Ini Sajak Sapardian: Yang Bukan Penyair Boleh Ambil Bagian!

img_0746
Sapardi Djoko Damono

 

INILAH puisi Indonesia yang mungkin dimanfaatkan dan daya gunanya paling luas, sejak ia ditulis pada 1989, dan terbit bersama sajak-sajak Sapardi Djoko Damono lainnya dalam buku “Hujan Bulan Juni” pada 1994, pertama kalinya oleh Penerbit Grasindo, Jakarta.

Ya, puisi itu berjudul “Aku Ingin”. Puisi ini tercantum di entah berapa ribu undangan pernikahan, dibacakan di dalam sebuah film, dikutip entah di berapa banyak cerita, dan dinyanyikan oleh duo Ari Malibu dan Reda Gaudiamo. Barangkali juga gubahan atas sajak ini oleh Ari dan Reda adalah musikalisasi puisi yang paling terkenal di negeri ini.

Suatu hari Pak Sapardi bercerita kepada saya bahwa pernah ada yang mengira ini adalah petikan dari sajak Kahlil Gibran. Saya bilang, “apa mereka tak percaya bahwa penyair Indonesia juga bisa menulis sajak yang sekuat bahkan lebih keren dari sajak Gibran?”

Mutu puisi tentu saja tidak diukur dengan seberapa luas ia digunakan oleh pembacanya di luar wilayah puisi. Tetapi sudah teruji pula bahwa ketika dianalisa dengan pisau bedah kritik sastra pun sajak ini adalah sajak yang unggul.

Baiklah, kita kesampingkan saja soal itu. Kita simpan saja segala perangkat-perangkat puitika dan segala pisau analisa itu. Sekarang, saya hanya ingin meneruskan perayaan sajak ini.

Jasa puisi ini – dan tentu saja jasa penyairnya Sapardi Djoko Damono – bagi sastra Indonesia adalah keberhasilannya membuka mata publik di luar sastra bahwa puisi Indonesia itu ada, tumbuh, berkembang, menjalani hidupnya dengan asyik sekali, dan senantiasa sehat-sehat saja.

Sajak ini menyadarkan bahwa puisi penyair Indonesia bukan hanya sajak gelap yang terkurung di menaga gading, angkuh, tak peduli dengan pembaca di luar wilayahnya dan tak peduli juga bahwa orang di luar sana sesungguhnya juga tak peduli padanya.

Sajak ini membuktikan bahwa tanpa harus menjadi sajak cair nan terang-benderang, puisi Indonesia bisa kok diterima oleh publik yang luas yang kemudian jatuh cinta pada sajak itu lalu memakninya, memuliakannya, dan manfaatkannya untuk hal-hal diluar puisi sebagaimana disebutkan di atas.

Maka sebagai ungkap rasa terima kasih pada sajak “Aku Ingin” ini, dan tentu dengan amat hormat juga kepada penyairnya Sapardi Djoko Damono, maka saya ingin memperkenalkan sajak ini sebagai sebuah sajak formal, sajak dalam bentuk tetap, yang saya sebut: Sajak Sapardian.

Tujuannya apa? Agar siapa saja yang bukan penyair bisa ambil bagian. Saya tidak mengusulkan ini untuk para penyair yang sudah menjadi. Tidak. Enak saja kalian, tugas kalian adalah menciptakan bentuk-bentuk sajak baru!

Bagaimanakah Sajak Sapardian itu? Ya, seperti sajak “Aku Ingin”.

Lihat utak-atik berikut ini:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana: ———  5 kata
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu ——-  7 kata
kepada api yang menjadikannya abu ————– 5 kata

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana: ———-  5 kata
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan —- 7 kata
kepada hujan yang menjadikannya tiada ———— 5 kata

Sajak ini jelas, terdiri dari dua bait dengan tiga larik per baitnya. Ini aturan pertama. Sebut saja dwiterzet, atau terzina ganda, jika memang penamaan ini penting dan perlu. 

Jumlah kata? Seluruhnya ada 34 (tigapuluh empat) kata. Hanya 20 (dua puluh) kata yang berbeda, karena ada 10 kata yang dipakai dua kali. Dan satu kata dipakai empat kali yaitu kata sambung “dengan”.  Artinya apa? Ada repetisi dan itulah justru yang menjadikan sajak ini sederhana, utuh, tetapi juga menawarkan kepelikan yang bikin penasaran. Nah, ini aturan kedua: mainkan repetisi itu!

