Menguji Kekuatan Konsep Sajak Sonian

contoh-karya-soni-farid-maulana
Soni Farid Maulana.

Pembatasan cuma tambah menyatukan kenang. – “Kabar dari Laut” – Chairil Anwar

SAYA mendengar tentang konsep sajak ‘sonian’ dari cerpenis Tawakkal M Iqbal, penulis Bogor yang karyanya masuk dalam Kumpulan Cerpen Terbaik Pilihan Kompas 2015. Sayangnya, kabar itu saya dapatkan sebelum Musyawarah Sastra Nasional 2016. Jika saja saya sudah tahu sebelum perhelatan yang digagas oleh Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa itu saya tentu bisa bertanya banyak dan berdiskusi dengan sang penggagas, penyair senior asal Bandung yang saya hormati, Soni Farid Maulana.

Untunglah bahan-bahan untuk memahami konsep sajak berbentuk tetap itu sudah tersedia di beberapa laman internet. Sajak sonian yang rupanya sudah diperkenalkan oleh sang kreator pada Januari 2015 adalah sajak sebait dengan empat larik.

Masing-masing larik berturut-turut berisi enam, lima, empat, dan tiga suku kata.

Supaya mudah diingat rumusnya adalah 6-5-4-3.  Jumlah suku kata seluruhnya ada delapan belas. Dengan begitu, sajak ini benar-benar mengikatkan diri pada bentuk fisik. Tipografinya mengerucut ke bawah. Tak ada penjelasan soal apakah emosi sajak itu juga menajam seiring penajaman bentuk tersebut. Tapi, dari beberapa contoh sajak yang saya temukan saya tak melihat pola itu.

Contoh sajak sonian dari sang kreator:

CAFE DINI HARI

wajahmu membayang
di ruap kopi:
cinta tumbuh
melangit

2015

JUMAT

hari penuh berkah
salawat nabi
dilantunkan
di hati

2015

Dari Ewith Bahar, nama yang kita kenal sebagai penyiar TVRI dan ternyata menulis puisi juga itu, saya menemukan satu penjelasan di salah sebuah situsweb. Ewith menulis: apa yang ingin disampaikan penulis semakin ke bawah akan semakin jelas fokusnya, sehingga maksud yang ingin dikomunikasikan sampai. Saya tak tahu apakah itu penjelasan dari Soni Farid Maulana atau tafsiran Ewith sendiri.

Ewith menulis:

RUMAH

Aku ingin pulang
pada sebuah
ceruk damai:
hatimu.

Januari 2015

*

Siapa saja tentu boleh mengusulkan bentuk puisi apa saja. Orang lain tentu boleh menerima bentuk yang ditawarkan, lalu menjajalnya, atau menolaknya. Adapun saya, sebagai pegiat puisi yang suka sorak-sorak bergembira, tentu menyambut tawaran ini dengan riang, dan ingin menambahkan dengan sejumlah pandangan dan perbandingan.

Mau tak mau, sajak sonian mengingatkan kita pada haiku dalam hal keringkasannya. Tetapi harus kita ingat bahwa haiku bukan sekadar keteraturan dan keterbatan suku kata yang berpola 5-7-5 itu.

Haiku lahir dari tradisi ratusan tahun. Pada mulanya ini adalah tradisi lisan. Mungkin, semacam berbalas pantun kita itulah. Sejumlah orang duduk berhimpun lalu bergantian menanggapi pemandangan alam dan citraan musim yang terhampar di depan mata. Kecermatan pengamatan menjadi pembeda mana haiku yang unggul, sebab bentuknya sudah diseragamkan, 17 suku kata saja.

Jika kemudian haiku mendunia, inilah ekspor budaya terbesar dan sangat berpengaruh dari Jepang, sebab keringkatannya itu ternyata menjadi kekuatan. Banyak hal bisa dikupas dari haiku dan itu menjadikannya menjadi sangat menarik.

