persis.

Soalnya adalah, apakah benar itu contoh dari “alusi” sebagai salah satu gaya bahasa kiasan, jika merujuk ke uraian Gorys Keraf dalam “Diksi dan Gaya Bahasa”, buku yang saking bagusnya – hingga 2008 sudah dicetak ulang 18 kali itu – sehingga kita menerimanya sebagai buku yang otoritatif itu? Yogiswara menyebutkan buku ini di daftar pustaka bukunya.

Alusi, kata Gorys Keraf, adalah semacam acuan yang berusaha mensugestikan kesamaan antara orang, tempat, atau peristiwa. Biasanya, alusi ini adalah suatu referensi yang eksplisit atau implisit kepada peristiwa-peristiwa, tokoh-tokoh, atau tempat dalam kehidupan nyata, mitologi, atau dalam karya-karya sastra terkenal.

Contoh yang diberi Keraf:

Kartini kecil itu turut memperjuangkan persamaan haknya.

“Kartini” di kalimat itu adalah alusi. Seluruh pengetahuan pembaca tentang sosok Kartini sebagai pejuang emansipasi di Indonesia terbawa pada penyebutan itu, terpakai untuk memaknai dan memahami kalimat itu tanpa harus dijelaskan.

Sajak “Dongeng Sebelum Tidur” bukan sebuah contoh majas alusi. Mungkin iya, pada”Batik Madrim, Batik Madrim”, tapi toh itu alusi yang nyaris batal, sebab siapa yang kenal Batik Madrim, jika tak akrab dengan cerita Angling Darma?

Seluruh sajak itu bercerita tentang Angling Darma. Alusi sebagai majas atau gaya bahasa tidak begitu. Alusi cukup menyebut satu kata, atau satu frasa, atau satu kalimat saja.

Tetapi Hasta memang menawarkan sesuatu yang lain. Ia tidak bicara soal majas. Ia menyebutkan sajak Goenawan itu sebagai sajak alusi. Ia mensejajarkan alusi-nya itu dengan beberapa uraian lain yang ia sebut sebagai ‘teknik menulis sajak’, yaitu: impresi, dramatis, analogi, membandingkan, dan imaji benda (kolase). Kategorisasi yang dibuat Hasta mungkin masih bisa diperdebatkan, sebagaimana pesan dalam lima pasal yang ia umumkan di awal bukunya.

Di sini saya merasa sedih. Yogiswara tampaknya memang tidak cermat menyalin, tak menelaahnya lebih dahulu. Ia mengutip penjelasan Hasta bersama contohnya sekalian untuk menjelaskan soal majas alusi pada bukunya. Sementara Hasta – dengan uraian dan contohnya itu – bicara soal lain, sebagaimana dijelaskan di atas.

Selain temuan kesamaan – sekaligus kesalahan – ini, ada beberapa bagian lagi yang bisa dijadikan ‘barang bukti’.

Ini memperkuat tuduhan plagiat kepada Yogiswara. Pertanyaannya untuknya, apa susahnya sih mencari contoh dari sajak lain? Atau jika memang uraian dan contoh itu dikutip dari buku Hasta kenapa tidak menyebutkan dari mana bahan itu dirujuk? Toh, pengarang dan buku lain ada juga disebutkan di daftar pustaka? Atau apakah itu disalin dari Facebook? Beberapa bahan buku Hasta sebelum diterbitkan memang ia bagikan di dinding media sosialnya itu. Jika benar begitu, rasanya itu juga harus disebutkan, dan boleh dicantumkan di daftar pustaka, tanpa mengurangi kadar akademik buku tersebut. ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s