Empat (dari Entah Berapa Lagi Nanti) Gurindam Pertanyaan

PENGANTAR: Saya sering “sok kuat”. Sering punya rencana untuk menulis serangkaian sajak yang panjang. Mula-mula saya membuat bentuknya.  Sajak dalam bentuk tetap, kuplet atau gurindam misalnya, seperti yang saya pajang ulang di bawah ini. Bentuk saja tak cukup. Gurindam itu saya utak-atik lagi: ia harus berupa pertanyaan. Padahal kan gurindam itu berisi semacam kalimat pernyataan yang bukan pertanyaan? Di situlah “perlawanan” saya terhadap bentuk sajak tetap itu.   Tentu ini bukan perlawanan yang hebat, tapi itu membuat saya punya energi untuk menulis. Jika kemudian hasil sajak hanya empat bagian, tak sebanyak yang semula saya rencanakan, itu membuktikan bahwa memang benar saya sering “sok kuat”.

 

Empat (dari Entah Berapa Lagi Nanti) Gurindam Pertanyaan

/1/
KENAPA gurindamku harus kubebani nasihat?
Kenapa juga harus kuperberat dengan amanat?

Bolehkah kutulis pertanyaan-pertanyaan saja?
Kau, aku, tak harus mengupayakan jawabannya?

Bukankah tanya, tak lebih buruk dari jawab?
Bukanlah tanya, membuka halangan pemikiran?

Kita memang harus banyak bertanya, bukan?
Bukankah berpikir selalu dimulai dengan tanya?

Siapa berkata, kita jadi bodoh karena tanya?
Siapa tak percaya: tanya membangunkan pikiran?

Sajak yang baik, bukankah sajak yang tanya?
Sajak yang baik, tak memaksa jawab sendiri?

/2/
TAHUKAH kita, kita sesungguhnya hanyalah tanya?
Tahukah kita, jawab itu Dia yang Mahajawab?

Kenapa kita harus lurus berjalan di jalan-Nya?
Bukankah tanya memang harus bertemu Jawab?

Tanya yang tak bertemu Jawab, bukankah itu
adalah tanya yang selamanya hanya sia-sia?

Tanya yang tak sampai pada Jawab, bukankah itu
adalah tanya hampa, tanya yang tak jadi tanya?

Jika kau bertanya, kenapa aku bertanya, aku akan
bertanya: aku pun boleh rindu pada Jawab, bukan?

Kau lihatkah, sajakku adalah sajak yang bertanya,
tanya yang menolak jawab, yang mengharap Jawab?

/3/
MENGERTIKAH kita, kesabaran adalah bertahan
tetap dalam pertanyaan, seraya yakin akan Jawaban?

Sadarkah kita, kemarahan adalah menghentikan
pertanyaan, dan memutuskan sembarang jawaban?

Tahukah kita, keteguhan adalah kita tak berhenti
pada jawaban, sampai benar bertemu Jawaban?

Melihatkah kita, banyak kita yang tak bertanya,
dan kita tak pernah tahu siapa kita sesungguhnya?

Mendengarkankah kita, tanya dari dalam diri kita,
atau kita bungkam itu karena merisaukan kita?

Menyimakkah kita, Jawab datang dari banyak
mata-arah, Jawab yang menuju pada tanya kita?

Siapkah kita menerima, siagakah kita menyambut,
kuatkah kita menyatukan tanya dan datang Jawab?

/4/
HIDUP kita yang perjalanan, kaki kita yang
mengulur jalan, ingatkah kita pada Sepatu?

Sepatu yang dipakaikan, ketika dilahirkan,
terasakah, kita seringkali melepaskannya?

Sepasang sepatu, yang tak kiri tak kanan,
kenapa kita kerap ragukan kesepasangannya?

Sepasang sepatu, yang tidak bernomor, tidak
berukuran, kenapa kita ragu pada kaki kita?

Kaki yang lelah, jeda dari singgah ke singgah,
kenapa kita tergoda menukar Sepatu ke sepatu?

Kalau kaki kita menjaga dan dijaga Sepatu,
kenapa kira harus merisaukan alamat Rumah?

Bersama Sepatu, pergi adalah pulang, singgah
adalah rumah, adakah dalih kaki untuk resah?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s