Apakah sajak sapardian harus persis sama memakai kata sejumlah itu? Tidak! Tapi angka itu adalah patokan, jumlah kata dalam sajak sapardian harus menyekitari angka itu, kurang lebih 34 kata sajaIni aturan ketiga.

Aturan keempat, Sajak Sapardian harus berupa sajak liris, yang kekuatannya ada pada kejelian sang penulis (1) mengamati alam (dalam pengertian yang seluas-luasnya) dan (2) mengamati perasaannya sendiri, perasaan yang ingin diungkapkannya itu, lalu(3) menyatukan imaji atau citraan yang ia dapat dari alam yang ia amati tadi dengan perasaan yang ingin diucapkannya tadi di dalam sajak. Aha! Mudahkan? Cuma tiga langkah, kok! Asyik….

Bagaimana dengan tema? Tema boleh apa saja yang mungkin diungkapkan dengan sajak liris. Ini aturan kelima dan yang terakhir.

Saya beri contoh dulu. Saya menulis ini untuk anak sulung saya yang pada saat saya menuliskannya berulang tahun yang ke-17.

Seorang Anak Kecil Meminta Ibunya Menyanyi

       : 17 tahun Shiela

DAN menyanyilah perempuan bersuara manis itu,
kau tertidur dan di dalam mimpimu kau merancang
rencana bagaimana agar lagu itu abadi di ingatanmu

kau tertidur dan tersenyum, dan di luar mimpimu
aku dan perempuan bersuara manis itu merancang
rencana bagaimana agar senyum itu kekal di hati kami

Eh, tapi usulan Sajak Sapardian ini buat apa? Apa sih gunanya? Saya berharap ini berguna sebagai pintu masuk bagi siapa saja ke dalam dunia puisi. Saya berharap ini menjadi duta yang memperkenalkan pembaca sajak kepada dunia penulisan sajak.

Tentu saja orang boleh mengenal dan masuk ke dunia sajak lewat sajak lain yang unggul dan banyak sekali dalam khazanah puisi kita.

Sajak sapardian ini bisa diperkenalkan dan diajarkan kepada murid-murid di sekolah, atau kepada siapa saja yang punya minat. Setelah berada di dalam dunia puisi, yang menawarkan kemungkinan yang mahaluas itu, tentu saja sajak ini boleh diabaikan. Silakan menjelajah. Silakan berpetualang.

Maka, inilah dia, saya perkenalkan: Sajak Sapardian. Selamat mengenal, mempelajari, dan mencoba menuliskannya. Jangan segan. Jajal saja dengan gembira. Yang bukan penyair boleh ambil bagian. Kalau sudah jadi Sajak Sapardianmu, jangan lupa kabari saya, ya…. Nanti akan saya kabarkan juga ke Pak Sapardi. Eh, tapi dia belum tahu soal ini.

 

Iklan

26 pemikiran pada “Ini Sajak Sapardian: Yang Bukan Penyair Boleh Ambil Bagian!

  1. Sampai Anggun Jadi Duta Sampo Lain

    Kalau dia pergi kau akan bertanya padanya
    sampai kapan harus menunggunya, kau jawab
    sendiri: sampai Anggun jadi duta sampo lain

    Kalau dia kembali dia akan bertanya padamu
    apakah kau mencintainya seperti dahulu, kau jawab
    : dulu sempat hilang, tapi sebentar balik lagi.

    #SajakSapardian

    Disukai oleh 1 orang

  2. LILIN-LILIN KECIL

    Seperti lilin-lilin kecil caraku mencintaimu
    yang rela membakar habis dirinya hingga tak tersisa
    melepas ketakutanmu yang ragu-ragu itu

    Seperti lilin-lilin kecil takdirku mencintaimu
    yang membakar habis dirinya sampai tak berpijar
    menyerahkan dirinya kepada yang dicintainya itu

    #SAJAKSAPARDIAN

    Suka

  3. Seperti Pulang dari Sebuah Unjuk Rasa
    Hasan Aspahani

    AKU lewati jalan itu sendiri, dan engkau
    tak ada, aku bayangkan seratus matahari di
    belakangku menciptakan seratus bayangan

    Aku lewati jalan itu sendiri, dan kenangan
    itu ada, aku seperti pulang dari sebuah unjuk
    rasa, memunguti sampah yang kau tinggalkan.

