Haiku yang Cemerlang, Lampu Mati, dan Kerlip Bintang

1000_yen_natsume_soseki
Natsume Sōseki pada uang kertas Jepang.

 

Padamlah lampu
Menyusup kerlip bintang
bingkai jendela

Natsume Sōseki (1867-1916)

INI ada satu haiku yang sangat kuat dan sempurna sebagai sebuah haiku. Mari kita bedah di mana kekuatannya. Penulisnya terkenal sebagai seorang novelis ketimbang penyair, meskipun sebenarnya banyak sekali ia menulis haiku. Salah satu karyanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah Bothchan.

Pengakuan atas reputasinya bisa kita lihat ketika gambar wajahnya pernah tampil di lembaran uang 1000 Yen. Karyanya mempengaruhi hampir seluruh sastrawan Jepang yang muncul kemudian.

Tapi mari kita bahas saja kekuatan haikunya.

1. Haiku ini berisi citraan atau imaji yang sangat nyata. Di mana saja bisa terjadi lampu yang tiba-tiba mati, dan dari jendela kita lihat bintang di langit. Tak ada yang khayali dalam haiku ini.

2. Peristiwa yang dicatat oleh penyair dalam haiku ini terjadi dalam satu keserentakan. Tajam sekali fokusnya. Lampu mati. Tentu saja ruangan dalam rumah itu gelap. Seseorang di dalam ruang itu tiba-tiba menoleh ke jendela karena kegelapan di sekelilingnya membuat langit cerah dan bintang-bintang yang ada padanya menjadi lebih terang tampaknya.

3. Kejernihan dan keringkasan. Ringkas? Jelas sekali. Terjemahannya dalam bahasa Indonesia, untuk memenuhi syarat delapanbelas suku kata, hanya ada tujuh kata. Jernih? Sangat jernih. Kita tak membayangkan apa-apa dari tujuh kata itu, kecuali lampu, gelap, kerlip bintang, dan bingkai jendela, dan tentu saja kemudian terbawa imaji-imaji lain di seputar tujuh kata itu, yang mendukung kekuatan citraan atau imaji tersebut: kamar atau ruang rumah, langit yang sedang cerah, si penulis membawa kita ke dalam rumah, bukan ke halaman.

4. Efektivitas pensejajaran atau jukstaposisi kata-katanya. Ada tiga hal yang diperdampingkan oleh penyair dalam haiku ini: lampu (yang mati), kerlip bintang, dan bingkai jendela. Dengan tiga benda itu, ia melukis dengan efektif sebuah citraan atau imaji. Ketiganya saling mendukung. Saling menguatkan.

5. Kesederhanaan dan kesangatbiasaan citraan justru membuat sajak ini bergema sangat kuat dalam ingatan pembaca setelah membacanya. Tanpa berusaha mengingatnya, dan tanpa berusaha juga melupakannya, sajak ini akan lekat dan tak terlupakan. Terus beresonansi.

6. Tak hanya menyuguhkan pemandangan, citraan pada haiku ini dengan haus dan kuat menyiratkan sesuatu yang bisa saja berbeda-beda pada pembacanya. Ada rasa kesepian. Atau keterpencilan. Atau kedamaian. Atau kepasrahan, seperti lampu minyak itu pelan-pelan meredup lalu padam.

7. Dan lihatlah betapa naturalnya kata-kata dalam kalimat dalam haiku ini. Saya membaca dalam bahasa Inggris. Kata-katanya bukan kata yang sudah diterjemahkan. Penulis haiku tidak beraneh-aneh untuk mencapai efek puitis.

8. Selain upaya sintaksis, mengefisienkan kalimat karena harus mempertahankan jumlah suku kata, susunan bahasa dalam haiku ini ya biasa saja saja. Bahasanya bukan bahasa yang dekoratif dan figuratif. Bukan bahasa yang berbunga-bunga.

9. Manusia dalam haiku ini hadir sebagai penyaksi dan juga sebagai orang yang mengalami peristiwa itu. Ada keseimbangan antara manusia dan alam. Haiku adalah catatan dalam bentuk puisi sebagai tanggapan manusia yang diam mengamati atau ikut terlibat mengalami gerak-gerik alam di sekelilingnya.

10. Tak disebutkan bahwa si manusia dalam haiku ini memberdayakan indera penglihatannya. Tapi kesadarannya terhadap hadirnya kerlip bintang lewat bingkai jendela adalah kspresi inderawi yang kuat.

11. Apakah ada kata yang menyiratkan satu musim tertentu atau kigo? Ya. Langit malam yang cerah itu. Apakah ini terjadi pada musim salju yang berbadai? Atau ini malam musim semi yang cerah? Kita bisa menebak dari siratan itu.

12. Jika kalimat haiku ini ditulis dalam kalimat biasa, bentuknya akan terbaca begini: Ketika lampu padam, ada kerlip bintang menyusup ke dalam ruangan lewat bingkai jendela. Ada dua kalimat inti (1. lampu itu padam dan 2. kerlip bintang menyusup ke ruangan – yang beranak kalimat: lewat bingkai jendela) dan kita bisa menemukan dan merasakan di titik mana perhentian dan pemisahan antardua kalimat itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s