Ode untuk Astra Asmasubrata

SURGA bahasa itu, Astra, sebenarnya mungkin juga ada
di telapak hati puisi. Kau tekun sekali mencarinya.

Kau penyair yang berbakti, kau anak yang saleh
yang pada suatu petang pamit pergi
mengaji dan tak pernah pulang lagi.

Kita bertemu pada suatu malam di Cikini,
aku bayangkan, mungkin sebaiknya,
kau lepas saja bebat rambutmu, Astra,
agar lebih mudah kucari sisa bau jelaga
dari lampu minyak yang dulu dinyalakan
ibumu untukmu.

“Aku cuma tamat SMP,” katamu dengan kalimat
lengkap dan sempurna, yang kudengar
seperti kau bilang, “Terima kasih negara,
yang telah mengusirku dari sekolah yang
tak pernah kusukai itu.”

Surga bahasa itu, Astra, kau titi jalannya di sebuah
kedai buku, di mana kau bisa menumpang
baca. Aku kira di sana kau menemukan
lagi seorang dirimu, anak yang tak pernah
pulang lagi, setelah dulu pamit pergi mengaji.

Kalau kita bertemu lagi nanti, Astra, aku ingin itu
terjadi ketika kau baru pulang kerja, lalu
kau asyik menulis puisi, mungkin tentang
sabit bulan yang lain dan senyum yang sama
yang masih gagal kau tafsirkan. Saat itu,
akulah yang harus mencium tanganmu, Astra,
ingin ketemukan sisa aroma cat di situ.

Surga bahasa itu, Astra, memang ada di telapak hati puisi
dan kita mempercayainya.

Iklan

Satu pemikiran pada “Ode untuk Astra Asmasubrata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s