Rahasia Hijau-Biru atau Menara Khianat – Carl Spitteler

carl-spitteler-5
  • Save
Carl Spitteler.

 

Carl Spitteler (24 April 1845 – 29 Desember 1924) penyair Swiss yang menulis dalam bahasa Jerman yang mendapat Hadiah Nobel Kesusasteraan pada 1919 “sebagai apresiasi karya epiknya, Olympian Spring”.

Tak banyak sastrawan yang menerima hadiah Nobel Sastra  untuk sebuah karya khusus. Ernest Hemingway menerima untuk novel ‘The Old Man and the Sea’, Thomas Mann khusus untuk novel ‘Buddenbrooks’, Knut Hamsun untuk ‘Growth of the Soil’, dan John Galsworthy untuk ‘The Forsythe Saga’. Carl Spitteler salah satunya.

Saat menerima Nobel, Spitteler sudah lama menetap di Jerman dan kelak ia juga meninggal dan dimakamkan di negara itu. Saya pilihkan dan terjemahkan satu sajaknya:

Rahasia Hijau-Biru atau Menara Khianat
Carl Spitteler

1.
Kapan kita pernah berbaring di teduh rerumputan?
“Oh, rasanya itu sudah lama sekali.”
Kau katakan dulu kau mau menjadi kekasihku?
“Mungkin, ya, mungkin dulu begitu.”

2.
Bunga apa di merah bibir mawarmu?
“Jangan lupakan aku.”
Seperti apa rupamu kala itu, coba bayangkan?
“Seperti petak taman.”

3.
Aku bertanya, “Yakinkah aku telah tahu, bahwa
di bumi ini bunga tumbuh dari gulma? ”
Kau melirik lepas padaku, menjawab dengan bisik,
“Ya, jadi bagaimana sebenarnya?”

4.
Kami tinggal nyaman di sudut terang cahaya
Melewatkan jam demi jam,
Sampai di atas bukit yang kasar itu kita lihat
menara kurus gereja.

5.
“Baik, Bocah! Kau dengar dan berjaga saja
Hingga kerajaan itu datang!
Dan hitung tiap kecupan. Tak senoktah pun kupeduli!
Mengapa? Kau memang dungu.

6.
Jari pada jam mataharimu hanya bisa tunjukkan
waktu pada hari itu.
Tak ada dentang pada apa yang kau sebut lonceng
bisa khianati rahasia kami.

7.
Dengan tak berbeban, tak peduli pada apa-apa
juga pada udara dan pahala-dosa.
Di menara itu serta-merta kami mulai tertawa
memasang wajah ceria.

8.
Lalu, ada yang berubah, kami dengan santun
menjura membungkukkan badan.
Jika kau katakan bahwa itu jauh dari kebenaran,
Kami tak tahu apa itu kebenaran.

9.
Karena sihir biru, kami tinggalkan juga akhirnya
surga yang hijau itu,
Dikepung oleh menara dan loncengnya, terkejut
oleh apa yang mereka perlihatkan.

10.
“Ada yang sulut api! Penjaga hutan terburu-buru datang!
Ini cukup bukti bagi rasa malu,
Sepasang kekasih telah menyatu, menjauh dan mendekat,
dan hutan terbakar!”

11.
Janji temu-kencan itu mengejutkan pandanganku,
ia beri lagi aku kesempatan.
Lagu yang kudengar menantang segala aturan –
dan membuat wajahku terbakar.

12.
“Semoga petir menyambarmu, penyelinap pengejut!
Itu semua karena kau
Apa yang kau katakan tentang halaman gereja
tak ada yang benar, semuanya!

13.
Tapi kini semua orang di dunia tahu apa
dan bagaimana itu menimpa,
Kami jadi lekat satu pada yang lain, jadi makin dekat.
Semua baik dan akan berakhir baik!

Baca juga
Di Kebun Kelapa Bersama Kai Ahmad
Di Kebun Kelapa Bersama Kai Ahmad

KAI Ahmad berjalan di depankuaku melompati jejak-jejak langkahnyadi antara genangan air sisa hujanaku bermain dengan bayangannyadi antara bekas kaki dan Baca

Beberapa Sajak tentang Palestina dan Sebutir Ayat yang Belum Menetas
Beberapa Sajak tentang Palestina dan Sebutir Ayat yang Belum Menetas

Palestina, 1 TANPA nabi, ayat-ayat mati, di panggung kami, Kau, Tuhan, kini adalah aktor pantomime Di Palestina, lelaki Gaza melepas Baca

Budi Darma: Sublimitas dan Kontemplativitas Puisi
Budi Darma: Sublimitas dan Kontemplativitas Puisi

Oleh Hasan Aspahani ADA puisi-suasana, ada puisi-cerita. Saya kira keduanya adalah istilah yang khas dan paling cocok untuk melihat perkembangan Baca

Hasan Aspahani, Salman Aristo, membicarakan Chairil Anwar dipandu Andi Gunawan (Ndigun), di Galeri Indonesia Kaya, Grand Baca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap