Malam Hutan – Paul Heyse

heyse_fig2
Paul Heyse.

SEBAGAI penghargaan untuk seni sempurna, meresap dengan idealisme, yang telah ia pertunjukkan selama karir produktif yang panjang sebagai penyair liris, dramawan, novelis, dan penulis cerita pendek ternama di dunia. 

Itulah alasan yang disebutkan oleh Akademi Swedia ketika memberi hadiah Nobel Kesusasteraan tahun 1910 kepada Paul Johann Ludwig von Heyse (15 Maret 1830 – 2 April 1914), penulis berkebangsaan dan berbahasa Jerman ini. Dia sangat produktif, dia menulis novel, puisi, 177 cerita pendek dan sekitar 60 naskah drama. Dia juga seorang penerjemah rajin.

Mari kita nikmati satu sajak lirisnya ini:

 

Malam Hutan

Dingin malam hutan, malam ketakjuban
Kusambut engkau dengan ucap seribu salam
Sehabis suara bising, dunia yang sumbang
O manisnya kudengar risikmu sekarang!
Kaki-kaki lelahku pun pulih semimpi mimpi
Meringkuk aku di katil lumutmu
Bagiku ini lagi seperti sekali lagi
Segala siksa nestapaku menjauh pergi.

Ada pandu-nada tak terduga, kacau oleh
sentuhan lagu yang jauh, seperti suara suling
Membawa pikiranku ke tanah yang jauh:
tanah yang indah – Ah! tanah yang gundah.
Hutan malam, gilas-guncang aku perlahan
Halau segala derita yang menyiksaku! Aku
cukup menyusu pada yang suci, yang terberkahi.

Di ruang yang tenang tapi meretak jua,
Hatiku yang cemas, semua akan selesai,
Kedamaian yang tenang,  yang mendekat,
Mengambang sebagai debar-kibas sayap
Sentuh-belai bunyi, merdu siul burung,
Bagai jatuh aku ke dalam tidur yang tenang.
Sekali lagi, segala siksa nestapa: Menjauhlah!
Dan, hatiku yang cemas, selamat malam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s