Pada Air – Sully Prudhomme

sully-prudhomme
Sully Prudhomme

 

René François Armand (Sully) Prudhomme (16 March 1839 – 6 September 1907) adalah penerima anugerah Nobel Sastra yang pertama, pada 1901. Sully berkebangsaan Prancis. Ia menulis esai dan puisi dalam bahasa Prancis.

Ia menerima penghargaan itu “untuk pengakuan khusus bagi komposisi puitiknya, yang terbukti telah menyumbangkan idealisme yang megah, kesempurnaan artistik, dan perpaduan kualitas yang langka antara hati dan akal.”

Saya menerjemahkan sebuah sajaknya Sur L’aeu. Ada juga teks terjemahan Ricahrd Stokes dalam Bahasa Inggris di situs The LeiderNet Archive ini.

Setiap kali menerjemahkan sebuah sajak, pedoman saya cuma satu: hasilnya harus berupa sajak juga. Itulah mudahnya – dan sekaligus itu juga tantangannya – penerjemahan sajak. Saya toh tidak sedang menerjemahkan panduan menyelematkan nyawa manusia, yang jika salah tentu sangat berbahaya.  Untuk itu, saya merasa punya lisensi untuk ngawur.

 

Pada Air

Aku dengar pesisir sungai dan air, aku dengar
Pamit duka musim semi, dan ia menangis
Atau batu yang tak tahan menahan air mata
Dan getar samar, daun-daun birch yang gemetar

Aku tak melihat ada perahu di sungai itu
Pantai berbunga itu bawa masa lalu, dan aku diam;
Dan pada muka kedalaman rawa, menyentuh mataku
tumpah langit biru, berkelebatan, bagai tirai kelambu

Yang berkelokan dalam tidur, mungkin kau kira itu arus
Aku gamang, tak tahu lagi di mana sungai itu ada:
bunga dicampakkan, kita dalam keraguan pilihan.

Dan seperti bunga itu, segala apa yang mereka harapkan
Datang padaku, membanjir di sungai kehidupanku,
Dalam tak ada yang ada ia tuntun kemana hasratku ada berada.

Pada wujud aslinya sajak ini adalah sebuah soneta yang tertib. Saya mengabaikan rima akhir yang indah pada sajak aslinya. Rasanya toh itu tergantikan dengan dengan bunyi dalam bait yang pada beberapa bagian menampilkan sederetan bunyi yang sama, yang bagi saya cukup bikin saya bahagia.

Yang terasa pada sajaknya adalah keselarasan, kesabaran, dan pada akhirnya adalah keikhlasan.  Sikapnya dalam sajaknya mungkin bisa kita cocokkan dengan satu kutipan kata-katanya yang terkenal: Yang besar itu terasa besar hanya karena kita berlutut. Bangkitlah, berdirilah!

Itu mungkin yang membuatnya menggunakan uang dari Hadiah Nobel Sastra yang ia dapatkan ia gunakan untuk membantu menerbitkan buku-buku puisi para penyair muda, dan membuat semacam penghargaan untuk puisi juga. Ia tak ingin penyair-penyair muda Prancis berlutut di kebesaran namanya.

 

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Pada Air – Sully Prudhomme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s