Tentang 50 Tahun Majalah Horison, dan Majalah Sastra yang Tidak Laku

horison-i-66-coverinternet
Sampul Horison edisi perdana.

 Sastra dan Media (1)

 

JULI 1966, edisi perdana majalah Horison terbit.  Majalah 34 halaman ini menyebut diri sebagai Majalah Sastra.  Sampul depannya menampilkan foto oleh D.A. Peransi yang menampilkan poster Sri Widodo dengan gambar ilustratif tiga anak kecil mendampingi tulisan tangan dengan huruf kapital sajak Taufiq Ismail “Karangan Bunga”.

Mochtar Lubis pada Kata Pengantar menulis: Bersama ini kami perkenalkan kepada Saudara pembaca yang budiman majalah kami ‘HORISON’, sebuah majalah sastra yang memuat cerita pendek, sajak-sajak, esai dan kritik, yang kami harap akan cukup bermutu untuk seterusnya dapat memikat perhatian dan kasih sayang Saudara pada majalah ini.

Juli 2016, lima puluh tahun kemudian, majalah yang sama terbit 196 halaman, ditambah 18 halaman sisipan Kaki Langit. Dan itulah edisi cetak terakhir majalah Horison.

Taufiq Ismail pada pengantar edisi terakhir tersebut menulis: Dua pendiri yang masih ada, Arief Budiman dan Taufiq Ismail memutuskan Horison cetak beralih ke Horison Online, mulai 1 Agustus 2016. Keputusan ini berdasarkan pertimbangan pembiayaan dan kemajuan dunia penerbitan digital. 

Taufiq Ismail di pengantar itu juga mengutip satu pertemuan majalah sastra sedunia di Rotterdam, 2003, yang ia hadiri. Kesimpulan dari pertemyan itu adalah: MAJALAH SASTRA TIDAK LAKU. Ya, ia menulis kalimat itu dalam huruf kapital dan diulang dua kali dalam satu paragraf.

“Semua karya sastra, yaitu novel, cerita pendek, puisi, drama dan esai dalam bentuk buku laris di seluruh dunia, tapi MAJALAH SASTRA TIDAK LAKU. Bahkan di negera maju dan kaya tiras majalah sastra kecil, dan cuma bisa hidup dari subsidi pemerintah,” tulis Taufiq.

Terhentinya edisi cetak Horison tak banyak menjadi perhatian dan tak banyak dibicarakan. Juga di kalangan sastrawan sendiri. Ada selentingan komentar emosional agar pengelolaan majalah legendaris itu diambil alih saja. Tapi pembicaraan itu lewat begitu saja. Saya menangkap kesan Horison tak lagi menjadi majalah yang penting bagi sastrawan Indonesia saat ini, tak seperti peran dan nama besar yang pernah tersemat padanya pada awal dan tahun-tahun gemilangnya.

Sastrawan Remy Sylado dalam makalahnya di Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (2016) di Hotel Bidakara, Jakarta, menyebut majalah Horison tak mengikuti perkembangan jaman.

“…saya ingin memberi saran kepada Badan Bahasa – dipedulikan syukur, tak dihirau itu biasa bagi pegawai pemerintah yang selalu merasa diri paling betul – adalah memulai dengan penerbitan majalah sastra yang mengikuti zaman, bukan seperti Horison yang seperti kerakap tumbuh di batu, kuno, ndeso, masih seperti zaman dijajah Jepang pada 1940-an,” kata Remy.

Taufiq Ismail yang hadir di perhelatan itu harus naik podium membantah pernyataan Remy. Ia bicara panjang sampai harus dihentikan oleh moderator. Ketika Remy menjawab, Taufiq justru sudah meninggalkan ruang musyawarah.  Saya kira itu adegan yang jenaka. Di kursi peserta musyawarah saya tertawa dan bertepuk tangan. Soalnya yang mereka pertengkarkan adalah majalah yang beberapa bulan lalu dinyatakan sudah mati – setidaknya edisi cetaknya – dan oleh pendiri dan pengelola terakhirnya pun dinyatakan sebagai majalah yang tidak laku.

*

Majalah Horison, sebagaimana diantar oleh Mochar Lubis pada edisi perdana diterbitkan sebagai tanggapan atas suasana kebangkitan baru semangat untuk memperjuangkan kembali semua nilai-nilai demokratis dan kemerdekaan manusia, martabat manusia Indonesia. Itu sebabnya yang dipilih adalah nama ‘horison’, kaki langit.

“Maka kami mengajak Saudara-Saudara pembaca supaya kita selalu mengengok dan mencari ‘horison’ baru, dalam arti supaya kita dengan sadar menghapuskan batas-batas pemikiran, penelaahan, kemungkinan-kemungkinan daya kreatif kita di semua bidang penghidupan bangsa ini,” ujar Mochtar Lubis.

Horison mengajak pembaca meninggalkan ruang-ruang sempit yang selama ini mengungkung jiwa dan pikiran, melepaskan diri dari belenggu dan perangkap semboyan-semboyan yang bersifat chauvinis dan xenophobia. Horison mengajak pembaca untuk membuka hati, membuka pikiran pada semua yang baik yang diciptakan oleh Umat Manusia di seluruh dunia ini.

