Honorarium Minimum Horison: Cerpen Rp75, dan Puisi Rp50

Sastra dan Media (2)

Bagaimana Horison menakrifkan dirinya? Di bawah kolom susunan pengurus dan redaksi ada serangkai penjelasan yang ringkas. Di situ disebutkan Horison adalah sebuah majalah bulanan sastra dalam pengertian yang seluas-luasnya.

Tujuan utamanya ialah merangsang pemikiran-pemikiran dan eksperimen-eksperimen baru di bidang kesusasteraan khususnya, kebudayaan umumnya.  Itulah salah satu alasan mengapa dipilih nama Horison bagi majalah ini karena Horison mengandung arti sesuatu yang nyata-riel, tapi tak pernah akan kita capai ujungnya.

Untuk mencapai tujuan tsb., maka di samping kerja-kerja para seniman/cendekiawan Indonesia, selalu diusahakan kerja-kerja seniman/cedekiawan luar Indonesia, terutama kerja-kerja yang mengungkapkan pemikiran dan eksperimen baru di bidang kebudayaan.

Inilah visi awal majalah Horison.

Sementara itu di halaman 22 ada lagi sebuah pengumuman kecil. Judul pengumuman itu REDAKSI HORISON MENJAMIN. Menjamin apa? Yaitu menjamin bahwa Majalah ini akan selalu terbit tiap-tiap bulan. Karangan-karangan yang dimuat akan dikembalikan, asal disertai perangko secukupnya. Surat-surat para pembaca akan selalu dibalas. Dan yang maha penting ialah redaksi menjamin bahwa pada tiap-tiap nomor majalah ini akan menghidangkan kerja-kerja yang paling bermutu di bidang sastra dan budaya.

Ada juga diumumkan rubrik yang bernama GILIRAN SAUDARA. Isinya adalah komentar dan kritik dari para pembaca tentang isi majalah Horison. Pemberi komentar yang dimuat akan diberi honor sepantasnya. Komentar dan kritik yang tidak dimuat akan dibalas secara pribadi oleh salah seorang anggota Dewan Redaksi. Itulah ajakan dialog dari redaksi kepada pembaca.

Soal Honor

Bagaimana dengan soal honorarium? Soal ini disampaikan bersamaan dengan penjelasan tentang apa itu Yayasan Indonesia, penerbit Horison, di halaman 31. Honor untuk cerita pendek dan esai dipatok minimum Rp75,-. Sajak minimum Rp50,- dan karangan lain dihargai menurut pertimbangan redaksi tapi tak akan kurang dari honor cerpen dan puisi. Rupanya redaksi sudah menerapkan keterbukaan sejak awal, dan yang lebih arif lagi diberlakukan honor minimum, seperti upah mininum yang sekarang diatur dalam undang-undang ketenagakerjaan. Jadi bisa saja honor yang diterima penulis lebih besar dari angka minimum itu. Namanya juga honor minimum.

Seberapa besar nilai relatif honor tersebut pada waktu itu? Sebagai perbandingan mudah yang, di edisi perdana majalah itu ada dipasang iklan buku-buku di halaman 2 (Penerbit P.T. Pembangunan), halaman 18 (Tintamas),  dan halaman belakang (P.T. Gunung Agung). Buku puisi Rendra Empat Kumpulan Sajak (PT Pembangunan) di iklan itu dibandrol Rp7.5,-, sama dengan harga buku Pulang karya Toha Mochtar. Novel Mochtar Lubis ( di bawah namanya ada kalimat: yang telah bebas dan muncul kembali)  Tanah Gersang harganya Rp10,-. Buku H.B. Jassin Pujangga Baru dijual paling mahal yaitu Rp37,5-, sebanding dengan buku Nio Joe Lan Puncak-Puncak Kisah Tiga Negara.  Buku yang paling murah dibanderol Rp2,-.

Kalau kita ambil harga yang moderat, Rp10,-, maka honor puisi dan cerpen dan esai Horison saat itu bisa untuk membeli lima hingga tujuh judul buku.  Besarkah angka itu? Lumayan tapi tak terlalu besar juga. Jika harga buku sekarang rata-rata Rp.50.000,- maka honor tulisan di Horison saat itu kira-kira Rp500.000,-.

Saat itu, Horison menyadari bahwa mereka terbentur pada batas-batas kemampuan ekonomi. Maka, angka honorarium yang diumumkan itu disebutkan sebgai ketentuan untuk sementara. Begitulah cara Horison – sebagai mana disebutkan dalam pengumuman itu – menghargai kerja-kerja para pengarang tidak saja secara spritiual, tapi juga material.

Isi Horison

Yang terlupakan pada Horison edisi awal adalah daftar isi.  Ini tidak penting. Yang penting adalah apakah isi majalah ini di edisi perdananya sesuai dengan visi-misinya? Ada tulisan Goenawan Mohamad (Posisi Sastra Keagamaan Kita Dewasa Ini). Artikel tiga halaman ini mengulas apa yang oleh penulisnya ditanggap sebagai fenomena kelahiran satu genre baru yaitu “sastra keagamaan”. Artikel itu bersambung ke halaman 21, tapi di halaman 21 ternyata sambungannya tidak ada. Eh, rupanya itu sambungan ada di halaman 29.

Lalu ada empat cerita pendek, berturut-turut ditulis oleh Mochtar Lubis (Kuburan Keramat), Ras Siregar (Muntik No. 11), Umar Kayam (Chief Sitting Bull), dan M. Fudoli (Si Kakek dan Burung Dara).

Ada satu esai terjemahan dari Paul Illich (Dimensi yang Hilang dalam Religi). Pada pengantar dijelaskan si penulis adalah seorang gurubesar pada Universitas Harvard di Amerika Serikat, yang terkenal sebagai teolog dan filosof. Soe Hok Djin menulis Esei tentang Esei (begitulah pilihan ejaannya),  dan ada artikel yang dipetik tulisan Wiratmo Soekito dari “Risalah Perjuangan Kebudayaan Kita” dan diberi judul Konsepsi Kita Bukan Hanya Ideologi, Tetapi Idea. 

Pada puisi dimuat karya Bertha Panthouw Doa Seorang Ibu yang dipilih H.B. Jassin untuk diulas di rubrik SOROTAN. Jassin memuji kewajaran sajak ini dan kelainan lekuk liku pikiran yang ditawarkan. Jalan pikiran yang tidak mengikuti pola biasa, jalan pikiran yang bukan klise, tapi segar dalam kelainannya.

Sajak-sajak lain ditulis oleh Surachman R.M (Mengapa  Harus Gelisah), S.K. Insankamil (Kepasrahan), Junus Mukri Adi (Parangtritis), dan Slamet Kirnanto (Di Jalan-Jalan Kota). 

Oh, ya, logo majalah Horison adalah hasil goresan kuas pelukis Zaini. Ia juga bersama pelukis Nashar membuat ilustrasi pada beberapa isi edisi awal majalah itu.

Pertanyaannya, berhasilkah awak redaksi Horison awal itu memenuhi standar, menunaikan niat, yang mereka buat sendiri dengan pilihan-pilihan isi yang mereka tampilkan di edisi perdana? (ya, sabar dululah, nanti kita ulas di sambungan tulisan ini, kalau sempat….) 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s