RUU Perpuisian dan Kepenyairan 2006 (Revisi 2016)

PENGANTAR: Bisakah atau perlukah puisi diatur dengan sebuah peraturan, semacam undang-undang begitu? Buat saya bisa dan perlu. Maka dengan sepenuh keisengan, pada 2006 lalu, saya pun merangkum berbagai pendapat, telaah atas puisi-puisi, dan menyusun semacam peraturan yang secara main-main saya sebut RUU Perpuisisan dan Kepenyairan ini. Kenapa RUU? Karena ini selamanya hanya sebuah rencana, tak akan pernah diundang-undangkan. Saya sebagai penyusun akan terus-menerus meragukan, meninjau, memperbaikinya, dengan kata lain membiarkannya abadi sebagai sebuah rencana. Apa yang saya susun ini paling tidak membantu saya menulis dan terutama menilai, mengapresiasi, dan menganalisa puisi yang saya baca.  Siapa saja boleh tidak setuju, membantah, menertawakan, mencibir ini sebagai sebuah upaya yang sia-sia, dan tentu juga boleh menyusun sendiri RUU-nya sendiri. RUU ini saya  sarikan, saya petik, dan saya rangkum dari naskah-naskah telaah puisi oleh A Teeuw, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Subagio Sastrowardoyo, Rainer Maria Rilke, Goenawan Mohamad, dll.  Sebelum saya revisi lagi sekarang, RUU ini saya cantumkan di buku puisi saya “Luka Mata” (Koekoesan, Depok, 2010).

RUU Perpuisian dan Kepenyairan

Iklan

2 pemikiran pada “RUU Perpuisian dan Kepenyairan 2006 (Revisi 2016)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s