Cara Bertahan Hidup di dalam Penjara

– dari ‘Catatan Subversif’ Mochtar Lubis

1.
SEORANG hakim,
nanti mungkin akan datang
mengetuk pintu rumahnya, tidak dengan palu,
tapi dengan ragu yang tak bergagang itu.

Dan dia telah lama, sejak semula, memaafkannya.

Meski dia tak ada di sana. Dia
masih di dalam penjara. Dalam hari panjang
dengan jeruji
yang tak cukup lagi menandai lembar kalender itu.

Di dalam penjara, ia mencatat pada buku hariannya,
bebaskan pikiran dari marah dan alpa.

Ini tak akan terbaca dalam tajuk rencana Indonesia Raya.

Di dalam penjara, ia mencatat, bertahan
menjadi manusia,
dan tak usah bayangkan akan ada seorang hakim
yang datang mengetuk pintu sel tahananmu,
tidak dengan palu,
tapi dengan ragu yang tak bergagang itu.

2.
ADA setumpuk koran lama. Mungkin Sinar Harapan.
Ia mengambil selembar dan membaca
seperti seorang penyunting yang memeriksa
berita-berita untuk dicetak segera.

Ia tertawa. Pedih. Pada sebuah advertensi:
Nirwana Supper Club. Hotel Indonesia.
Los Mariachis dari Mexico.
Klab yang akan membawamu melupa dunia.
Minuman dari surga.
Hidangan menyala-nyala.
Musik yang tak akan membiarkanmu diam.
Penari yang bikin waktu berhenti dan kalian bergembira lagi
bagi Revolusi esok pagi.

Dan pesta seorang Nyonya. Untuk tamu-tamu negara.

3.
JIKA ia bukan seorang wartawan,
ia menjadi petugas pembukuan.

Ia mencatat dalam angka-angka
dan melihat bagaimana sebuah sistem ekonomi merampok
negerinya sendiri.

Jika ia bukan seorang wartawan,
ia menjadi tukang kayu,
membuat meja dan bangku.
Bukan untuk rapat-rapat kabinet
dan debat-debat di parlemen itu.

Di meja dan bangkunya, duduk meriung para tahanan,
main catur, dan berbalas pantun yang pahit.

Bernyanyi Saputangan dan Bengawan Solo.

Atau gumamkan Craddle Song,
serenada Schubert, juga Tosceli.

Jika ia bukan seorang wartawan,
ia ingin menjadi petani. Di lahan
yang tak sesempit halaman penjara.

Menyilang warna-warna anggrek,
dan mencari cara terbaik untuk memperbanyak
panen buah anggur, apel, dan pir.

Jika ia bukan wartawan,
ia melukis dan membakar tanah liat.

Ia menulis farabel tentang harimau.
Cerita pendek.

Dan mengutip larik Hilda Doolitle untuk Hally.

Hally manis,
yang untuknya dan karenanya ia menangis.

Jika ia bukan wartawan,
ia hanya ingin menjadi wartawan.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s