Sajak Sapardian: Bagaimana Menyatukan Perasaan dan Citraan Alam

 

img_1256
Menggambar Seperti Chagall | Hah | 2016

PROSA, kata Kuntowijoyo, adalah restrukturisasi dari pengalaman, imajinasi dan nilai-nilai. Beliau sebenarnya bicara soal fiksi. Dan puisi toh juga fiksi, karena itu apa yang dirumuskan beliau itu juga berlaku bagi puisi.

Ini akan saya gunakan untuk menjelaskan bagaimana puisi Sapardian bisa kita bangun. Coba baca bait pertama saka “Aku Ingin”. Dari situ kita akan melihat bagaimana perasaan yang ingin kita ucapkan itu kita satukan dengan citraan alam yang kita amati.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Perasaan apa yang ingin dikomunikasikan dalam sajak ini: Cinta. Si aku dalam sajak ini ingin menjelaskan seperti apakah cintanya pada si engkau. Itu saja. Sesederhana itu. Si aku tahu betul bagaimana perasaan cintanya itu. Ini ada di wilayah pengalaman menurut teori restrukturisasinya Kuntowijoyo.

Nah pertanyaan berikutnya: bagaimana cara menjelaskannya? Karena ini sajak liris, maka ia memakai citraan alam: kayu yang terbakar, api yang berkobar, dan kayu itu habis menjadi abu. Api itu pun mati.

Penyair kita adalah pengamat yang cermat. Kayu yang terbakar mengobarkan api itu adalah peristiwa alam yang dikenal betul oleh si penyair. Bukan sebuah peristiwa istimewa tentu saja, siapa saja – minimal yang pernah ikut berkemah dan bikin api unggun – pasti tahu.

Tentu saja kayu tak pernah bicara kepada api. Bicara itu adalah kemampuan dan perilaku manusia. Inilah pelajarannya: penyair sudah menggunakan personifikasi – mengorangkan benda mati. Dan di sinilah imajinasi sebagaimana disebutkan Kuntowijoyo bekerja.

Dua bagian dalam bait itu dipertautkan oleh simile, persamaan. Sajak ini mau bilang: cintaku itu sederhana seperti ikhlasnya kayu yang mencintai api yang menjadikannya abu. Dan keikhlasan itulah nilai-nilai hidup yang dianut oleh si penyair.

Ada perasaan sebagai pengalaman yang ingin diucapkan. Ada citraan alam yang cermat diamati dan akan dijadikan persamaan. Ada personifikasi yang menghidupkan citraan alam itu. Dan itu semua terjadi berkat kerja penyair yang memainkan imajinasinya.

Begitulah, sajak Sapardian, dan tentu saja sajak liris pada umumnya. Silakan mencoba.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s