    Suka

  4. rindu buat ibu.

    aku menyaksikan langit berkali lipat lebih luas
    di dalam dadaku sebab rumah
    sungguh jauh dan begitu kurindu

    aku menyaksikan langit menjatuhkan gerimisnya deras
    di dalam pengharapanku sebab telah
    mendamba rentang pelukan seorang ibu

    Suka

  5. Ini sudah termasuk #Sapardian belum Pak?

    Tuhan, Aku Ingin.

    Aku ingin menyentuh jemariMu, Tuhan
    Lalu meletakkanya di dadaku
    Agar kau merasakan denyut doa-doaku dan memberkahinya

    Aku ingin Kau menyentuh jemariku, Tuhan
    dan meletakkannya di dadaMu
    Agar aku merasakan tiap detak rahmatMu dan mensyukurinya.

    Suka

  6. Sore Itu Aku Menyeduh Kopi Untukmu:

    Mataku, matamu, seperti mata kata.
    Kita bercakap seolah segala akan abadi,
    hingga cangkir kopi terisi berkali-kali.

    Mataku, matamu, seperti mata buta.
    Kita bertatap dan tak saling mengenali,
    Hingga kopi dingin dan hanya menyisakan sepi.

    Kalau ini bagaimana Pak?

    Suka

  7. Aku berada pada jalur-jalur tak terlihat,
    seperti doa kekasih pada cintanya
    yang rajin berangkat menuju tempat paling tepat

    Aku berada dalam ruang-ruang tak terukur,
    seperti bayang cinta yang terkasih
    yang sejak dalam kandungan doanya tak pernah libur

    Begini, Pak?
    Duh tapi meleset 1 kata.

    Suka

  8. Tulisan ini bisa disebut sajak Sapardian tidak, Bang Hasan? Hehe.

    _@_

    RUMAH

    bukan dengan tumpukan bata aku mengukur
    besar kecilnya rumah, melainkan dengan
    selapang apa hatimu menerima segala lemah.

    bukan dengan mistar aku menghitung
    lebar sempitnya rumah, melainkan dengan
    napas lelap putraku, di lingkar lenganku ia tertidur.

    Suka

      1. Saya ketagihan, Pak Hasan. Haha.

        RUMAH 2

        dalam pelukmu, aku membayangkan sebuah rumah
        dengan jendela menghadap laut. setiap malam,
        kita dengar suara ombak membuai tidur.

        di dadaku, aku membayangkan kau terlelap,
        dengan napas selembut rembulan
        berbaring di permukaan samudra.

        RUMAH 3

        jika langit adalah waktu, aku ingin
        jadi hujan yang turun di kotamu, lalu
        diam-diam, mengembun di jendela kamarmu

        bila hujan turun malam nanti,
        adakah kaubayangkan aku,
        ketika dengan jemari, kaulukis embun di kaca?

        RUMAH 4

        istriku, bolehkah aku mengecup keningmu sekali lagi?
        sehabis mendung, arunika jadi selembut
        namamu dalam hatiku.

        bolehkah aku memandang senyummu sekali lagi?
        sebab, hanya bila kau bahagia
        aku bisa tidur, dengan perasaan lega.

        DI BAWAH PENDAR RIBUAN BINTANG

        sayangku, di bawah pendar ribuan bintang,
        puisi-puisiku berebut minta ditulis.
        namun, aku hanya mampu mencatat namamu.

        sebab, biarpun malam memiliki ribuan cahaya
        langit tetaplah gelap. cinta seperti matahari,
        hanya satu, namun menerangi segala.

        Suka

  9. Di Meja Judi

    Aku melempar dadu penuh rindu,
    Bertaruh dengan seluruh cinta yang kumiliki;
    Untuk memenangkanmu

    Kau melempar senyum penuh ragu,
    Tanpa mempertaruhkan apa-apa sekali lagi;
    kau mengalahkanku.

    Apakah ini masih bisa disebut #SajakSapardian Pak Hasan?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s