Puisi Esai M Aan Mansyur – Tentang Sajak “Kota: Anak Desa yang Kurang Ajar”

tokojamdiatas
“Toko Jam di atas”, Hasan Aspahani, Jakarta, 2016.

ASRUL Sani menerbitan sebuah esai di Siasat, 1 April 1951, “Surat Singkat tentang Esai”. Sebuah esai tentang Esai. Esai, tulis Asrul, adalah pintu tersembunyi dari kehendak yang hendak mengatakan “beginilah sebenarnya”. Asrul menegaskan bahwa esai adalah sebuah percobaan.

Asrul adalah sedikit antara penulis esai kita yang unggul. Ia menulis pada masa-masa itu dengan masygul. Ia membela esai. ‘Jadi, esai adalah permintaan kerelaan,” ujarnya.

Esai seperti makhluk aneh di antara prosa dan puisi. Esai kala itu belum lagi begitu lama dianggap sebagai bentuk seni dalam seni sastra, tapi bentuk tulisan ini menyedot banyak perhatian.  Sampai-sampai dengan seloroh  Asrul katakan segala ayam-ayam di jalan raya pun telah umum mendengar kata “esai” itu.

Asrul dengan esainya itu juga membela H.B. Jassin, sosok sentral yang  dalam upayanya menyusun mushaf sastra Indonesia, banyak sekali menulis esai, sehingga terkumpul dalam empat jilid buku “Sastra Indonesia dalam Kritik dan Esai”.

“Tak ada gunanya kita mempertengkarkan apakah seorang esais lebih rendah atau lebih tinggi dari penyair atau pengarang roman (perasaan ini mungkin timbul, karena orang pernah mengatakan bahwa pengeritik sebetulnya adalah seniman yang kandas,” kata Asrul.

Saya teringat tulisan Asrul Sani tersebut ketika membaca sajak M. Aan Mansyur “kota: anak desa yang kurang ajar” (ditayangkan di blog pribadi si penyair tahun 2007, lalu terbit di buku “sudahkah kau memeluk dirimu hari ini?“, Motion Publishing, 2012). Saya tampilkan sepenuhnya sajak tersebut:

 

Kota adalah anak desa yang amat kurang ajar.
Tidak satu pun petuah yang dia mau dengar.
Dia kira bisa dewasa dengan membakar lembar
buku-buku tua dan hanya membaca surat kabar.

Kota menikah dengan orang asing lalu lahir
anak-anak yang setengah mati pandir dan kikir.
Dia mendirikan banyak bangunan tanpa pikir,
mall, hotel, bioskop, restoran dan lahan parkir.

Kota mengajak orangtuanya datang jadi pembantu
dengan mengirimkan hiburan-hiburan ke kampung
televisi tak pakai antena atau sinyal telepon genggam.
Katanya, semua itu sekadar bayaran atas hutangnya.

Kota menyuruh anak-anaknya pergi ke kampung
membangun villa dan membuka usaha tambang.
Orang-orang asing datang berwisata dan pulang
membawa bertruk-truk emas, minyak dan uang.

Kota sedang berpesta pora makan-minum sepuasnya
hingga mabuk di atas perut orangtuanya yang sabar.
Hanya begitu caranya menghibur diri sebab dia sadar
semakin hari semakin besar dan subur rasa sesalnya.

Menurut saya inilah yang bisa disebut puisi esai. Kenapa esai? Karena dalam sajak ini Aan menyampaikan pendapat pribadinya tentang kota dan tentang hubungannya dengan desa. Aan – menurut pendapat Asrul tentang esai – sedang meyakinkan kita untuk ikhlas sependapat dengannya bahwa “beginilah sebenarnya” hubungan kota dan desa.

Sementara itu dengan meyakinkan Aan juga menunjukkan pada kita bahwa bentuk tulisan yang ia hasilkan ini adalah puisi. Bukan hanya karena bentuk  kuatrinnya yang tertib, bukan karena rima dalam sajak ini ia jaga ketat di beberapa bait lalu ia biarkan saja rima itu kacau di bait lain, tapi juga karena simile dan metafora yang ia bangun kuat sekali. Kita bisa memahami, sambil menikmati kesegaran bahasanya, dan kemudian ikut gelisah dengan ketidakberesan yang ia potret itu.

Saya mencoba meruntuhkan kepuisian puisi ini dengan membayangkan ia dalam baris-baris prosa. Puisi tentu boleh saja mengambil bentuk seperti itu, tapi puisi Aan ini tetap sebagai puisi, apapun bentuknya, karena kekuatan metafora yang dia bangun dengan dan sambil menyusun imaji yang dibutuhkan dengan peristiwa-peristiwa aktual yang akrab dengan wacana kita hari-hari ini: membangun villa dan membuka usaha tambang; Orang-orang asing datang berwisata dan pulang membawa bertruk-truk emas, minyak dan uang; Kota mengajak orangtuanya datang jadi pembantu, mengirimkan hiburan-hiburan ke kampung; Kota menikah dengan orang asing lalu lahir anak-anak yang setengah mati pandir dan kikir.

Kerja penyair adalah menulis puisi. Dalam puisi bisa terkandung macam-macam, juga pendapat tentang “bagaimana seharusnya” sesuatu kita maknai. Pendapat itu mungkin sangat bisa dituangkan dalam esai, tapi kalau itu muncul dalam puisi, tanpa menjadi beban puisi itu sendiri, kita harus beri harga yang pantas pada upaya dan pencapaian yang demikian.

Penyair tidak perlu meyakinkan orang lain untuk menerima bahwa yang ia tulis adalah sebuah puisi-esai atau apapun sebutannya, seakan-akan ini adalah sebuah penemuan baru.  Lho, memangnya dalam puisi tidak boleh ada eksperimen baru? Tiap puisi adalah hasil sebuah eksperimen. Setiap kali mulai menulis puisi, seorang penyair yang baik sesungguhnya memulai satu eksperimen. Sebagai sebuah eksperimen, puisi bisa gagal, bisa juga berhasil. Eksperimen M. Aan Mansyur pada sajaknya di atas adalah sebuah eksperimen yang berhasil. ***

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s