Reruntukan Kepedihan – Bob Dylan

bob
Bob Dylan.

PENGANTAR: Tak banyak lagu Bob Dylan yang pernah saya dengar. Ada beberapa lagu saya simpan di gawai saya.  Tentu saja yang paling terkenal Like a Rolling Stone,  Blowin’ in The Wind, Knockin’ Heaven’s Door, Mr. Tamborine Man, Political World, It’s Alright, Ma (I am only Bleeding) dan beberapa judul lain, termasuk yang terakhir sering saya dengarkan untuk sebuah proyek penulisan fiksi saya, yakni: One More Cup of Coffee.  Saya terpikat pada lirik lagu-lagunya. Lirik yang saya kira bisa dinikmati tanpa harus mendengarkannya sebagai lagu.  Ketika Akademi Swedia mengumumkan namanya sebagai pemenang Hadiah Nobel Sastra tahun ini saya penasaran untuk menerjemahkan satu liriknya yang menurut saya sangat kuat: Desolation Row. Lirik ini dikenal sebagai karya Dylan yang paling ambisius dan seorang penulis menilainya mencapai satu taraf yang tinggi dalam lirisisme puitikal.

Reruntukan Kepedihan
Bob Dylan

Mereka jual kartupos mayat digantung
Mereka baluri paspor dengan warna coklat
Di salon kecantikan ramai bersolek para pelaut
Dan ada sirkus main di kota
Ada komisaris buta
Mereka bikin dia kerasukan
Satu tangan terikat ketat pada tali pejalan
Tangan lainnya di saku celana
Dan pasukan yang rusuh itu gelisah
Mereka butuh satu alamat untuk lari
Seperti wanita bangsawan malam ini aku tengok keluar
ke Reruntukan Kepedihan.

Cinderella, tampaknya mudah sekali ya hidupnya
“Perlu seseorang untuk mengenal seseorang,” dia tersenyum
Sembunyikan tangan di saku belakang
Bergaya ala Bette Davis
Dan ketika Romeo, dia mengerang,
“Kau milik-Ku saya yakin itu.”
Dan ada yang berkata, “Kau berada di tempat yang salah, teman
Lebih baik kau pergi saja.”
Satu-satunya suara yang tersisa
Setelah pergi ambulans itu
Apakah itu Cinderella yang menyapu
di Reruntukan Kepedihan

Kini bulan nyaris tersembunyi
Bintang-bintang pun mulai bersembunyi
Perempuan peramal
telah keluarkan semua barangnya
Semua kecuali Kain dan Habel
Dan si bungkuk dari Notre Dame
Semua orang sedang memadu cinta
Yang lain berharap turun hujan
Dan Samaria Budiman, dia berpakaian
Bersiap-siap untuk pertunjukan
Akan ada karnaval malam ini
di Reruntukan Kepedihan.

Ophelia, dia ada di bawah jendela
Untuknya aku merasa sedemikian takut
Pada ulang tahun keduapuluhduanya
Dia sudah menjadi perawan tua
Baginya, kematian itu lumayan romantis
Dia memakai rompi besi
profesinya adalah agamanya
dosanya adalah hidup-tanpa-kehidupan-nya
Dan meskipun matanya tetap menatap pada
pelangi besar Nuh
Dia habiskan waktunya mengintip
ke Reruntukan Kepedihan.

Einstein, menyaru jadi Robin Hood
Ada kenangan di batang pohon
Lewat jalan ini satu jam yang lalu
Dengan temannya, seorang biksu yang cemburu
Sekarang, ia tampak begitu rapi dan menakutkan
Saat ia remuk-remas sebungkus sigaret
Lalu ia pergi mengendusi talang air
Dan membaca alfabet
Kau tidak akan pernah mengira bakal melihatnya
Dulu sekali, dia sangat terkenal
Jago memainkan biola listrik
pada Reruntukan Kepedihan.

Dr. Filth, dia menjaga dunianya
dalam secawan cangkir kulit
kecuali pasiennya, tak peduli lelaki atau perempuan
Mereka mencoba meledakkannya
Kini perawatnya, beberapa pecundang lokal
Dia bertanggungjawab atas lubang sianida
Dan dia juga menyimpan kartu bertuliskan
“Kasih Kasihani Jiwa-Nya”
Mereka semua bermain dengan peluit recehan
Kau bisa dengar mereka meniup
Jika kau sandarkan kepala cukup jauh di luar
dari Reruntukan Kepedihan

Di seberang jalan mereka pasang tirai
Mereka siapkan satu pesta
The Phantom of the Opera
Dalam gambaran sempurna tentang seorang imam
Mereka menyendok-suapi Casanova
Agar dia merasa lebih terjaga
Lalu mereka akan membunuhnya dengan kepercayaan diri
Setelah meracuni dia dengan kata-kata
Dan Phantom itu meneriaki gadis kurus
“Keluar saja dari sini jika kau tidak tahu”
Casanova hanya dihukum untuk pergi
ke Reruntukan Kepedihan.

Pada tengah malam semua agen-agen itu
Dan awak kerja yang supermanusia
Keluar dan mengumpulkan semua orang
Yang tahu lebih dari yang mereka lakukan
Kemudian mereka membawa mereka ke pabrik
Dimana mesin serangan-jantung
Diikat di bahu mereka
Dan kemudian minyak tanah
Dibawa turun dari kastil-kastil
Oleh orang-orang asuransi yang pergi
Memeriksa bahwa tidak ada orang yang melarikan diri
untuk Reruntukan Kepedihan.

Segala puji bagi Neptunus-nya Nero
Titanic yang berlayar di kala fajar
berteriaklah semua orang
“Pada sisi mana kau berada?”
Lihat, Ezra Pound dan T. S. Eliot
berkelahi di menara kapten
Sementara penyanyi kalipso menertawakan mereka
Dan nelayan memegang bunga
Di antara dua jendela laut
Di mana melintas putri duyung yang indah
Dan tak seorang pun harus berpikir terlalu banyak
tentang Reruntukan Kepedihan.

Ya, saya menerima suratmu kemarin
Nyaris bersamaan ketika kenop pintu pecah
Bila kau bertanya bagaimana saya lakukan itu
atau itu hanya semacam lelucon?
Semua orang yang kau sebutkan ini
Ya, saya tahu mereka, mereka sedikit timpang
Aku harus mengingat lagi wajah-wajah mereka
Dan menamai mereka nama yang lain
Saat ini aku tidak bisa membaca terlalu baik
Jangan kirimi saya surat, jangan kirim lagi
Tidak, kecuali kau kirim surat-surat itu
dari Reruntukan Kepedihan.

Iklan

Satu pemikiran pada “Reruntukan Kepedihan – Bob Dylan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s