Pada sebuah haiku yang unggul dan sempurna harus ada: citraan atau imaji yang nyata (ini mengilhami gerakan Imajis), ketajaman fokus (karena keterbatan suku kata itu), kejernihan dan keringkasan (dengan itu kepelikan dan keutuhan dibangun dan dijaga), efektivitas pensejajaran atau jukstaposisi kata-katanya (penulis haiku karena itu ditantang untung memilih diksi dengan amat cermat), resonansi (ada kata dan makna yang sedemikian kuatnya sehingga bergema dan melekat di dalam benak pembaca), imediasi (apa yang dengan kuat menyiratkan sesuatu), kalimat yang natural (yang tidak beraneh-aneh untuk mencapai efek puitis), penggunaan bahasa yang biasa saja saja (bukan bahasa yang dekoratif dan figuratif), keseimbangan antara manusia dan alam (mengingatkan bahwa haiku adalah tanggapan manusia yang diam mengamati gerak-gerik alam), ekspresi inderawi yang kuat (dan itu ditampilkan di dalam kalimat-kalimat haiku), kata yang menyiratkan satu musim tertentu atau kigo (sebab di satu tempat yang sama di Jepang – negeri empat musim itu – menawarkan imaji yang berbeda pada tiap musimnya), dan harus selalu ada jeda yang jelas antara dua kalimat dalam sebuah haiku.

Serumit itulah hakikat haiku yang tampak sederhana dan mudah itu.

*

Di Inggris pernah berkembang sejenis sajak jenaka yang mengait-ngaitkan nama tokoh popular. Nama sajak itu yaitu”clerihew”, yang merujuk ke Edmund Clerihew Bentley yang sang penemu dan banyak menggubah bentuk sajak tersebut.

Bentuknya empat baris, berirama aabb. Isinya nyaris seperti plesetan, olok-olok, bahkan kadang seperti ejekan bagi orang-orang yang namanya terkenal. Efek jenaka timbul dari sudut pandang yang unik atas apa yang secara umum diketahui tentang tokoh terkenal yang disajakkan.

Contohnya:

Sir Karl Popper
Perpetrated a whopper
When he boasted to the world that he and he alone
Had toppled Rudolf Carnap from his Vienna Circle throne.

Contoh lain:

John Stuart Mill,
By a mighty effort of will,
Overcame his natural bonhomie
And wrote ‘Principles of Political Economy’.

Kadang bentuk sajak ini juga mengambil tema lain, tak melibatkan nama orang masyhur, tapi tetap jenaka. Misalnya contoh berikut yang meng-clerihew-kan Biologi:

The art of Biography
Is different from Geography,
Geography is about maps,
But Biography is about chaps.

*

Haiku dan clerihew – dua bentuk tetap itu – berbeda nasibnya. Haiku mendunia, dan masih ditulis hingga kini di mana-mana. Sekelompok programer di New York Time bahkan membuat satu program yang secara otomatis mengolah kata di satu berita terpilih koran itu, menjadi sebuah haiku.  Apa yang harusnya melibatkan perasaan dan intuisi itu ternyata bisa dibuat sedemikian mekanistis. Kenapa? Karena konsepnya yang kuat itu bisa diterjemahkan ke dalam bahasa program, ke dalam logika komputer. Tentu dengan banyak penyesuaian dan kompromi.

Clerihew tak terlalu dikenal, dan mungkin tak ada lagi yang menuliskannya.

Ada bentuk tetap lain yang masih sering dipakai oleh penyair di dunia adalah, yaitu soneta yang lahir dari tradisi sastra Italia itu. Atau pantun yang juga mendunia dan di Prancis misalnya disebut “pantoum”, meski tak terlalu kerap dituliskan.

Apakah sajak sonian akan bernasib seperti haiku yang mendunia? Atau terlupa seperti clerihew? Waktu adalah penguji yang adil tak pernah salah. Mari kita tunggu, dan tak ada salahnya mari kita jajal juga. Tapi, sebelum vonis sang waktu itu tiba, saya ingin mengusulkan satu hal: jika ingin menjadi konsep puisi formal yang kuat, jangan berhenti pada bentuk fisik saja. Aturan yang ketat pada unsur-unsur puitika lain, justru membuat bentuk formal itu semakin menantang. Pembatasan, kita kutip sajak Chairil yang mungkin relevan, cuma tambah menyatukan kenang.  Dengan kata lain, pengetatan aturan pada unsur-unsur persajakannya, bisa membuat sajak sonian itu semakin padat dan bergema kuat. Dan makin menarik untuk dijajal.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s