“Kami ingin melihat terpeliharanya dan bertambah suburnya ciri masyarakat pluralistik yang sejak dulu terdapat di negeri kita dan kami ingin melihat terjaminnya ciri itu, di mana terjamin kebebasan perkembangan bakat-bakat dan pribadi golongan-golongan rakyat kita dan perorangan di tanah air kita di dalam bidang-bidang pemikiran, kerohanian, ilmu kesusasteraan, musik, teater, seni lukis, seni tari, olahraga, juga hiburan-hiburan. Kami ingin melihat semua ini didorong berkembang sebaik mungkin, agar di dalam taman penghidupan bangsa kita dapat tumbuh seribu bunga yang molek-molek,” kata Muchtar.

Aroma politik mau tak mau tercium pada niat penerbitan Horison. Majalah ini menolak usaha-usaha untuk membina di negeri kita satu kekuasaan yang monolitik, yang hendak mencap seluruh bangsa kita dalam satu warna yang dibolehkan oleh pihak resmi saja, yang hendak membuat seluruh rakyat jadi beo, yang hendak memutuskan apa yang baik untuk rakyat tanpa persetujuan rakyat kita.

“Dalam perjuangan untuk membina tradisi-tradisi demokratis, penghormatan pada pemerintahan yang berdasarkan hukum, pemuliaan hak-hak Manusia dan membina masyarakat adil dan makmur, maka majalah ‘Horison’ memilih bidang sastra sebagai arena perjuangannya,” tulis Muchtar Lubis.

Saya memberi garis tebal pada kalimat di atas. Inilah sebenarnya inti semangat dan  niat awal penerbitan majalah ini: Sastra adalah arena perjuangan. Majalah Horison adalah senjata. Yang diperjuangakan adalah: pembinaan tradisi demokratis, penghomatan pada pemerintahan yang berdasar hukum, pemuliaan hak-hak Manusia, dan membina masyarakat adil dan makmur.

Kenapa sastra? Karena para pendiri Horison yakin bahwa sastra memegang kedudukan kunci yang tak kalah pentingnya dengan bidang-bidang penghidupan bangsa yang lain. Majalah Horison diharapkan akan dapat mendorongkan kegiatan-kegiatan dan pemikiran-pemikiran kreatif yang penuh kebebasan dan nilai-nilai konstruktif.

Uraian Muchtar di atas saya tandai sebagai misi majalah Horison. Puisi, cerita pendek, esai, dan kritik diharapkan lahir sebagai hasil dari dan menjadi pendorong bagi suburnya pemikiran kreatif yang bebas dengan nilai-nilai konstruktif.

Majalah Horison, kata Muchtar, juga ingin mengembangkan kesadaran yang teguh, bahwa dunia dan umat manusia adalah satu.

Dan kita, ujar Muchtar, mesti mengembangkan hubungan antar bangsa-bangsa dan perseorangan di dunia ini sebanyak mungkin dan seerat mungkin, agar dapat diciptakan kerja sama, pengertian dan saling menghargai yang bertambah-tambah besar dalam segala bidang penghidupan manusia, untuk mencapai persaudaraan dan perdamaian, serta kebahagiaan seluruh Umat Manusia.

Lihatlah, betapa sejak awal, yang diinginkan Horison adalah wawasan yang mendunia. Sastrawan Indonesia harus punya kesadaran bahwa dia adalah bagian dari dunia dan manusia dunia yang satu.  Sastrawan dan karyanya punya peran dan sumbangan penting bagi dunia dan Umat Manusia.

*

Majalah Horison diterbitkan oleh Yayasan Indonesia. Pada edisi perdana disebutkan penanggung jawab adalah Muchtar Lubis. Duduk di dewan redaksi: Muchtar Lubis, H.B. Jassin, Taufiq Ismail, Soe Hok Djin, D.S. Moeljanto.

Majalah ini dijual dengan harga Rp5,- dan agak janggal rasanya, secara resmi disebutkan harga itu sudah termasuk sumbangan Pembangunan Monumen Nasional. Tentu saja tak ada hubungan antara monumen nasional dan urusan sastra. Mungkin ini adalah semacam kompromi para pengelola majalah ini dengan penguasa.

Ada tiga izin yang diperlukan untuk menerbitkan media pada masa itu: Surat Izin Terbit, Surat Izin Pemberian Kertas, dan Surat Izin dari Pepelrada Djaja.  Dua surat pertama didapatkan Horison pada bulan Juni, sebulan sebelum terbit. Sedangkan izin dari Pepelrada Djaja baru keluar tanggal 15 Juli, di tengah bulan pada bulan terbitnya Horison.

Ide menerbitkan Horison, menurut Taufiq Ismail dalam pengantarnya di edisi cetak terakhir, datang dari dia, Soe Hok Djin, dan Ras Siregar. Pada awal tahun 1966 itu, mereka menemui Muchtar Lubis yang sudah sembilan tahun ditahan oleh rezim Sukarno, dan sedang menunggu saat bebas. Mereka bertiga tak ada satupun yang sudah mengenal secara pribadi Muchar Lubis.

Undangan untuk membahas penerbitan majalah sastra yang kemudian bernama Horison itu datang kepada mereka bertiga setelah Muchtar Lubis bebas. Rapat digelar di rumah Muchtar di Jalan Bonang 17.  (bersambung kapan-kapan…)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s